Sat,23 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Hikmah Ayat Mimpi Nabi Ibrahim dan Dialog Keimanan dalam Ash-Shaffat ayat 102

Hikmah Ayat Mimpi Nabi Ibrahim dan Dialog Keimanan dalam Ash-Shaffat ayat 102

hikmah-ayat-mimpi-nabi-ibrahim-dan-dialog-keimanan-dalam-ash-shaffat-ayat-102
Hikmah Ayat Mimpi Nabi Ibrahim dan Dialog Keimanan dalam Ash-Shaffat ayat 102
service

Momen Idul Adha sangat identik dengan kisah Nabi Ibrahim as dan perintah Allah Swt untuk menyembelih putranya. Kisah ini masyhur diceritakan dalam Islam dan diabadikan dalam Al-Qur’an. Nabi Ibrahim as menerima perintah tersebut melalui mimpi. Pada akhirnya, ketika beliau hendak melaksanakan perintah itu, Allah Swt menggantinya dengan seekor hewan sembelihan.

Dari kisah agung ini, terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik. Salah satunya adalah dialog penuh keimanan antara Nabi Ibrahim as dan putranya ketika beliau menyampaikan mimpi yang dialaminya. Dialog tersebut menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak dibangun dengan paksaan semata, tetapi juga dengan komunikasi, kelembutan, dan kesiapan hati. Allah berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.’

Siapa Putra yang Dimaksud?

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa putra Nabi Ibrahim as yang diperintahkan untuk disembelih dalam ayat tersebut. Pendapat pertama menyebutkan bahwa putra yang dimaksud adalah Nabi Ishak as. Pendapat ini dikemukakan antara lain oleh Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Ibnu Mas’ud, Ka’bul Ahbar, Qatadah, Said bin Jubair, Masruq, Ikrimah, Az-Zuhri, As-Suddi, dan Muqatil.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa putra yang dimaksud adalah Nabi Ismail as. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Said bin Musayyab, Hasan, As-Sya’bi, Mujahid, dan Al-Kalbi. (Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi], 1420 H, juz 26, hal. 347).

Dari dua pendapat tersebut, Imam Al-Baydhawi dalam tafsirnya cenderung pada pendapat bahwa putra yang dimaksud adalah Nabi Ismail AS. Menurut Imam al-Baydhawi, Nabi Ismail as adalah putra yang diperintahkan untuk disembelih karena beliau merupakan anak yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as setelah beliau berhijrah.

Alasan kedua, kabar gembira tentang kelahiran Nabi Ishak as disebutkan setelah kabar gembira tentang anak yang dibicarakan dalam ayat ini. Alasan terakhir adalah sabda Rasulullah Saw: “Aku adalah anak dari dua orang yang disembelih,” yaitu Ismail dan Abdullah. (Anwarut Tanzil wa Asrarut Takwil, [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi], 1418 H, juz 5, hal. 15).

Mimpi yang Berulang dan Hikmahnya

Perintah menyembelih putra yang diterima Nabi Ibrahim as bersumber dari mimpi yang berulang. Dalam keyakinan Islam, mimpi seorang nabi merupakan wahyu. Dikisahkan, Nabi Ibrahim as pertama kali bermimpi pada malam Tarwiyah. Dalam mimpi itu, seakan ada yang berkata bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya.

Pada pagi harinya, Nabi Ibrahim as merenungkan mimpi tersebut hingga sore. Beliau mempertimbangkan apakah mimpi itu benar-benar berasal dari Allah atau dari setan. Karena itulah tanggal 8 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyah.

Mimpi yang sama kembali datang pada malam berikutnya. Saat itu, Nabi Ibrahim as mengetahui dan yakin bahwa mimpi tersebut berasal dari Allah Swt. Oleh karena itu, tanggal 9 Dzulhijjah disebut Hari Arafah.

Pada malam ketiga, Nabi Ibrahim as kembali bermimpi dengan mimpi yang sama. Keesokan harinya, beliau bersiap melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya. Hari itulah yang kemudian dikenal sebagai Hari Penyembelihan, yaitu 10 Dzulhijjah.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

روي أن إبراهيم رأى ليلة التروية في منامه كأن قائلا يقول له: إن الله يأمرك بذبح ابنك هذا، فلما أصبح تروى في ذلك من الصباح إلى الرواح، أمن الله هذا الحلم أم من الشيطان فمن ثمّ سمي يوم التروية، فلما أمسى رأى مثل ذلك فعرف أنه من الله، فسمي يوم عرفة، ثم رأى مثله في الليلة الثالثة فهمّ بنحره فسمي يوم النحر

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi pada malam Tarwiyah seakan seseorang mengatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk menyembelih putramu.’ Setelah bangun dari tidurnya, Nabi Ibrahim memikirkannya dari pagi hingga sore, apakah mimpi itu dari Allah atau dari setan. Oleh karenanya, hari itu dinamakan dengan Tarwiyah, yaitu hari pertimbangan.

