Mubadalah.id – Gairah, rasa tergila-gila, asmara, “situasi panas”, cinta obsesif, mabuk kepayang… itulah kata-kata yang kita gunakan untuk menjelaskan rasa gembira luar biasa, girang, bahagia, dan gairah tertentu yang akan dialami oleh hampir semua orang pada satu waktu dalam kehidupan mereka.
Bersamaan dengan hal itu muncul juga rasa sedih yang mendalam, tertekan, sakit hati, derita, tersiksa, dan duka. Selama ribuan tahun, para ahli telah mencoba, dengan tingkat yang keberhasilan rendah, untuk menjelaskan cinta romantis.
Biasanya diakhiri dengan pernyataan bahwa hal itu pastilah dikendalikan sedemikian rupa oleh kekuatan di luar diri kita, misalnya hal-hal yang bersifat mistis, supranatural, atau spiritual.
Sementara di lain pihak, kita bisa dengan mudahnya menilai emosi lain pada manusia, seperti rasa depresi, gelisah, obsesi, dan takut.
1970
Sejak tahun 1970-an, manusia mengalami kehausan spiritual akan cinta. Rasa haus ini disebabkan oleh kehancuran struktur sosial yang memberi kita hubungan yang sangat dekat dengan teman, keluarga, dan kekasih, dan itulah norma yang berlaku selama ribuan tahun.
Kita berevolusi sebagai spesies yang memiliki kepedulian terhadap kaum generasi muda, saling melindungi dan mencintai. Serta bergantung kepada manusia lainnya, juga termasuk hidup bersama sebagai unit sosial dan keluarga.
Generasi yang lebih tua mengasihi anak-anak, sementara generasi usia menengah bekerja atau mengumpulkan makanan. Di malam hari, generasi tua menceritakan berbagai kisah kepada anak-anak dan menurunkan warisan ilmu yang mereka miliki mengajarkan pahit-manisnya kehidupan.
Struktur keluarga semacam itu kini hanya ada di kebudayaan primitif, di Timur Tengah, Asia, wilayah Mediterania, dan dalam kebudayaan negara dunia ketiga. Dengan semakin banyaknya orang yang memutuskan untuk melajang atau hidup sendiri, jurang yang membentangi kedua kebudayaan tersebut menjadi semakin lebar.
Selama ribuan tahun atau bahkan lebih, masyarakat telah terstruktur untuk membuat laki-laki dan perempuan hidup bersama-sama. Namun masyarakat masa kini justru memisahkan mereka.
Dengan terkikisnya struktur dasar dalam keluarga telah mengantarkan masyarakat kepada kondisi hilangnya berbagai nilai, anak-anak yang tumbuh besar tanpa ayah, dan kekacauan emosional. []
*)Sumber Tulisan: Buku why Men Want Sex And Women Need Love Karya Allan Pease dan Barbara Pease hlm 13





Comments are closed.