Wed,12 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mulailah dari Kebaikan

Mulailah dari Kebaikan

mulailah-dari-kebaikan
Mulailah dari Kebaikan
service

Setiap kali mengisi pengajian Ahad malam di Warung Soto Pak Soleh Tegalrejo Yogyakarta, saya terpaku pada satu kaligrafi ayat Al-Quran yang dipampang di dinding. Bunyinya: Hal jazā’ul-iḥsāni illal-iḥsān. Kata Mbak Siti, putri Pak Soleh, yang sekarang melanjutkan merawat warung yang legendaris itu, ayat tersebut adalah visi hidup ayahnya.

Dari kisah itu, saya diingatkan bahwa ada sesuatu yang sering kita lupakan ketika hendak memulai sebuah pekerjaan, yaitu bagaimana kita memulainya. Kita biasanya lebih sibuk memikirkan hasil, berapa keuntungan yang akan diperoleh, seberapa cepat pekerjaan selesai, seberapa tinggi pencapaian yang ingin diraih, atau seberapa besar pengaruh yang kelak kita dapatkan. Tapi jarang kita bertanya apakah semua itu dimulai dengan cara yang benar dan visi yang tepat. Padahal, awal bukan sekadar titik keberangkatan. Ia membawa semacam jejak yang sering menentukan arah perjalanan.

Rumah yang dibangun tanpa rancangan akan mudah kehilangan bentuk. Perjalanan tanpa tujuan membuat langkah menjadi sekadar perpindahan. Pekerjaan tanpa visi mudah berubah menjadi rutinitas. Demikian pula kehidupan yang dijalani tanpa pikiran yang baik, niat yang baik, dan harapan yang baik, akan mudah terseret oleh keadaan yang tidak jelas arah dan manfaatnya.

Karena itu, nasihat yang perlu kita tanamkan dalam kehidupan adalah mulailah sesuatu dari kebaikan, dengan pikiran yang baik, disusun dengan perencanaan yang baik, diarahkan dengan visi yang baik, dan dijalani dengan ikhtiar yang baik. Letakkan harapan kepada Tuhan, bukan semata-mata kepada hasil yang kita bayangkan.

Perihal ini, Al-Qur’an memberi satu prinsip yang sangat pendek, tetapi luas maknanya, yaitu “Hal jazā’ul-iḥsāni illal-iḥsān”—tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula (QS. al-Rahman [55]: 60). Ayat ini sering dipahami sebagai janji tentang balasan. Namun ia juga dapat direnungkan sebagai sebuah etika kehidupan, yaitu kebaikan perlu menjadi titik awal sebelum kita mengharapkan kebaikan sebagai hasil akhir.

Dari Pikiran yang Baik

Kebaikan hampir selalu bermula dari sesuatu yang tidak terlihat, yaitu pikiran. Sebelum seseorang menolong, ia terlebih dahulu memiliki cara pandang bahwa orang lain layak ditolong. Sebelum seseorang memaafkan, ia harus lebih dahulu membangun ruang batin yang memungkinkan orang lain dipandang sebagai manusia yang memiliki kelemahan. Sebelum seseorang membangun masa depan, ia harus mampu membayangkan bahwa masa depan itu mungkin.

Karena itu, menjaga pikiran sesungguhnya adalah bagian dari menjaga kehidupan. Al-Qur’an mengajarkan prinsip husnuzan  (berprasangka baik) bukan sebagai sikap naif yang menutup mata terhadap kenyataan, melainkan sebagai disiplin batin agar manusia tidak terburu-buru menjadikan prasangka sebagai kebenaran. Kita tetap boleh kritis, waspada, dan berhati-hati. Tetapi kewaspadaan tidak harus berubah menjadi kecurigaan kepada semua orang.

Di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, kemampuan berpikir baik justru semakin penting. Kita setiap hari menerima potongan-potongan informasi, komentar, kemarahan, tuduhan, dan penilaian tentang orang lain. Media sosial membuat kita mudah menyimpulkan sesuatu sebelum memahami seluruh persoalan. Kita sering mengetahui kabar lebih cepat daripada mengetahui kebenarannya. Dalam situasi semacam itu, berpikir baik bukan berarti mudah percaya. Berpikir baik justru berarti tidak mudah membenci sebelum memahami. 

