Mubadalah.id-Akhir-akhir ini negara kita sedang mengalami banyak bencana. Banjir di Sumatera, gempa NTT (Nusa Tenggara Timur), karhutla di Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Saat membaca berita tentang bencana, saya tiba-tiba muncul pertanyaan bagaimana dengan para penyandang disabilitas ketika mereka menghadapi bencana? Bagaimana mereka menyelamatkan dirinya?
Ketika bencana datang setiap orang pasti ingin menyelamatkan dirinya. Terkadang kita membayangkan mitigasi bencana dengan berjalan atau lari menuju jalur evakuasi, keluar dari bangunan dan berkumpul di titik aman. Namun, cara itu belum tentu setiap orang dapat melakukannya dengan mudah.
Saya membayangkan bagaimana jika seseorang yang menggunakan kursi roda dan jalur evakuasi yang ada hanya tangga? Bagaimana jika menyampaikan informasi bencana hhanya melalui suara sedangkan ada warga yang memiliki hambatan pendengarannya? Atau informasi hanya melalui tulisan yang tidak semua bisa mengaksesnya?
Pertanyaan itu mengajak saya untuk mencari bahan bacaan tentang mitigasi bencana bagi disabilitas. Saya menemukan salah satu jurnal yang publikasi di tahun 2025. Saya membaca salah satu artikel di jurnal Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) tentang mitigasi bencana bagi penyandang disabilitas.
Mengapa Penyandang Disabilitas Menghadapi Risiko Lebih Besar?
Penyandang disabilitas merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam mitigasi benacana. Bukan karena kondisi disabilitasnya, tetapi karena banyak sistem penanggulangan bencana yang merancangnya dengan asumsi bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama untuk bergerak, melihat, mendengar, memahami informasi dan melakukan evakuasi.
Dalam penelitian tentang mitigasi bencana gempa bagi penyandang disabilitas di Surabaya menyebutkan bahwa persoalan yang sering dihadapi adalah keterbatasan mobilitas, akses informasi yang tidak memadai, serta belum tersedianya fasilitas evakuasi yang sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa kerentanan seseorang dalam situasi bencana juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya. Karena itu, mitigasi bencana seharusnya tidak hanya berorientasi pada Pembangunan infrastruktur tahan gempa atau penyediaan tempat evakuasi namun juga memastikan bahwa seluruh masyarakat dapat mengaksesnya, termasuk penyandang disabilitas.
Mitigasi Bencana yang Lebih Inklusif
Ketika membicarakan mitigasi bencana, jalur evakuasi memang penting namun juga harus memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas. Misalnya sistem peringatan dini juga harus mempertimbangkan keberagaman kebutuhan masyarakat. Orang dengan berbagai jenis disabilitas seharusnya dapat menerima informasi bencana. Demikan juga dengan fasilitas umum, tempat perlindungan sementara, transportasi, hingga prosedur tanggap darurat.
Penelitian di Surabaya menunjukkan adanya upaya untuk mengembangkan sistem mitigasi yang lebih inklusif. Pemerintah Kota Surabaya melakukan berbagai program kesiapsiagaan yang melibatkan penyandang disabilitas melalui pelatihan mengenai tanda-tanda awal gempa, prosedur evakuasi, serta cara berkomunikasi dalam keadaan darurat.
Selain pelatihan, Pembangunan infrastruktur yang lebih ramah disabilitas juga menjadi bagian penting mitigasi. Fasilitas yang aksesibel memungkinkan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyelamatkan diri ketika keadaan darurat terjadi. Artinya mengaplikasikan mitigasi bencana yang inklusif tidak dapat hanya melalui satu kebijakan saja namun harus terhubung satu sama lain.
Penyandang Disabilitas Harus Ikut Merancang
Ada satu hal yang penting juga dalam mitigasi bencana yaitu keterlibatan penyandang disabilitas itu sendiri. Dalam perencanaan mitigasi bencana, perlu melibatkan penyandang disabilitas sebagai pihak yang mengetahui secara langsung kebutuhan dan hambatannya.
Seperti program kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya dengan Global Future Cities Programme (GFCP). Mereka melakukan Focus Group Discussion (FGD), lokakarya, konsultasi public, serta pelatihan yang melibatkan komunitas penyandang disabilitas. Pelibatan ini penting karena kebutuhan penyandang disabilitas tidak bisa jika hanya menurut sudut pandang pembuat kebijakan.
Program tersebut berupaya untuk memperkuat ketahanan bencana melalui beberapa Langkah, mulai dari penyusunan rencana evakuasi yang inklusif, pengembangan peta Risiko, pelatihan kesiapsiagaan, hingga pengembangan sistem peringatan dini yang juga mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.
Langkah ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang bagi penyandang disabilitas sebagai kelompok yang tidak hanya harus diselamatkan, tetapi juga sebagai masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman penting dalam membangun sistem mitigasi.
Mitigasi bencana bukan hanya persoalan bagaimana memiliki bangunan tahan gempa, teknologi peringatan dini, atau prosedur tanggap darurat yang baik. Lebih dari itu, mitigasi berkaitan dengan bagaimana keselamatan setiap orang.
Pendekatan human security menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Menyusun sistem mitigasi bencana dengan kesadaran bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Penyandang disabilitas tidak boleh baru terpikirkan ketika bencana sudah terjadi. Kebutuhan mereka harus masuk sejak tahap perencanaan, pelatihan, Pembangunan infrastruktur, penyusunan informasi, hingga evaluasi kebijakan. []





Comments are closed.