Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tiga Inklusif

Tiga Inklusif

tiga-inklusif
Tiga Inklusif
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Hampir pasti peluang Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar tertutup untuk bisa terpilih sebagai ketua umum tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tiga Inklusif Tidak mungkin beliau meletakkan jabatan sebagai menteri untuk mencalonkan diri di Muktamar NU di Jombang minggu depan (27-31 Agustus).

Kian ke sini calon utama yang santer disebut tinggal dua orang: Gus Kikin dari Tebuireng Jombang dan Gus Yahya, incumbent.

Melihat bahwa keduanya seperti sedang berhadapan langsung barulah muncul calon lain yang menyebut dirinya “poros tengah”: Gus Rozin dari pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jateng.

Tentu sempat muncul calon-calon lain. Tapi sifatnya lebih karena ada yang mendorong untuk maju. Misalnya tokoh Golkar yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mendorong KH Zulfa Mustofa. Beliau adalah ulama yang sempat jadi penjabat ketua umum PBNU di tengah konflik syuriah dan tanfidziyah. Eksistensi “penjabat ketua umum” ini menguap karena ternyata bukan jalan keluar dari konflik.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong kiai dari Jateng, KH Yusuf Chudlori. Nama ini kian hari juga kian surut.

Berarti tiga calon yang kelihatannya akan bersaing ketat: Gus Yahya, Gus Kikin, dan Gus Rozin. Tiga-tiganya ”darah biru” NU. Semuanya cucu kiai besar di dunia NU. Bahkan tiga-tiganya bisa dibilang tokoh inklusif.

Saking inklusifnya, Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sampai disemprot sebagai antek Yahudi. Gus Yahya telah berjuang sangat keras untuk mengubah NU: agar tidak hanya kaya di akhirat tapi juga bisa kaya di dunia; lewat tambang batu bara. Siapa tahu cita-cita yang belum terwujud itu bisa terjadi di masa kepengurusan periode keduanya.

Gus Kikin? Ia juga sangat inklusif. Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) yang juga ketua PWNU Jatim adalah kiai yang juga pengusaha migas. Saya tidak pernah menyangka Gus Kikin akhirnya mau pulang kampung dan mau didaulat jadi kiai di Tebuireng, Jombang. Padahal ia sudah begitu mapan sebagai pengusaha yang tinggal di Jakarta. Memang, setelah Gus Sholah (Salahuddin Wahid, adik Gus Dur) meninggal, tinggal Gus Kikin-lah dhuriyah yang paling senior di Tebuireng.

Gus Rozin juga inklusif. Juga tidak ambisius –awalnya. Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) maju karena terpanggil sebagai memimpin NU yang netral. Yakni yang tidak terlibat konflik besar antara rais aam syuriah (KH Miftakhul Akhyar) dan ketua umum Tanfidziyah (Gus Yahya).

Gus Rozin adalah lulusan Monash University, Australia setelah kuliah di Paramadina. Ia juga pernah mondok di pesantren Kwagean, Kediri setelah lulus ibtidaiah sampai aliyah di Kajen. Doktornya dari UIN Walisongo, Semarang. Ia juga pernah mendalami filsafat di lembaga Katolik Driyakarya.

Semua berdarah biru yang inklusif. Itulah wajah baru kepemimpinan NU di tingkat pusat. Apakah tiga-tiganya jadi maju tentu akan bisa dilihat tanggal 29 Agustus. Tanggal itu acara-acara awal muktamar sudah selesai. Pendaftaran calon pun dibuka. Bisa mendaftar sendiri juga bisa didaftarkan.

Tiga Inklusif

Yang lebih krusial kelihatannya justru di level kepengurusan dewan syuriah –berkedudukan lebih tinggi daripada kepengurusan eksekutif tanfidziyah.

Pemilihan rais aam (ketua) dewan syuriah tidak lagi lewat pemungutan suara di lantai muktamar. Rais Aam dipilih oleh ”majelis kiai se Indonesia” secara tertutup. Istilahnya Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Masing-masing dewan syuriah NU di cabang (tingkat kabupaten/kota) dan di wilayah (tingkat provinsi) mengajukan sembilan nama. Berarti akan terkumpul ratusan nama. Yang namanya ditulis terbanyak otomatis sebagai rais aam. Delapan lainnya jadi anggota dewan syuriah.

Selama ini tiga nama kiai besar yang muncul ke permukaan: incumbent KH Miftakhul Akhyar, Surabaya; KH Said Agil Siroj (mantan ketua umum tanfidziyah); dan KH Ma’ruf Amin, mantan wakil presiden RI.

Secara teori, cara pemilihan seperti itu sangat bagus. Bisa menghindarkan politik uang. Tapi tidak sepenuhnya begitu. Belakangan ini syuriah di daerah-daerah dikumpulkan oleh kekuatan tertentu: diarahkan untuk memilih siapa. Lalu ditinggali amplop –yang penting isi amplop itu.

Bahkan dari rekaman pembicaraan telepon yang sampai ke saya terdengar ”mainnya” agak kasar. Blangko pencalonan yang sudah diisi nama calon dibagikan. Untuk dimintakan tanda tangan. Lalu ada kesulitan: mereka tidak membawa stempel. Malam itu juga dibikinkan stempel.

Semuanya dibuat tiga rangkap. Rangkap yang akan diserahkan ke panitia sudah dikumpulkan di satu orang tim sukses.

Tentu yang seperti itu belum tentu bisa terlaksana di lapangan. Apa lagi kalau tiba-tiba ada serangan fajar yang peluru amplopnya lebih tebal.

Muktamar NU tinggal seminggu lagi. Para pemain dan broker sedang sibuk-sibuknya. Ini NU. Bukan Muhammadiyah. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.