Psikologi modern menunjukkan betapa kuatnya cara seseorang menafsirkan kenyataan terhadap emosi dan perilakunya. Dua orang dapat menghadapi peristiwa yang sama tetapi memberikan makna yang berbeda. Yang satu melihatnya sebagai akhir, yang lain sebagai kesempatan untuk belajar. Yang satu melihat kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu, yang lain melihatnya sebagai informasi bahwa cara yang ditempuh perlu diperbaiki.

Viktor Frankl, melalui pengalaman ekstrem kehidupan dan refleksinya tentang manusia, menunjukkan bahwa manusia memiliki ruang batin untuk menentukan sikap terhadap keadaan yang dihadapinya. Kita tidak selalu dapat memilih apa yang terjadi kepada kita, tetapi kita masih memiliki kemungkinan untuk memilih bagaimana meresponsnya. Di situlah kebebasan manusia berada. Maka, memulai dari kebaikan berarti terlebih dahulu menata cara kita melihat dunia.

Niat Baik Membutuhkan Rencana

Namun pikiran baik belum cukup. Banyak orang memiliki niat baik, tetapi gagal mewujudkannya karena tidak memiliki perencanaan yang baik. Banyak cita-cita yang mulia berhenti sebagai keinginan karena tidak pernah diterjemahkan menjadi langkah konkret.

Di sinilah kebaikan membutuhkan rasionalitas. Kita perlu bertanya: Apa yang hendak dicapai? Mengapa ia penting? Apa langkah yang harus ditempuh? Apa sumber daya yang tersedia? Siapa yang perlu dilibatkan? Apa risikonya? Dan apa yang harus dilakukan ketika kenyataan ternyata berbeda dari yang kita bayangkan?

Perencanaan dengan demikian bukan tanda kurangnya tawakal. Sebaliknya, perencanaan adalah bagian dari ikhtiar. Dalam tradisi Islam, tawakal tidak identik dengan pasrah tanpa usaha. Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Karena itu, doa dan perencanaan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Kita merancang dengan akal, bekerja dengan tenaga, berusaha dengan kesungguhan, lalu menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Ada kebijaksanaan penting di sini: kita bertanggung jawab atas proses, tetapi tidak pernah sepenuhnya menguasai hasil. Kesadaran semacam ini membuat manusia bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadi budak hasil.

Visi Membuat Kebaikan Memilih Arah

Perencanaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar, yaitu visi. Tanpa visi, seseorang bisa sangat sibuk tetapi tidak benar-benar bergerak ke mana-mana. Ia bekerja dari pagi sampai malam, tetapi tidak tahu apakah pekerjaan itu mendekatkannya kepada kehidupan yang ia inginkan. Ia mengumpulkan uang, jabatan, gelar, dan pengakuan, tetapi mungkin kehilangan jawaban atas pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu untuk apa semua itu?

Erich Fromm pernah membedakan orientasi hidup having dan being: kehidupan yang berpusat pada “memiliki” dan kehidupan yang berpusat pada “menjadi”. Perbedaan ini penting. Sebab manusia dapat memiliki banyak hal tanpa benar-benar menjadi manusia yang lebih baik. Visi yang sehat seharusnya tidak hanya menjawab apa yang ingin kita miliki, tetapi juga  yang ingin kita menjadi.

Pertanyaan itu penting bagi individu, tetapi lebih penting lagi bagi lembaga dan masyarakat. Sebuah universitas, misalnya, tidak cukup hanya memiliki gedung, program studi, indikator kinerja, dan berbagai peringkat. Ia perlu juga menjawab untuk apa pendidikan diselenggarakan dan manusia macam apa yang hendak dilahirkannya.

Sebuah bangsa juga tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Ia perlu bertanya: masyarakat seperti apa yang hendak dibangun? Apakah kemajuan membuat manusia semakin bermartabat, atau justru membuat sebagian manusia tertinggal dan kehilangan haknya?

Visi di sini memberikan arah moral kepada kemajuan. Sebab tidak semua yang dapat dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang menguntungkan layak dikejar.

Harapan Bukan Sekadar Angan-Angan

Setelah pikiran, niat, rencana, dan visi, manusia membutuhkan satu kekuatan lain, yaitu harapan. Harapan adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan baik bahkan ketika keadaan belum menunjukkan hasilnya. Viktor Frankl memahami harapan bukan sebagai khayalan, melainkan sebagai kekuatan yang memungkinkan manusia menemukan makna dan bertahan menghadapi penderitaan. Dalam psikologi positif, Martin Seligman dan para peneliti sesudahnya juga menunjukkan pentingnya cara manusia membangun ekspektasi, tujuan, dan kemampuan untuk menemukan jalan menuju tujuan tersebut.

