Piala Oscar tidak selalu menjadi jaminan bahwa Hollywood akan membuka semua pintu. Setidaknya itulah yang sedang dialami Susan Sarandon.
Aktris veteran berusia 79 tahun itu mengatakan dukungannya terhadap Palestina masih membawa konsekuensi profesional. Sejumlah proyek film, menurut Sarandon, tetap batal karena industri perfilman Amerika Serikat enggan mempekerjakannya.
Pernyataan itu disampaikan Sarandon di Festival Film Venesia ketika ia mempromosikan film terbarunya, The Echo Chamber. Di tengah karpet merah dan sorotan kamera, Sarandon justru berbicara lantang tentang sesuatu yang jauh lebih personal: harga yang harus dibayarnya karena memilih bersuara mengenai Palestina.
“Saya pikir narasinya telah berubah sepenuhnya,” kata Sarandon, merujuk pada perubahan pandangan mengenai sejarah Palestina, hubungan Zionisme dengan Amerika Serikat, serta dukungan Washington kepada Israel.
Menurut dia, semakin banyak orang mulai memahami besarnya dukungan politik dan finansial Amerika Serikat kepada Israel.
Namun, perubahan opini publik tersebut, kata Sarandon, belum sepenuhnya mengubah sikap industri film terhadap dirinya.
“Beberapa film saya masih dibatalkan karena ada agensi yang melarang orang untuk mempekerjakan saya,” ujarnya.
Sarandon menyadari bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari struktur kekuasaan yang lebih besar di industri hiburan. Tetapi ia mengaku merasa lebih diterima di luar Amerika Serikat.
“Terutama di tingkat internasional, saya merasa diterima,” katanya.
Dari Oscar hingga Aktivisme
Sarandon bukan nama baru di dunia Hollywood. Kariernya membentang selama lebih dari lima dekade dan melahirkan sejumlah film yang kemudian menjadi bagian dari sejarah sinema Amerika.
Ia memenangkan Academy Award untuk kategori Aktris Terbaik melalui Dead Man Walking (1995). Namanya juga dikenal melalui The Rocky Horror Picture Show (1975), Bull Durham (1988), serta Thelma & Louise (1991).
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Sarandon semakin dikenal bukan hanya karena film-filmnya, tetapi juga karena aktivitas politik dan kemanusiaannya.
Sikapnya terhadap Palestina menjadi salah satu titik paling kontroversial dalam perjalanan publiknya.
Pada 2023, sekitar sebulan setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, Sarandon menghadiri demonstrasi pro-Palestina di New York. Dalam aksi tersebut, ia menyampaikan pernyataan mengenai ketakutan yang dirasakan komunitas Yahudi di Amerika Serikat serta pengalaman Muslim di negara tersebut.
Tidak lama kemudian, United Talent Agency (UTA), agensi bakat yang sebelumnya mewakilinya, memutus hubungan dengan Sarandon.
Peristiwa itu menjadi salah satu konsekuensi paling nyata dari aktivitas politiknya. Sarandon tetap mempertahankan sikapnya dan tidak berhenti berbicara mengenai Palestina.
Kini, hampir tiga tahun setelah kontroversi tersebut, ia mengatakan dampaknya terhadap karier masih terasa.
Hollywood dan Politik yang Tidak Pernah Benar-Benar Terpisah
Kasus Sarandon memperlihatkan satu paradoks lama di Hollywood. Industri film kerap menjadi ruang bagi kebebasan berekspresi, tetapi di sisi lain, kebebasan itu tidak selalu datang tanpa konsekuensi.
Sarandon mengatakan perubahan pandangan masyarakat terhadap konflik Israel-Palestina semakin terlihat. Sejumlah survei di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap Israel mengalami perubahan sejak perang Gaza dimulai pada 2023, sementara simpati terhadap Palestina meningkat.
Namun, perubahan opini publik tidak otomatis berarti perubahan sikap di kalangan studio dan perusahaan hiburan.
Sarandon bahkan mengatakan dirinya bukan satu-satunya orang yang mengalami tekanan profesional karena sikap kritis terhadap Israel.
“Jika itu adalah studio besar, saya rasa bukan hanya saya yang merasakan hal itu,” katanya.
Menurut Sarandon, terdapat orang-orang lain yang juga diberi tahu bahwa mereka tidak dapat dilibatkan dalam proyek tertentu karena pandangan politik mereka.
Di titik inilah persoalannya menjadi lebih besar daripada satu nama aktris. Ini tentang batas antara kebebasan berpendapat dan kepentingan industri. Tentang apakah seorang aktor dapat memisahkan pekerjaan dari keyakinan politiknya. Dan, yang lebih rumit, siapa yang sebenarnya menentukan batas tersebut.
Palestina Masuk ke Festival Venesia
Persoalan Palestina bahkan ikut menjadi bagian dari atmosfer Festival Film Venesia tahun ini.
Sejumlah aktivis menyerukan agar penyelenggara festival mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas terhadap para pembuat film Palestina yang karyanya diputar dalam festival.
Direktur artistik Festival Film Venesia, Alberto Barbera, mengatakan permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena Italia belum secara resmi mengakui Palestina sebagai negara. Meski demikian, isu Palestina tetap hadir melalui karya-karya yang ditampilkan di Lido.
Bagi Sarandon, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai Palestina tidak lagi terbatas pada demonstrasi jalanan atau ruang politik. Isu tersebut telah masuk ke ruang budaya, termasuk industri film internasional.
Meraih Dukung
Di Venesia, Sarandon juga mendapat dukungan dari sutradara Andrea Pallaoro, yang memilihnya sebagai pemeran dalam The Echo Chamber.
Sarandon menyampaikan apresiasi kepada Pallaoro karena memberinya kesempatan ketika sebagian industri, menurut pengakuannya, masih menutup pintu.
“Saya telah menemukan keluarga saya, saya telah menemukan orang-orang saya dan saya baik-baik saja,” kata Sarandon yang langsung diganjar tepuk tangan dalam konferensi pers.
Seorang aktris yang telah menghabiskan puluhan tahun membangun karier di Hollywood kini berbicara tentang menemukan “keluarga” justru ketika sebagian dari industri tempat ia membangun nama disebut menjauh darinya.
Tetapi bagi Sarandon, kehilangan sejumlah pekerjaan tampaknya bukan alasan untuk menarik kembali sikapnya.
Tetap Berakting, Tetap Bersuara
Dalam The Echo Chamber, Sarandon memerankan seorang penyanyi lanjut usia yang menyewa produser musik yang sedang menjalani pemulihan dari kecanduan narkoba untuk menggarap album comeback-nya.
Film tersebut diadaptasi dari skenario terakhir karya sineas Italia Bernardo Bertolucci dan menjadi salah satu dari 21 film yang bersaing memperebutkan Golden Lion, penghargaan tertinggi Festival Film Venesia, yang akan diumumkan pada 12 September.
Di usia 79 tahun, Sarandon masih berada di depan kamera. Tetapi kariernya kini tidak hanya bercerita tentang film.
Ia juga menjadi contoh bagaimana seorang aktor dapat membawa keyakinan politiknya ke ruang publik—dan kemudian harus berhadapan dengan konsekuensinya.
Bagi Sarandon, persoalannya bukan lagi sekadar apakah Hollywood masih mau memberinya pekerjaan. Ia telah memilih untuk tetap berbicara. Dan untuk pilihan itu, ia mengaku sudah tahu harganya.




Comments are closed.