Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

meruntuhkan-mitos,-yang-perlu-disembuhkan-bukan-disabilitas
Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas
service

Mubadalah.id – Coba kita ingat. Sebagian masyarakat di Indonesia pernah mendengar cerita ketika ada anak yang lahir dengan disabilitas, mereka mengaitkan dengan sebuah kutukan yang diterima oleh si orang tua, atau yang lebih kreatif lagi adalah mereka mengaitkan terhadap seorang ibu yang melanggar sebuah pantangan saat ia hamil.

Aneh memang. Ketika kita tidak tahu penyebab suatu hal, kita sering kali lebih memilih cerita daripada penjelasan. Ini menjadi masalah ketika cerita tersebut tidak berhenti sebagai sebuah “Cerita” saja. Justru ia berubah menjadi cara pandang. Dan cara pandang itu kemudian menentukan bagaimana seseorang ia perlakukan.

Penyandang disabilitas akhirnya tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan fisik atau sensorik yang mungkin mereka miliki. Mereka juga harus berhadapan dengan pandangan iba yang terlalu berlebihan, desas-desus tetangga, kalimat tanya yang sebenarnya tidak perlu, hingga perlakuan yang secara halus berkata : “Kamu berbeda, jadi tempatmu juga berbeda”.

Padahal, jika kita pikir, masyarakat kita sering kali lebih tertarik untuk mencari penyebab metafisik ketimbang menyelesaikan persoalan yang jelas terpampang nyata. Kita terlalu sibuk bertanya mengapa seseorang menjadi disabilitas, namun jarang bertanya mengapa trotoar tidak bisa mereka lalui dengan kursi rodanya. Kita penasaran dengan dosa orang tuanya, namun tidak penasaran mengapa sekolah masih sulit menerima murid disabilitas.

Mitos memang bekerja dengan kelicikannya. Ia membuat masalah sosial terlihat sebagai sebuah takdir pribadi. Akibatnya, masyarakat tidak merasa perlu untuk berubah. Yang kita anggap harus menyesuaikan diri selalu mereka yang seorang penyandang disabilitas, bukan lingkungan sekitarnya.

Ketika itulah kita perlu lebih sadar bahwa jangan-jangan yang sebenarnya cacat bukanlah tubuh seseorang, melainkan cara berpikir kita sendiri.

Sains Sudah Bergerak Jauh, Pikiran Kita Belum Tentu

Jika ada satu hal yang sains lakukan dengan baik, itu adalah mengajarkan manusia untuk tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu. Sains menjelaskan bahwa disabilitas bisa muncul karena banyak faktor, seperti genetika, komplikasi persalinan, penyakit, kecelakaan, hingga faktor lingkungan. Tidak ada hubungannya dengan kutukan, karma keluarga, atau murka alam semesta yang tiba-tiba turun kepada seseorang.

Namun menariknya, perkembangan sains modern justru menghasilkan kesimpulan yang cukup radikal daripada sekadar penjelasan medis. Para ilmuan sosial mulai menyadari bahwa masalah terbesar penyandang disabilitas sering kali bukan terletak pada kondisi tubuhnya. Masalah terbesar justru berasal dari masyarakat yang mereka bangun dengan asumsi bahwa semua orang harus memiliki tubuh yang sama.

Bayangkan seseorang yang menggunakan kursi roda. Apakah hambatannya terletak pada kursi roda itu sendiri? Belum tentu. Hambatan muncul ketika gedung hanya menyediakan tangga. Ketika transportasi publik tidak ramah disabilitas. Ketika trotoar beralih fungsi menjadi parkiran kendaraan. Artinya, sebagian besar “Ketidakmampuan” sebenarnya terbentuk oleh lingkungan itu sendiri.

Ironisnya adalah ketika masyarakat sering merasa sudah sangat baik hanya karena menunjukkan rasa kasihan. Padahal yang mereka butuhkan bukan sebatas rasa iba saja, mereka juga membutuhkan akses yang inklusif. Kasihan saja tidak membuat seseorang bisa masuk ke sekolah, tidak membuat mereka memperoleh pekerjaan, bahkan kasihan juga tidak membuat seseorang bisa naik ke lantai dua masjid tanpa lift atau jalur yang landai untuk kursi roda mereka.

Mubadalah dan Pelajaran tentang Menjadi Sesama Manusia

Pernah terdengar dalam diskusi tentang keadilan sosial, suatu konsep yang cukup menarik untuk dibawa ke isu disabilitas, yakni perihal Mubadalah yang secara singkat berbicara tentang konsep kesalingan. Tentang bagaimana manusia memandang manusia lain sebagai sesama yang memiliki martabat yang setara. Bukan sebagai objek belas kasihan, bukan beban sosial, bukan pula warga kelas dua.

Sering kali penyandang disabilitas mereka tempatkan dalam posisi sang penerima. Mereka dianggap hanya membutuhkan bantuan. Hanya membutuhkan perlindungan. Hanya membutuhkan belas kasihan, yang padahal cara pandang tersebut secara tidak sadar menempatkan mereka pada kasta ke dua.

Apa yang akan terjadi ketika kita melihat penyandang disabilitas sebagai subjek yang setara? Pertanyaan ini mungkin terdengar biasa saja. Namun jika mereka benar-benar setara, maka akses pendidikan harusnya bukanlah sebuah hadiah, fasilitas publik yang inklusif bukanlah bentuk kemurahan hati, itu semua adalah sebuah Hak dan Kewajiban. Jika mereka setara, maka kehadiran mereka dalam ruang sosial bukan sesuatu yang perlu untuk kita toleransi, karena memang hal tersebut harusnya ada.

Konsep ini sekaligus menjadi kritik terhadap kebiasaan kita yang gemar untuk memuji diri sendiri karena telah “Membantu” kelompok yang rentan. Sebab dalam logika mubadalah, tujuan akhirnya bukanlah sebuah bantuan, namun terciptanya hubungan yang setara.

Yang perlu Disembuhkan Mungkin Bukan Tubuh Mereka

Agak miris ketika melihat bahwa masyarakat terlalu sibuk mencari cara menyembuhkan penyandang disabilitas, namun jarang bertanya apakah masyarakat sendiri yang justru perlu untuk sembuh. Sembuh dari kebiasaan menghakimi, sembuh dari prasangka, sembuh dari keyakinan bahwa manusia hanya berharga ketika memenuhi standar tertentu.

Mitos membuat kita melihat disabilitas sebagai kutukan. Sains menunjukkan bahwa itu sebuah kekeliruan. Mubadalah kemudian mengingatkan kita bahwa setelah mitos runtuh, masih ada pekerjaan yang lebih besar, yakni membangun hubungan yang adil antar-manusia. Sebab persoalan disabilitas pada akhirnya bukan semata persoalan medis. Ia adalah cermin yang menunjukkan seberapa dewasa sebuah masyarakat memperlakukan warganya yang berbeda.

Dan jika sampai hari ini masih saja ada penyandang disabilitas yang kesulitan untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, transportasi, atau rumah ibadah, mungkin yang perlu kita evaluasi bukanlah kondisi mereka. Ternyata adalah diri kita sendiri yang perlu perbaikan. Karena bisa jadi, selama ini yang kita sebut “Keterbatasan” sebenarnya bukanlah milik mereka, melainkan milik cara berpikir kita. []

*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan mubadalah goes to community kerjasama media mubadalah dengan UIN kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.