Harapan yang sehat bukan berkata, “Semua pasti baik-baik saja.” Namun harapan yang sehat memberikan pernyataan: “Saya belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi saya masih memiliki alasan untuk berusaha.”

Perbedaan itu penting. Optimisme kosong dapat membuat manusia mengabaikan kenyataan. Harapan justru memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa menyerah kepadanya. Karena itu, harapan harus berjalan bersama tindakan. Kita berharap anak-anak kita tumbuh menjadi manusia baik, maka kita mendidik mereka. Kita berharap masyarakat menjadi lebih adil, maka kita memperbaiki institusi dan perilaku sosial. Kita berharap masa depan lebih baik, maka kita mulai mengerjakannya hari ini.

Harapan yang tidak melahirkan tindakan hanyalah angan-angan. Sebaliknya, tindakan tanpa harapan mudah berubah menjadi kelelahan.

Kebaikan yang Berulang Menjadi Karakter

Di sinilah psikologi bertemu dengan spiritualitas. Satu kebaikan mungkin tampak kecil. Tetapi kebaikan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dipelihara akan menjadi karakter. Dan karakter akhirnya membentuk kehidupan.

Kita tidak menjadi jujur karena satu kali berkata benar. Kita menjadi jujur karena berkali-kali memilih kejujuran ketika berbohong sebenarnya lebih mudah. Kita tidak menjadi sabar karena sekali menahan amarah. Kesabaran tumbuh karena berkali-kali kita memilih tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Begitu pula keberanian, keadilan, kemurahan hati, dan tanggung jawab. Karakter tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil yang terus diulang ketika tidak ada yang melihat. Karena itu, pertanyaan tentang kebaikan sebenarnya bukan hanya: “Apakah hari ini saya melakukan kebaikan?” namun pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah saya sedang menjadi orang yang baik?” Yang pertama menyangkut tindakan, sedangkan yang kedua menyangkut transformasi diri.

Dari Kebaikan Pribadi Menuju Kebaikan Sosial

Kebaikan tidak berhenti pada diri sendiri. Apa yang terjadi di dalam diri seseorang pada akhirnya memengaruhi kehidupan bersama. Cara kita berbicara, mempercayai orang lain, menyelesaikan konflik, memegang janji, dan memperlakukan mereka yang berbeda dari kita ikut membentuk suasana sosial.

Robert Putnam menyebut kepercayaan, jaringan sosial, dan norma timbal balik sebagai bagian penting dari social capital. Masyarakat dengan tingkat kepercayaan dan kerja sama yang tinggi memiliki modal sosial yang memungkinkan warganya bekerja bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Sebaliknya, ketika kepercayaan runtuh, masyarakat menjadi mahal untuk dijalani. Orang mulai mencurigai orang lain. Transaksi membutuhkan semakin banyak pengawasan. Hubungan sosial dipenuhi prasangka. Perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan. Energi masyarakat habis bukan untuk membangun kehidupan bersama, tetapi untuk saling mengawasi dan mempertahankan diri.

Di sinilah kebaikan memiliki dimensi sosiologis. Kejujuran seorang pedagang bukan hanya kebaikan pribadi. Ia membantu menjaga kepercayaan dalam kehidupan ekonomi. Keadilan seorang pemimpin bukan hanya kebajikan moral. Ia memperkuat legitimasi sosial. Kesediaan seseorang mendengarkan orang yang berbeda bukan hanya etika pergaulan. Ia membantu menjaga ruang publik agar tidak berubah menjadi arena permusuhan. Kebaikan seseorang dengan demikian memiliki efek sosial yang lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.

Jangan Mewariskan Keburukan

Bagian paling sulit dari memulai dengan kebaikan adalah ketika kita sendiri pernah menerima keburukan. Orang yang disakiti mudah menyakiti. Orang yang dipermalukan mudah mempermalukan. Orang yang dicurigai mudah belajar mencurigai. Keburukan mempunyai kemampuan untuk diwariskan.