Malam berikutnya, Nabi Ibrahim bermimpi dengan mimpi serupa sehingga ia yakin mimpi itu dari Allah. Oleh karenanya dinamakan hari Arafah. Pada malam ketiga, Nabi Ibrahim bermimpi serupa untuk ketiga kalinya sehingga pada pagi harinya ia hendak melaksanakan tugasnya. Oleh karenanya, hari itu dinamakan hari raya penyembelihan.” (Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah], juz 2, hal. 305).

Hikmah Dialog Nabi Ibrahim dengan Putranya

Salah satu hikmah besar dari kisah ini adalah cara Nabi Ibrahim as berdialog dengan putranya. Dialog tersebut dapat menjadi rujukan penting dalam pendidikan keluarga dan pola pengasuhan anak pada masa kini.

Nabi Ibrahim as tidak menyampaikan perintah Allah dengan kasar atau paksaan. Beliau mengajak putranya berbicara dengan lembut, penuh kasih sayang, dan tetap memberi ruang bagi sang anak untuk memahami perintah tersebut.

Pertama, Nabi Ibrahim as membuka dialog dengan panggilan “yā bunayya”, yang berarti “wahai anak kecilku” atau “wahai putraku tersayang”. Lafaz ini merupakan bentuk tashghir daripada “yā ibnī”.

Panggilan tersebut menunjukkan kelembutan dan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Dalam sebagian penjelasan, Nabi Ismail as saat itu masih berusia sekitar 13 tahun.

Kedua, Nabi Ibrahim as tidak langsung memaksa putranya untuk melaksanakan perintah Allah. Beliau berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?

Kalimat ini menunjukkan adanya ruang dialog. Nabi Ibrahim as mengajak putranya untuk berpikir, memahami, dan meneguhkan hati dalam menerima perintah Allah. Jawaban Nabi Ismail as pun menunjukkan kualitas keimanan yang luar biasa. Ia berkata, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu! Insyaallah, engkau akan mendapatiku, termasuk orang-orang yang sabar.”

Dialog di atas memperlihatkan kelapangan hati antara ayah dan anak dalam menerima perintah Allah. Keduanya sama-sama menunjukkan ketundukan, kesabaran, dan kerelaan dalam menghadapi ujian iman.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa ujian tersebut bukan hanya berat bagi Nabi Ismail as, tetapi juga sangat berat bagi Nabi Ibrahim as. Sebab, beliau baru dikaruniai seorang anak setelah penantian panjang.

Dalam hal ini, Syekh Ibnu Asyur berkata:

فَبَعْدَ أَنْ أَقَرَّ اللَّهُ عَيْنَهُ بِإِجَابَةِ سُؤْلِهِ وَتَرَعْرُعِ وَلَدِهِ أَمَرَهُ بِأَنْ يَذْبَحَهُ فَيَنْعَدِمَ نَسْلُهُ وَيَخِيبَ أَمَلُهُ وَيَزُولَ أُنْسُهُ وَيَتَوَلَّى بِيَدِهِ إِعْدَامَ أَحَبِّ النُّفُوسِ إِلَيْهِ وَذَلِكَ أَعْظَمُ الِابْتِلَاءِ. فَقَابَلَ أَمْرَ رَبِّهِ بِالِامْتِثَالِ وَحَصَلَتْ حِكْمَةُ اللَّهِ مِنَ ابْتِلَائِهِ

Artinya: “Setelah Allah menyenangkannya dengan mengabulkan keinginannya dan anaknya tumbuh berkembang, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya agar ia tidak memiliki keturunan, angannya hilang dan kasih sayangnya hilang. Dengan tangannya sendiri, ia diperintahkan untuk membunuh anak yang paling dicintainya. Itu merupakan cobaan yang sangat berat. Namun, ia melaksanakannya dengan baik dan terbuktilah hikmah Allah dengan mengujinya.” (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia: Ad-Dar At-Tunisiyah lin Nasyri], 1984 H, juz 23, hal. 150).

Dari sini tampak bahwa perintah tersebut merupakan ujian besar bagi Nabi Ibrahim as. Namun, beliau menghadapinya dengan kepatuhan total kepada Allah. Di sisi lain, Nabi Ismail as juga menunjukkan keteguhan seorang anak yang dibesarkan dalam pendidikan iman. Ia tidak hanya patuh kepada ayahnya, tetapi juga ridha terhadap perintah Allah.

Karena itu, kisah ini tidak hanya berbicara tentang pengorbanan, tetapi juga tentang komunikasi dalam keluarga. Nabi Ibrahim as mengajarkan bahwa iman dapat diwariskan melalui dialog yang lembut, jujur, dan penuh kasih.

Dialog ayah dan anak dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102 menjadi teladan bahwa pendidikan iman membutuhkan kedekatan emosional. Anak tidak hanya diperintahkan, tetapi juga diajak untuk memahami nilai ketaatan kepada Allah.

Demikian hikmah ayat mimpi Nabi Ibrahim as dan dialog keimanan beliau dengan putranya. Kisah ini tetap relevan untuk dijadikan pelajaran dalam membangun keluarga yang taat, sabar, komunikatif, dan penuh kasih sayang. Wallahu a’lam.

Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Keislaman, tinggal di Indramayu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.