Paris adalah salah satu kota yang rasanya nggak pernah membosankan. Sudah empat kali ke sini, tetap saja senang. Apalagi kali ini dalam rombongan ada beberapa teman yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Paris. Jadi tentu saja, Eiffel Tower wajib masuk itinerary.
Saya sendiri punya kebiasaan setiap kali mengunjungi tempat yang sama: sebisa mungkin harus ada sesuatu yang berbeda. Entah itu sudut pandangnya, tempat yang dikunjungi, atau cara menikmatinya.
Pertama kali ke Paris, saya naik tangga ke Eiffel. Waktu itu antrean tangga jauh lebih sepi dan saya memang sedang happy banget karena baru pertama kali melihat Eiffel secara langsung. Saat itu saya cuma berdua sama adek.
Kunjungan kedua malah beda lagi. Cuma goleran di rumput taman dekat Eiffel. Nggak ada yang mau naik ke atas.
Ketiga, baru naik lift ke Eiffel dan menikmati suasana malam ketika menara itu bermandikan cahaya lampu. Yang ini bareng paksu dan anak-anak
Keempat, saya memilih menikmati Eiffel dari Trocadero pada malam hari. Besoknya, kami datang lagi ke Trocadero dan jalan pelan-pelan menuju kaki Eiffel, sambil menikmati suasana Paris.
Bahkan kami sempat piknik menikmati bekal makan siang di taman dekat Eiffel. Kapan lagi piknik di Paris, ye kan?
Sebenarnya saya juga ingin mencoba naik perahu menyusuri Sungai Seine pada malam hari. Tapi karena waktu mepet, rencana itu akhirnya batal.
Nggak apa-apa. Berarti masih ada alasan untuk kembali ke Paris.
Kalau suatu hari ke Paris lagi, saya mau mencari spot foto yang selama ini belum pernah saya datangi: jalan kecil di antara dua gedung dengan latar belakang Menara Eiffel. Katanya salah satu spot yang Instagrammable banget. Jadi, Eiffel lagi? Ya, Eiffel lagi. Karena ternyata selalu ada cara baru untuk memotretnya.
Kami terbang ke Paris dari Milan. Awalnya saya sudah berniat naik kereta dari Bandara Charles de Gaulle menuju kota. Tapi namanya juga saya, sambil mengantri beli tiket kereta, tetap saja cek harga transportasi lain. Saya buka Uber dan ternyata tarifnya justru lebih murah kalau kami naik kendaraan online. Akhirnya rencana naik kereta dibatalkan padahal sudah sampai di depan loket dan sempat membeli kartunya. Tapi kata petugasnya, kartu yang sudah terlanjur dibeli nggak sia-sia karena masih bisa dipakai untuk transportasi dalam kota, sisa di top up saja.
Sebenarnya saya agak ilfeel dengan Uber di Paris. Saya pikir tarifnya bakal semahal Uber di Milan. Di Milan, kami berenam naik van menuju bandara dan tarifnya sekitar Rp3 juta sekali jalan. Sementara di Paris, tarifnya ternyata sekitar 50 persen lebih murah. Lumayan banget untuk rombongan. Jadi kali ini saya rela meninggalkan kereta dan memilih taxi online.
Sore itu kami cuma menaruh koper di apartemen, lalu langsung bergegas keluar. Tujuan pertama tentu saja mencari makan dan menuju Trocadero. Kami naik metro dan akhirnya sampai juga di kawasan Trocadero. Dari sini Eiffel terlihat dari kejauhan dengan kerlap kerlip lampu yang cantik.
Hujan rintik-rintik sebenarnya turun sore itu. Tapi namanya sudah sampai Paris, masa hujan sedikit langsung balik ke apartemen? Kami tetap jalan.
Di sekitar apartemen tempat kami menginap juga ada beberapa pilihan makanan halal, jadi untuk makan malam kami nggak perlu jauh-jauh. Yang penting perut aman dulu sebelum lanjut eksplorasi.
