Ringkasan:
-
Internet mempunyai opini, dan pembuat konten merasakannya; penonton menjadi lebih cerdas dan vokal.
-
5 hal yang paling dibenci oleh para pembuat konten adalah memamerkan kemewahan, merekam orang asing tanpa persetujuan, menggunakan “suara bayi”, menangis di depan kamera, dan berbicara tentang para haters.
-
Penonton bosan dengan perilaku tidak autentik; mereka menginginkan pembuat konten yang asli dan menarik, bukan merek yang berkinerja baik.
Internet mempunyai opini, dan pembuat konten merasakannya. Seiring dengan semakin matangnya perekonomian kreator, penonton menjadi lebih cerdas, kurang sabar, dan lebih vokal mengenai hal-hal yang membuat mereka tidak tertarik. Menurut Survei Pembuat Manychat 2025perilaku tertentu kini langsung memicu “kekecewaan” di kalangan pengguna media sosial, sehingga mendorong para pembuat konten untuk berhenti mengikuti daripada menjadi viral.
Laporan tersebut, berdasarkan tanggapan dari para pembuat konten dan pengguna media sosial di berbagai platform utama, menguraikan lima perilaku teratas yang membuat orang merasa ngeri saat online, dan menawarkan gambaran yang mengungkap di mana budaya influencer mulai kehilangan niat baik.
Inilah yang menurut penonton secara resmi mereka bosan.
Inilah 5 Kreator Paling Icks di Tahun 2025

1. Memamerkan Kemewahan Seperti Biasa (19%)
Perubahan terbesar? Kelebihan.
Sembilan belas persen responden mengatakan bahwa “memamerkan kemewahan seperti biasa” adalah hal yang dibenci oleh para kreator top, hal ini menunjukkan bahwa konten aspiratif telah melampaui batas yang tidak peka terhadap nada. Apa yang tadinya dianggap sebagai motivasi, kini menjadi tidak relevan lagi, terutama karena kekhawatiran akan biaya hidup mendominasi percakapan online.
Angkutan mewah, jet pribadi, dan kekayaan kasual tidak lagi menjamin kemenangan dalam keterlibatan. Dalam banyak kasus, mereka menandakan pemutusan hubungan.
2. Syuting Orang Asing Tanpa Persetujuan (15%)
Lima belas persen pengguna menyebut merekam orang asing tanpa persetujuan sebagai tanda bahaya besar.
Ketika video lelucon, wawancara jalanan, dan konten viral “gotcha” terus membanjiri feed, penonton semakin merasa tidak nyaman dengan pembuat konten yang memprioritaskan konten daripada batasan dasar. Data menunjukkan bahwa penonton kurang terhibur dengan penampilan yang mengejutkan dan lebih mementingkan etika.
3. Menggunakan “Suara Bayi” atau Bicara TikTok (13%)
Kelelahan bahasa gaul internet itu nyata.
Tiga belas persen responden mengatakan menggunakan “suara bayi” atau ucapan TikTok yang berlebihan membuat mereka merasa ngeri. Apa yang dulunya terasa lucu kini dianggap dipaksakan, performatif, atau dibuat-buat secara berlebihan, terutama karena penonton tertarik pada pembuat konten yang merasa tulus dan membumi.
4. Menangis di Depan Kamera (13%)
Era berbagi emosi yang berlebihan sedang menemui jalan buntu.
Sebanyak 13 persen lainnya menyatakan bahwa mereka menangis di depan kamera sebagai pembuat konten, yang menandakan bahwa kerentanan ada batasnya. Meskipun keaslian masih penting, penonton nampaknya semakin skeptis terhadap tampilan emosional yang terasa dimonetisasi atau diatur waktunya secara strategis.
5. Terlalu Banyak Berbicara Tentang Haters (13%)
Kreator yang tidak bisa berhenti mengatasi hal-hal negatif berisiko menjadi hal yang negatif.
Tiga belas persen pengguna mengatakan terlalu banyak membicarakan haters adalah hal yang tidak disukai. Terus-menerus melontarkan kritik, menanggapi reaksi negatif, atau memusatkan konten pada drama dapat menguras tenaga penonton yang datang untuk mencari hiburan atau wawasan, bukan pertikaian yang berkelanjutan.
Benang merah dari kelima ick ini adalah kelelahan keaslian. Penonton tidak sepenuhnya menolak pembuat konten; mereka menolak perilaku yang terkesan performatif, eksploitatif, atau tidak terhubung dengan kenyataan.
Pergeseran ini terlihat di bagian lain dalam laporan Manychat. Ketika ditanya mengapa mereka berhenti mengikuti pembuat konten, 27 persen mengatakan konten yang tampak palsu atau tidak autentik adalah alasan utama, diikuti oleh terlalu banyak iklan atau penjualan terus-menerus.
Singkatnya, pemirsa menginginkan pembuat konten yang merasa manusiawi, bukan merek yang diproduksi secara berlebihan.





Comments are closed.