Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Banjir Picu Peningkatan Penyakit Menular, Lansia Jadi Kelompok Rentan

Banjir Picu Peningkatan Penyakit Menular, Lansia Jadi Kelompok Rentan

banjir-picu-peningkatan-penyakit-menular,-lansia-jadi-kelompok-rentan
Banjir Picu Peningkatan Penyakit Menular, Lansia Jadi Kelompok Rentan
service

Pati, NU Online

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pati pada awal Januari 2026 berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat adanya peningkatan kasus penyakit menular, terutama penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare di daerah terdampak banjir.

Berdasarkan data sementara, sebanyak 201 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi akibat banjir yang merendam sejumlah desa. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan lansia menjadi kelompok paling berisiko terdampak masalah kesehatan pascabanjir karena daya tahan tubuh yang cenderung menurun.

“Kelompok paling rentan adalah lansia. Mereka memiliki daya tahan tubuh yang menurun sehingga mudah mengalami komplikasi, seperti pneumonia, infeksi kulit, maupun perburukan penyakit kronis,” ujar Luky kepada NU Online, Ahad (18/1/2026).

Ia menjelaskan, selama masa banjir, penyakit yang paling banyak dilaporkan adalah penyakit kulit, ISPA, dan diare. Selain itu, Dinkes juga mencatat adanya keluhan myalgia, hipertensi, serta penyakit tidak menular lainnya di kalangan warga terdampak.

“Penyakit yang paling banyak dilaporkan adalah penyakit kulit, ISPA, dan diare. Selain itu juga ditemukan kasus myalgia, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya,” jelasnya.

Sejak 9 Januari 2026, Puskesmas di wilayah terdampak melaporkan sedikitnya 819 kasus penyakit kulit. Menurut Luky, kondisi tersebut merupakan dampak yang lazim terjadi saat bencana banjir akibat lingkungan yang lembap, sanitasi yang kurang memadai, serta keterbatasan akses air bersih.

Meski demikian, Dinkes Kabupaten Pati terus berupaya memastikan penanganan kesehatan pascabencana berjalan optimal agar masyarakat, khususnya kelompok berisiko, tetap mendapatkan layanan kesehatan sesuai prosedur.

“Ketika terjadi bencana banjir, penyakit menular memang berpotensi meningkat. Namun, kami terus berupaya agar pelayanan kesehatan tetap berjalan dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Untuk mendukung pelayanan tersebut, Dinkes Pati menyiagakan layanan Puskesmas selama 1×24 jam serta membuka posko-posko kesehatan di titik-titik terdampak. Hingga kini, tercatat 51 titik layanan kesehatan telah disiapkan dengan dukungan Puskesmas setempat dan organisasi profesi kesehatan.

“Sampai hari ini sudah ada 51 titik lokasi pemberian layanan kesehatan di daerah terdampak banjir,” imbuhnya.

Selain pelayanan medis, Dinkes juga menyoroti pentingnya ketersediaan obat-obatan, air bersih, dan sanitasi di posko pengungsian. Menurut Luky, perhatian terhadap sanitasi menjadi kunci untuk mencegah meluasnya penyakit menular.

“Kondisi air bersih dan sanitasi di posko pengungsian perlu mendapat perhatian serius, termasuk penyediaan jamban darurat oleh BPBD. Kami juga sedang mendata kebutuhan air bersih dan sanitasi untuk mencegah risiko kontaminasi,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menggunakan air bersih secara bijak selama masa tanggap darurat banjir.

Sementara itu, salah satu penyintas banjir asal Desa Gempolsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Khoirur Roziqin, menyebut banjir berdampak besar terhadap kesehatan warga, baik secara fisik maupun mental.

“Dampaknya tidak hanya penyakit fisik, tetapi juga kesehatan mental dan keselamatan lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, air banjir yang tercemar limbah, kotoran hewan, dan bakteri berbahaya menjadi pemicu utama munculnya penyakit kulit. Aktivitas warga yang harus berada di genangan air hingga hampir 12 jam per hari turut memperparah kondisi kesehatan.

“Air di kanan kiri masih menggenang, sehingga warga mau tidak mau beraktivitas di air dalam waktu lama,” katanya.

Khoirur menambahkan, banjir di desanya telah berlangsung sekitar tujuh hari dan hingga kini belum sepenuhnya surut. Meski genangan hanya masuk ke beberapa rumah, dampaknya sangat dirasakan warga, termasuk trauma psikologis, terutama di kalangan petani.

“Mayoritas petani sangat terpukul karena padi yang hampir panen terendam banjir. Kami berharap ada perhatian dan solusi bagi para petani,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.