
Kisah Cinta Terlarang Bunga Mandoe, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Magnific AI
Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang menceritakan tentang kisah cinta terlarang Bunga Mandoe. Cerita rakyat ini menceritakan tentang seorang gadis yang sudah menikah, tetapi jatuh hati pada pemuda lainnya.
Namun ada situasi yang membuat mengapa hal tersebut bisa terjadi. Lantas bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?
Kisah Cinta Terlarang Bunga Mandoe, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dinukil GNFI dari buku Nasruddin yang berjudul Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang gadis yang cantik jelita. Gadis tersebut bernama Bunga Mandoe.
Dirinya merupakan keturunan seorang raja di Duri. Setelah dewasa, Bunga Mandoe menikah dengan seorang pangeran lainnya bernama Cinangke Waleq.
Pernikahan mereka berlangsung dengan baik. Namun sayang, ada satu sifat buruk yang dimiliki oleh Cinangke Waleq.
Suami Bunga Mandoe itu memiliki kegemaran sabung ayam. Hal ini membuat dirinya sering meninggalkan Bunga Mandoe seorang diri di rumah.
Pada suatu waktu, Cinangke Waleq pergi ke Toraja untuk sabung ayam. Dia meninggalkan seekor burung nuri yang bertugas untuk menjaga rumah dan memperhatikan gerak-gerik Bunga Mandoe.
Akhirnya Bunga Mandoe kembali tinggal di rumah seorang diri. Dia melakukan berbagai hal untuk mengisi waktu kesendiriannya.
Beberapa waktu kemudian, ada seorang anak raja yang sangat kaya raya bermain gasing di pekarangan rumah Bunga Mandoe. Anak raja tersebut bernama Jaggu Rara.
Pemuda ini memiliki paras yang tampan dan rupawan. Tanpa sadar, Bunga Mandoe sering memperhatikan Jaggu Rara bermain gasing di depan rumahnya.
Lama kelamaan, Bunga Mandoe jatuh hati pada pemuda tersebut. Dia pun mencari akal agar bisa berkomunikasi langsung dengan Jaggu Rara.
Akhirnya muncul sebuah ide di pikiran Bunga Mandoe. Dirinya langsung melepaskan kunciran rambutnya.
Rambut Bunga Mandoe yang panjang langsung terurai saat itu juga. Dengan rambut ini, dia pun kemudian membiarkannya terjuntai hingga ke pekarangan rumah.
Tanpa sadar gasing Jaggu Rara melilit rambut Bunga Mandoe. Dengan sigap Bunga Mandoe langsung menarik rambutnya ke dalam rumah.
Dia pun menyembunyikan gasing itu di bawah kasurnya. Jagga Rara pun berusaha meminta gasing tersebut dengan sopan.
Namun Bunga Mandoe selalu punya cara untuk mengelak. Dia hanya ingin Jagga Rara masuk ke dalam rumahnya dan berbincang bersama.
Lama kelamaan benih cinta juga muncul dalam hati Jagga Rara. Dia pun mulai jatuh hati pada Bunga Mandoe.
Namun dia tetap menghormati Bunga Mandoe yang masih berstatus sebagai istri orang. Oleh sebab itu, dia tetap menyimpan perasaan tersebut rapat-rapat di dalam hatinya.
Ternyata gerak gerik kedua sejoli ini selalu diperhatikan oleh burung nuri. Dirinya merasa jika Bunga Mandoe sudah melakukan perbuatan di luar batas.
Burung nuri tersebut kemudian terbang menuju Toraja. Di sana dia menemui Cinangke Waleq dan melaporkan jika Bunga Mandoe sudah mendua di rumah.
Cinangke Waleq tentu naik pitam mendengar kabar tersebut. Dirinya langsung meninggalkan arena sabung ayam dan kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, dia langsung menemui Bunga Mandoe dan menanyakan maksud perbuatannya. Bunga Mandoe akhirnya menjelaskan jika dia memang sudah jatuh hati dengan Jaggu Rara dan ingin menikahinya.
Cinangke Waleq tidak terima dengan jawaban tersebut. Dia pun kemudian menemui Jaggu Rara dan mengajaknya untuk berduel saat itu juga.
Perkelahian antara mereka berdua akhirnya tidak terelakkan. Kedua pemuda tersebut saling adu kesaktian yang mereka miliki saat itu juga.
Namun kesaktian Jaggu Rara ternyata lebih tinggi. Dengan semua upaya, akhirnya Jaggu Rara berhasil memenangkan pertarungan tersebut dan Cinangke Waleq menemui ajalnya di sana.
Akhirnya Jaggu Rara datang menemui Bunga Mandoe. Kedua sejoli ini akhirnya menikah dan hidup bahagia bersama sejak saat itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor



Comments are closed.