Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease(MASLD)–sebelumnya dikenal sebagai NAFLD atau perlemakan hati– telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang utama di Asia-Pasifik.
Penyakit ini tidak hanya merusak organ hati (sirosis dan kanker), tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung, ginjal, dan diabetes.
Kondisi Mencemaskan karena Tren Meningkat Tajam
Pertumbuhan Tak Terbendung: Selama tiga dekade terakhir, prevalensi MASLD meningkat di seluruh wilayah Asia-Pasifik, dengan pertumbuhan tertinggi di Australasia (29%) dan Asia Timur (27%).
Beban Tertinggi: Pada tahun 2023, wilayah Oseania, Asia Tengah, dan Asia Tenggara mencatatkan angka prevalensi tertinggi, masing-masing melebihi 15.000 kasus per 100.000 penduduk.
Kematian dan Cacat: Asia Tengah mencatat tingkat kematian dan tahun hidup dengan disabilitas (DALY) tertinggi, menunjukkan konsentrasi penyakit stadium lanjut yang parah di wilayah tersebut.
Pergeseran Demografis: Ancaman pada Usia Muda
Target Generasi Produktif: Temuan paling mengkhawatirkan adalah insiden tertinggi kini terjadi pada individu usia 20–24 tahun.
Anak-anak dan Remaja: Terjadi peningkatan signifikan kasus pada anak-anak akibat obesitas dini, pola makan buruk (makanan olahan dan minuman manis), dan gaya hidup kurang gerak akibat urbanisasi.
Faktor Pendorong Utama
Asia Timur & Tenggara: Pertumbuhan beban penyakit didorong oleh pertumbuhan populasi dan perubahan epidemiologis (gaya hidup)
Asia Selatan: Beban penyakit sangat dipengaruhi oleh penuaan populasi.
Ekonomi & SDI: Terdapat pola ”U-terbalik”; beban meningkat seiring perkembangan ekonomi di wilayah berpendapatan rendah-menengah akibat transisi gaya hidup, namun cenderung menurun di wilayah berpendapatan tinggi yang memiliki sistem pencegahan lebih baik.
Rekomendasi Kebijakan Kesehatan Publik
MASLD bukan sekadar penyakit hati, melainkan gangguan metabolik sistemik yang menuntut aksi terkoordinasi.
1. Dini & Sekolah: Mengingat pergeseran ke usia muda, pemerintah harus memprioritaskan program nutrisi sekolah, promosi aktivitas fisik, dan skrining metabolik rutin untuk anak dan remaja.
2. Penguatan Skrining Non-Invasif: Mengadopsi alat diagnostik murah dan efektif seperti indeks *Fibrosis-4* (FIB-4) dan elastografi dalam sistem kesehatan primer untuk deteksi dini fibrosis hati.
3. Integrasi Layanan Penyakit Tidak Menular (PTM): Manajemen MASLD harus disatukan dengan kontrol faktor risiko kardio metabolik lainnya seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi.
4. Kebijakan Ekosistem Makanan: Mengatur konsumsi makanan olahan dan minuman berpemanis melalui kebijakan fiskal atau edukasi publik yang agresif guna menekan laju insiden di wilayah perkotaan.
Tanpa tindakan segera, beban ekonomi dan kesehatan akibat MASLD akan terus meningkat seiring penuaan populasi dan gaya hidup yang tidak sehat, mengancam produktivitas nasional di masa depan.
MASLD menjadi beban yang sangat tinggi di Asia-Pasifik karena interaksi kompleks antara faktor demografi, ekonomi, dan gaya hidup.
Namun, penting untuk dicatat kita perlu membandingkan total angka beban MASLD dengan penyakit jantung atau diabetes secara kompetitif; sebaliknya, artikel ini menjelaskan bahwa ketiga penyakit tersebut saling berkaitan erat. Mengapa MASLD menjadi beban yang begitu berat bagisistem kesehatan:
Mengapa MASLD Menjadi Beban Tertinggi?
Penyebaran yang Masif (Prevalensi Tinggi): Di beberapa wilayah seperti Oseania, Asia Tengah, dan Asia Tenggara, prevalensinya telah melampaui 15.000 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2023.