Karena itu, salah satu bentuk kebaikan yang paling tinggi adalah memutus rantai keburukan. Bukan karena kita tidak mampu membalas, melainkan karena kita tidak ingin luka yang kita terima berubah menjadi luka yang kita berikan kepada orang lain. Al-Qur’an bahkan mengajarkan agar keburukan dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Dalam QS. Fussilat [41]: 34 disebutkan bahwa kebaikan dan keburukan tidaklah sama; keburukan hendaknya ditolak dengan cara yang lebih baik.

Ini bukan ajaran untuk membiarkan kezaliman. Keadilan tetap diperlukan. Batas tetap harus ditegakkan. Kesalahan tetap perlu dikoreksi. Tetapi koreksi tidak harus dilakukan dengan kebencian, dan ketegasan tidak harus kehilangan kemanusiaan.

Inilah kedewasaan spiritual, yaitu mampu melawan keburukan tanpa menjadi serupa dengan keburukan yang kita lawan.

Mulai dari yang Kecil

Kita sering membayangkan kebaikan sebagai sesuatu yang besar. Menolong banyak orang. Mendirikan lembaga. Memberikan sumbangan besar. Mengubah kebijakan. Membangun proyek besar. Semua itu baik. Tetapi kebaikan tidak selalu menunggu kemampuan besar.

Ia bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: berbicara dengan santun kepada pasangan, mendengarkan anak tanpa memotong pembicaraannya, menghormati orang yang bekerja untuk kita, mengakui kesalahan, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas, menepati janji, tidak mengambil hak orang lain, atau sekadar memberikan ruang kepada orang lain untuk berbeda.

Peradaban sesungguhnya dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan jutaan manusia secara terus-menerus. Karena itu, jangan menunggu menjadi orang besar untuk memulai kebaikan. Mulailah dari ruang yang kita miliki. Dari keluarga, tempat kerja, kampus, komunitas, percakapan sehari-hari dan dari layar telepon genggam yang berada di tangan kita.

Akhirnya, hidup seperti tanah yang selalu menerima benih. Pikiran adalah benih. Niat adalah benih. Kata-kata adalah benih. Tindakan adalah benih. Kita mungkin tidak segera melihat apa yang tumbuh darinya. Tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk memperlihatkan hasil. Pikiran menjadi sikap. Sikap menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi karakter. Karakter membentuk tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang membentuk kehidupan. Dan kehidupan individu, ketika bertemu dengan kehidupan banyak orang, membentuk masyarakat. Karena itu, sesuatu yang kita mulai hari ini tidak pernah benar-benar hanya menjadi urusan hari ini.

Sebuah prasangka yang kita tanam dapat tumbuh menjadi permusuhan. Sebuah kebencian yang kita pelihara dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Tetapi sebuah kebaikan yang kita mulai juga dapat berjalan jauh melampaui diri kita.

Mungkin kita tidak akan melihat seluruh buahnya. Tidak apa-apa. Petani tidak berhenti menanam hanya karena ia belum melihat buah pada hari pertama. Begitu pula manusia yang percaya kepada kebaikan.

Kita berbuat baik bukan karena selalu yakin akan segera mendapatkan balasan. Tapi kita berbuat baik karena kebaikan itu sendiri merupakan cara untuk menjaga kemanusiaan kita. Di sinilah pesan “Hal jazā’ul-iḥsāni illal-iḥsān” memperoleh makna yang lebih dalam. Kebaikan mungkin kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak kita duga: berupa ketenangan hati, kepercayaan orang lain, hubungan yang lebih sehat, masyarakat yang lebih manusiawi, atau bahkan sekadar perasaan bahwa kita tidak ikut menambah beban keburukan di dunia.

Maka, ketika hendak memulai sesuatu, barangkali kita tidak perlu terlalu tergesa bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”Ada pertanyaan yang lebih penting: “Kebaikan apa yang hendak saya mulai?”

Mulailah dengan pikiran yang baik. Susun dengan perencanaan yang baik. Arahkan dengan visi yang baik. Jalani dengan ikhtiar yang baik. Pelihara dengan kesabaran. Dan titipkan harapan kepada Tuhan.

Kita tidak mampu mengendalikan seluruh dunia, tetapi kita dapat menentukan benih apa yang kita tanam di dalamnya. Di tengah dunia yang semakin bising oleh kemarahan, sinisme, kecurigaan, dan ketergesaan, salah satu bentuk keberanian yang paling sederhana adalah tetap memilih kebaikan. Kebaikan bukan hanya sesuatu yang kita harapkan sebagai balasan, namun kebaikan adalah cara kita memulai kehidupan.[]

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.