
Sesiku, Permainan Tradisional Khas dari Bengkulu yang Menggunakan Salah Satu Bagian Tubuh
Banyak permainan tradisional sederhana yang banyak dimainkan oleh anak-anak dulunya. Salah satu permainan tradisional, khususnya yang khas berasal dari daerah Bengkulu adalah sesiku.
Mengapa permainan tradisional yang satu ini bisa dibilang cukup sederhana? Sebab sesiku menjadi salah satu permainan tradisional yang cukup mudah dimainkan oleh anak-anak.
Tidak dibutuhkan alat bantu yang mesti dipersiapkan sebelum memainkan permainan tradisional yang satu ini. Dengan demikian, setiap anak bisa saja memainkan permainan tradisional khas dari Bengkulu ini kapan saja bersama teman sebayanya.
Lantas apa saja yang perlu dipahami sebelum memainkan salah satu permainan tradisional khas Bengkulu tersebut? Simak ulasan terkait permainan sesiku dalam artikel berikut ini.
Asal Usul Sesiku, Permainan Tradisional Khas Bengkulu
Dikutip dari buku Seno Undri Rahmadona yang berjudul Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya: Permainan Tradisional Anak Bengkulu, sesiku merupakan salah satu permainan tradisional yang berkembang di daerah Bengkulu. Permainan tradisional ini diyakini berasal dari kalangan masyarakat suku Serawai dulunya.
Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali permainan tradisional ini ditemukan. Namun permainan sesiku dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Nama sesiku sendiri merujuk pada bagian tubuh yang digunakan dalam proses permainan tradisional ini. Dalam bahasa Serawai, kata “Sesiku” memiliki arti siku.
Permainan ini diyakini muncul dari kondisi masyarakat Serawai dulunya. Pada zaman dahulu, masyarakat banyak hidup berkelompok di pedesaan kecil dengan bentang alam yang masih didominasi rimba.
Oleh sebab itu, tidak banyak pilihan hiburan yang bisa dimainkan anak-anak. Dari kondisi inilah, akhirnya permainan sesiku mulai banyak dimainkan dan digemari oleh anak-anak dulunya.
Aturan dalam Permainan
Permainan sesiku sebenarnya tidak memiliki aturan yang rumit. Bahkan permainan ini cocok dimainkan oleh siapa saja, baik dari anak kecil maupun remaja.
Tidak hanya itu, tidak ada alat bantu yang mesti digunakan dalam proses bermainnya. Anak-anak hanya perlu berkumpul dan bersepakat untuk bermain bersama jika ingin memainkan permainan sesiku.
Dalam permainan sesiku, dibutuhkan minimal dua orang pemain untuk memulainya. Jumlah pemain juga bisa lebih dari ini asalkan berjumlah genap yang nantinya dibagi dalam dua kelompok berbeda.
Setelah semua pemain berkumpul, maka mereka bisa menentukan area bermain. Biasanya permainan ini dimainkan di area yang terbuka agar anak-anak bisa bebas bergerak dalam proses bermainnya.
Langkah Bermain
Setelah semua persiapan tersedia, proses bermain sesiku bisa langsung dimulai. Pada awalnya, masing-masing kelompok bisa mengirim satu orang perwakilannya untuk saling berhadapan satu sama lain.
Kedua pemain ini kemudian mengambil posisi terlebih dahulu. Dalam permainan sesiku, para pemain mesti mengangkat kaki kiri dan memegangnya dengan tangan kiri.
Sementara itu, tangan kanan pemain bisa diposisikan bertolak pinggang. Para pemain mesti mempertahankan posisi ini dalam proses bermain.
Ketika permainan dimulai, maka kedua pemain bisa saling beradu untuk menjatuhkan lawannya. Pemain bisa menggunakan sikunya masing-masing untuk menyerang lawannya.
Jika ada pemain yang jatuh, atau berdiri dengan dua kaki, maka dia akan dinyatakan kalah dalam giliran tersebut. Nantinya pemain ini akan digantikan oleh temannya dari kelompok yang sama pada giliran berikutnya.
Proses ini akan terus dilakukan dalam setiap gilirannya. Pemain yang terjatuh akan terus digantikan oleh teman setimnya untuk melawan pihak lawan yang sama.
Nantinya kelompok yang kehabisan pemain terlebih dahulu akan menjadi pihak yang kalah dalam permainan ini. Nantinya proses bermain bisa dimulai kembali dari awal dengan aturan dan cara yang sama seperti semula.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor





Comments are closed.