Pergeseran ke Usia Produktif: Insiden tertinggi sekarang ditemukan pada kelompok usia 20–24 tahun. Hal ini menciptakan beban ekonomi jangka panjang karena penderita akan menghadapi risiko komplikasi hati kronis selama sisa hidup mereka.
Transisi Gaya Hidup: Urbanisasi cepat dan pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan perubahan pola makan ke arah makanan olahan dan minuman manis, yang memicu lonjakan kasus baru secara cepat.
Faktor Penuaan: Di wilayah seperti Asia Selatan, penuaan populasi menjadi pendorong utama meningkatnya jumlah penderita, karena risiko kerusakan hati meningkat seiring bertambahnya usia.
Apakah Mengalahkan Penyakit Jantung dan Diabetes?
Saya tidak menyatakan bahwa MASLD mengalahkan jantung atau diabetes dalam hal jumlah beban, melainkan memposisikannya sebagai bagian dari satu kesatuan sindrom metabolik.
Hubungan Simbiotik: MASLD berkembang secara paralel dengan peningkatan pesat obesitas dan diabetes tipe 2.
Komplikasi Sistemik: Beban MASLD dianggap sangat berat justru karena penyakit ini menjadi pintu masuk atau memperparah kondisi kardiovaskular (jantung) dan renal (ginjal).
Risiko Kematian: Penderita MASLD memiliki risiko tinggi mengalami kejadian liver kronis sekaligus komplikasi jantung secara bersamaan, sehingga beban kesehatannya bersifat multiplikatif, bukan terpisah.
Daripada membandingkan mana yang lebih besar, argumen yang lebih kuat untuk pemerintah adalah bahwa menangani MASLD berarti menangani jantung dan diabetes sekaligus. Jika MASLD tidak dideteksi dini (misalnya pada usia 20-an), maka beban penyakit jantung dan diabetes di masa depan akan meledak karena keterkaitan sistemik antar penyakit tersebut.
Faktor-faktor pendukung meningkatnya beban penyakit MASLD di kawasan Asia-Pasifik bersifat multifaktoral, mencakup aspek demografi, ekonomi, hingga gaya hidup.
Faktor Demografi dan Epidemiologi
Penuaan Populasi (Ageing): Menjadi pendorong dominan di Asia Selatan. Populasi yang menua memiliki risiko penyakit lebih tinggi.
Pertumbuhan Populasi: Peningkatan jumlah penduduk secara keseluruhan berkontribusi langsung pada naiknya jumlah total kasus, terutama di Asia Timur.
Pergeseran Usia Muda: Peningkatan obesitas pada anak dan remaja akibat pola makan tinggi kalori dan rendah nutrisi memicu kemunculan penyakit di usia dini.
Transisi Ekonomi dan Urbanisasi
Urbanisasi yang Cepat: Di wilayah Asia Selatan dan Tenggara, perpindahan ke kota besar mengubah struktur kehidupan masyarakat menjadi lebih pasif.
Peningkatan Pendapatan: Di wilayah dengan indeks sosio-demografis rendah ke menengah, peningkatan ekonomi justru diikuti dengan kenaikan prevalensi MASLD karena perubahan gaya hidup.
Gaya Hidup Sedenter: Berkurangnya aktivitas fisik akibat tuntutan pekerjaan dan lingkungan perkotaan yang padat.
Faktor Pola Makan dan Nutrisi
Transisi Diet: Pergeseran konsumsi masyarakat ke arah makanano lahan (processed foods)dan makanan tinggi lemak.
Minuman Manis: Meningkatnya konsumsi minuman berpemanis gula(sugar-sweetened beverages) yang menjadi pemicu utama gangguan metabolik.
Kerawanan Pangan: Ketidakpastian akses terhadap makanan sehat juga dikaitkan dengan risiko MASLD yang lebih tinggi.
Kesenjangan Sistem Kesehatan
Kapasitas Diagnostik: Terbatasnya akses ke fasilitas kesehatan dan alat skrining di negara berpendapatan rendah menengah menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini
Kurangnya Kesadaran Publik: MASLD sering kali tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), sehingga sering diabaikan hingga mencapai stadium lanjut.
Infrastruktur Kesehatan: Perbedaan kualitas layanan kesehatan antarnegara memengaruhi efektivitas strategi pencegahan dan manajemen penyakit.
Pandu Riono, Ahli Epidemiologi Universita Indonesia





Comments are closed.