Banjul, Arina.id — Ribuan warga kembali menggelar aksi protes di sekitar ibu kota Gambia, Banjul, pada Rabu (9/9/2026) malam hingga Kamis (10/9/2026) dini hari, memprotes pemadaman listrik berkepanjangan. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di sejumlah lokasi, menurut sejumlah sumber dan media lokal.
Aksi tersebut menjadi malam kedua dalam pekan ini ketika demonstran turun ke jalan di negara kecil di Afrika Barat itu. Pemadaman listrik berkepanjangan telah mengganggu kehidupan warga sejak Juni 2026.
Ratusan orang berkumpul di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Sukuta di dekat Banjul dan Kota Manduar. Menurut berbagai laporan media lokal dan unggahan di media sosial, sejumlah pemuda membakar benda-benda di persimpangan jalan utama.
Pemadaman listrik terjadi di tengah musim panas dan berlangsung hingga 48 jam di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menyebabkan makanan membusuk, toko-toko tutup, dan warga mengalami kesulitan tidur.
Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di Bakau, Tanji, dan Tujereng, yang seluruhnya berada di sekitar ibu kota, berdasarkan sejumlah unggahan di media sosial.
Ousainou Jallow, seorang demonstran asal Bakau, mengatakan kepada AFP bahwa wilayahnya tidak mendapat pasokan air selama 24 jam menjelang aksi demonstrasi.
“Ini malam yang sangat berat karena para demonstran terpaksa membubarkan diri ketika polisi paramiliter mulai menggunakan gas air mata,” katanya dikutip dari laman channelstv.com.
Ribuan warga sebelumnya juga turun ke jalan pada Senin (7/9/2026) malam dalam aksi spontan yang diwarnai seruan menentang Presiden Adama Barrow, yang akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada Desember mendatang.
Pada Rabu malam hingga Kamis dini hari, warga di Kerr Serign dan Jambur, yang juga berada di pinggiran Banjul, memblokir sejumlah jalan kecil sepanjang malam.
Pemadaman listrik juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi. Di komunitas nelayan Tanji dan Tujereng, warga mengatakan kelangkaan es menyebabkan hasil tangkapan ikan rusak dan mengancam mata pencaharian mereka.
Pada Selasa (8/9/2026), Barrow berjanji meningkatkan pasokan listrik mulai bulan depan.
Ia mengatakan pemerintah berada dalam “tahap akhir” pemasangan mesin pembangkit baru berkapasitas 24 megawatt di pembangkit listrik Brikama. Pemerintah juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 50 megawatt di Soma.
Aksi demonstrasi tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan protes terkait pemadaman listrik sebelumnya. Aksi itu juga berlangsung beberapa bulan menjelang pemilihan presiden Desember, ketika Barrow berencana mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
Perusahaan penyedia energi Gambia, National Water and Electricity Company (NAWEC), pada pertengahan Agustus mengatakan pemadaman listrik disebabkan lonjakan permintaan, terutama akibat suhu tinggi, serta “kendala dalam impor listrik”.
Direktur utama NAWEC pada pekan ini mengatakan perubahan iklim dan perang di Timur Tengah turut menjadi faktor penyebab krisis pasokan listrik tersebut.
