Wed,9 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Bagaimana Mitigasi Bencana bagi Penyandang Disabilitas?

Bagaimana Mitigasi Bencana bagi Penyandang Disabilitas?

bagaimana-mitigasi-bencana-bagi-penyandang-disabilitas?
Bagaimana Mitigasi Bencana bagi Penyandang Disabilitas?
service

Mubadalah.id-Akhir-akhir ini negara kita sedang mengalami banyak bencana. Banjir di Sumatera, gempa NTT (Nusa Tenggara Timur), karhutla di Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Saat membaca berita tentang bencana, saya tiba-tiba muncul pertanyaan bagaimana dengan para penyandang disabilitas ketika mereka menghadapi bencana? Bagaimana mereka menyelamatkan dirinya?

Ketika bencana datang setiap orang pasti ingin menyelamatkan dirinya. Terkadang kita membayangkan mitigasi bencana dengan berjalan atau lari menuju jalur evakuasi, keluar dari bangunan dan berkumpul di titik aman. Namun, cara itu belum tentu setiap orang dapat melakukannya dengan mudah.

Saya membayangkan bagaimana jika seseorang yang menggunakan kursi roda dan jalur evakuasi yang ada hanya tangga? Bagaimana jika menyampaikan informasi bencana hhanya melalui suara sedangkan ada warga yang memiliki hambatan pendengarannya? Atau informasi hanya melalui tulisan yang tidak semua bisa mengaksesnya?

Pertanyaan itu mengajak saya untuk mencari bahan bacaan tentang mitigasi bencana bagi disabilitas. Saya menemukan salah satu jurnal yang publikasi di tahun 2025. Saya membaca salah satu artikel di jurnal Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ) tentang mitigasi bencana bagi penyandang disabilitas.

Mengapa Penyandang Disabilitas Menghadapi Risiko Lebih Besar?

Penyandang disabilitas merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam mitigasi benacana. Bukan karena kondisi disabilitasnya, tetapi karena banyak sistem penanggulangan bencana yang merancangnya dengan asumsi bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang sama untuk bergerak, melihat, mendengar, memahami informasi dan melakukan evakuasi.

Dalam penelitian tentang mitigasi bencana gempa bagi penyandang disabilitas di Surabaya menyebutkan bahwa persoalan yang sering dihadapi adalah keterbatasan mobilitas, akses informasi yang tidak memadai, serta belum tersedianya fasilitas evakuasi yang sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.

Persoalan ini memperlihatkan bahwa kerentanan seseorang dalam situasi bencana juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya. Karena itu, mitigasi bencana seharusnya tidak hanya berorientasi pada Pembangunan infrastruktur tahan gempa atau penyediaan tempat evakuasi namun juga memastikan bahwa seluruh masyarakat dapat mengaksesnya, termasuk penyandang disabilitas.

Mitigasi Bencana yang Lebih Inklusif

Ketika membicarakan mitigasi bencana, jalur evakuasi memang penting namun juga harus memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas. Misalnya sistem peringatan dini juga harus mempertimbangkan keberagaman kebutuhan masyarakat. Orang dengan berbagai jenis disabilitas seharusnya dapat menerima informasi bencana. Demikan juga dengan fasilitas umum, tempat perlindungan sementara, transportasi, hingga prosedur tanggap darurat.

Penelitian di Surabaya menunjukkan adanya upaya untuk mengembangkan sistem mitigasi yang lebih inklusif. Pemerintah Kota Surabaya melakukan berbagai program kesiapsiagaan yang melibatkan penyandang disabilitas melalui pelatihan mengenai tanda-tanda awal gempa, prosedur evakuasi, serta cara berkomunikasi dalam keadaan darurat.

Selain pelatihan, Pembangunan infrastruktur yang lebih ramah disabilitas juga menjadi bagian penting mitigasi. Fasilitas yang aksesibel memungkinkan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyelamatkan diri ketika keadaan darurat terjadi. Artinya mengaplikasikan mitigasi bencana yang inklusif tidak dapat hanya melalui satu kebijakan saja namun harus terhubung satu sama lain.

Penyandang Disabilitas Harus Ikut Merancang

Ada satu hal yang penting juga dalam mitigasi bencana yaitu keterlibatan penyandang disabilitas itu sendiri. Dalam perencanaan mitigasi bencana, perlu melibatkan penyandang disabilitas  sebagai pihak yang mengetahui secara langsung kebutuhan dan hambatannya.

Seperti program kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya dengan Global Future Cities Programme (GFCP). Mereka melakukan Focus Group Discussion (FGD), lokakarya, konsultasi public, serta pelatihan yang melibatkan komunitas penyandang disabilitas. Pelibatan ini penting karena kebutuhan penyandang disabilitas tidak bisa jika hanya menurut sudut pandang pembuat kebijakan.

Program tersebut berupaya untuk memperkuat ketahanan bencana melalui beberapa Langkah, mulai dari penyusunan rencana evakuasi yang inklusif, pengembangan peta Risiko, pelatihan kesiapsiagaan, hingga pengembangan sistem peringatan dini yang juga mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.

Langkah ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang bagi penyandang disabilitas sebagai kelompok yang tidak hanya harus diselamatkan, tetapi juga sebagai masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman penting dalam membangun sistem mitigasi.

Mitigasi bencana bukan hanya persoalan bagaimana memiliki bangunan tahan gempa, teknologi peringatan dini, atau prosedur tanggap darurat yang baik. Lebih dari itu, mitigasi berkaitan dengan bagaimana keselamatan setiap orang.

Pendekatan human security menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Menyusun sistem mitigasi bencana dengan kesadaran bahwa masyarakat memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Penyandang disabilitas tidak boleh baru terpikirkan ketika bencana sudah terjadi. Kebutuhan mereka harus masuk sejak tahap perencanaan, pelatihan, Pembangunan infrastruktur, penyusunan informasi, hingga evaluasi kebijakan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.