Untuk akomodasi, kali ini saya menyewa apartemen tiga kamar untuk 12 orang. Totalnya Rp15,8 juta untuk dua malam. Ada tiga kamar tidur, masing-masing dengan tempat tidur queen. Kemudian ada tiga sofa bed yang bisa digunakan untuk enam orang: satu sofa bed di ruang keluarga dan dua lagi di basement, bergabung dengan area mesin cuci. Apartemennya sebenarnya bagus dan nyaman, tetapi menurut saya kapasitas idealnya sekitar 8–10 orang. Untuk 12 orang memang agak dipaksakan. Tempat tidurnya cukup, tetapi kalau sofa bed di basement sudah dibuka, ruangnya menjadi sangat terbatas. Koper pun nggak bisa dibawa turun karena sudah nggak ada space.
Tapi ada satu keuntungan besar menginap di apartemen: ada dapur. Ini penting banget buat rombongan kami. Kami bisa menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang sendiri. Lumayan menghemat biaya makan di Paris yang tentu saja nggak murah. Kami juga berusaha mengurangi “ransum” makanan yang dibawa dari Indonesia. Namanya orang Indonesia traveling ramai-ramai, tetap saja ada yang bawa beras porang instan, abon, teri, tempe, sambal udang kering, Indomie dan berbagai bekal lainnya. Jadi walaupun sedang di Paris, dapur apartemen tetap punya aroma Indonesia. 😆
Kami kemudian mulai eksplorasi Paris.
Dari apartemen, kami berjalan kaki sekitar 20 menit menuju Sacré-Cœur. Jalan santai sambil sesekali berhenti untuk foto-foto. Nggak perlu buru-buru, karena kali ini saya ingin menikmati Paris dengan tempo yang lebih santai. Suasananya juga asik, berbeda dengan 10 tahun yang lalu dimana saat saya kesini kok rasanya kurang nyaman karena daerah ini terkenal kurang aman dan juga banyak kulit hitam disini.
Dari Sacré-Cœur kami melanjutkan perjalanan ke Arc de Triomphe.
Setelah itu kembali lagi ke kawasan Trocadero, lalu berjalan pelan-pelan menuju Eiffel Tower. Kali ini bukan sekadar mengejar foto, tetapi benar-benar menikmati suasananya. Kami sempat makan bekal di taman dekat Eiffel.
Di perjalanan, kami juga menemukan live music. Bahkan ada pasangan yang sedang melakukan prosesi lamaran. So sweet!
Paris memang seperti itu. Kadang bukan tempat wisatanya yang membuat perjalanan berkesan, tetapi kejadian-kejadian kecil yang kita temui di sepanjang jalan.
Dari Eiffel, kami kemudian naik bus menuju Louvre. Setelah itu lanjut ke rooftop Galeries Lafayette untuk melihat pemandangan kota dari atas. Hari yang cukup panjang, tapi masih belum selesai.
Tujuan terakhir adalah La Vallée Village Premium Outlet. Kalau dibandingkan sekitar 10 tahun lalu ketika saya pernah ke sini, kali ini tempatnya terasa berbeda. Entah karena saya sudah pernah datang sebelumnya atau memang suasananya sedang sepi, tapi menurut saya La Vallée Village kali ini nggak semenarik dulu. Teman-teman yang nggak menemukan sesuatu yang menarik akhirnya memilih ngopi di mal Val d’Europe yang memang kami lewati dalam perjalanan menuju La Vallée Village.
Setelah itu kami pulang. Dan seperti biasa, bagian pulang ini justru menjadi drama kecil. Kami sempat nyasar ketika menyambung metro. Ternyata jalur metronya tidak tersambung dalam satu stasiun seperti yang kami bayangkan. Kami harus keluar dari satu stasiun dan berjalan menuju stasiun lainnya untuk melanjutkan perjalanan. Jadilah kami bolak-balik seperti perangko.
Saya tahu semuanya sudah capek dan sebenarnya sudah ingin segera makan lalu sampai di apartemen. Tapi yang membuat saya lega, teman-teman tetap sabar dan nggak panik. Akhirnya kami menemukan jalur yang benar. Sebelum pulang ke apartemen, kami mampir makan malam di restoran Turki dekat apartemen.
Jam 6 pagi kami sudah menuju Bandara Beauvais untuk penerbangan berikutnya ke Bucharest. Taksi sudah kami pesan sebelumnya melalui Booking.com.
Paris pun selesai. Paris juga tentang bagaimana kita menikmati kota yang sama dengan cara yang berbeda.
Empat kali datang ke kota ini, ternyata saya belum juga bosan.




Comments are closed.