Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. 11 Kalimat Toxic Orang Tua Zaman Dulu yang Diam-Diam Melukai Mental Anak

11 Kalimat Toxic Orang Tua Zaman Dulu yang Diam-Diam Melukai Mental Anak

11-kalimat-toxic-orang-tua-zaman-dulu-yang-diam-diam-melukai-mental-anak
11 Kalimat Toxic Orang Tua Zaman Dulu yang Diam-Diam Melukai Mental Anak
service

Jakarta

Di balik cara orang tua mendidik anak dari waktu ke waktu, selalu ada cerita yang berbeda. Pola asuh lama kerap dianggap wajar pada zamannya, meski kini mulai dilihat kembali dengan cara pandang yang berbeda.

Setiap generasi punya cara sendiri dalam menyampaikan nasihat dan aturan di rumah. Namun, tidak semua cara yang lama tersebut bisa lagi dipakai di masa sekarang, Bunda.

Di era sekarang, pembahasan soal komunikasi orang tua dengan anak jadi semakin terbuka. Terlebih karena banyak orang tua yang mulai belajar tentang kesehatan mental dan cara berbahasa yang lebih sehat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, Bunda bisa melihat kembali beberapa kalimat toxic orang tua zaman dahulu yang diam-diam bisa melukai mental anak. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

Mengutip dari laman Your Tango, orang tua zaman dahulu sering menggunakan kalimat-kalimat tertentu yang kini cenderung dihindari dan tidak lagi diucapkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.

1. “Kamu benar, Bunda memang orang tua yang buruk”

Kalimat seperti ini sering terdengar di tengah konflik antara anak dan orang tua, terutama saat emosi sedang tinggi. Bunda perlu tahu, ungkapan ini bisa terasa sangat berat bagi anak karena terdengar seperti menyalahkan diri sendiri.

Di era sekarang, banyak orang tua lebih peka terhadap cara komunikasi yang dianggap menekan atau memanipulasi perasaan. Mereka mulai paham bahwa ucapan ini bisa membuat anak merasa bersalah, bukan menyelesaikan masalah.

Jika kalimat ini terus digunakan, dampaknya bisa membuat anak menahan emosi dan takut untuk jujur tentang apa yang mereka rasakan. Padahal, komunikasi yang sehat seharusnya membantu anak merasa aman untuk berbicara, bukan justru tertekan.

2. “Kamu lebih beruntung dibandingkan Bunda waktu kecil”

Kalimat ini kerap terucap saat orang tua ingin menunjukkan bahwa kondisi anak sekarang lebih baik dibanding masa kecil mereka dahulu. Namun, bagi anak, ucapan ini terasa seperti membandingkan dua pengalaman yang sebenarnya tidak sama.

Saat ini, banyak anak dan remaja sudah hidup di tengah tekanan media sosial yang cukup besar, Bunda. Mereka sering terpapar budaya perbandingan yang bikin mereka merasa harus selalu lebih baik dan sempurna di berbagai hal.

3. “Kalau kamu sayang Bunda, kamu akan melakukan ini”

Selanjutnya, kalimat ini biasa digunakan saat orang tua ingin anak menuruti permintaan dengan cepat. Namun bagi anak, ungkapan ini seolah syarat cinta yang membuat mereka merasa harus selalu memenuhi harapan.

Menurut psikolog klinis asal Amerika Serikat, Daniel S. Lobel, pola seperti ini bisa berdampak pada kesehatan emosional anak jika terjadi terus-menerus. Anak dapat merasa cemas, sulit mengenali kebutuhannya sendiri, bahkan mengabaikan perasaannya demi menyenangkan orang tuanya.

4. “Karena Bunda bilang begitu”

Sebuah penelitian dari Acta Psychologica, pola pengasuhan yang dialami orang tua di masa kecil yang penuh tekanan atau trauma tak jarang bisa terulang lagi ke anak.

Ini terjadi begitu saja, terutama saat orang tua sedang ingin cepat mengendalikan situasi. Ungkapan seperti “karena Bunda bilang begitu” biasanya muncul ketika orang tua merasa perlu keputusan segera diikuti.

Namun bagi mereka, cara ini terasa seperti tidak diberi kesempatan untuk memahami alasan di balik aturan tersebut, Bunda.

5. “Jangan terlalu dramatis”

Menurut para ahli seperti psikolog dari Amerika Serikat, Hal Shorey, Ph.D., ungkapan seperti “kamu terlalu dramatis” atau “jangan terlalu sensitif” sebenarnya bisa meremehkan perasaan anak.

Sebuah studi dari Journal of Abnormal Psychology menunjukkan bahwa pola komunikasi yang sering meremehkan emosi anak bisa menimbulkan jarak dalam hubungan orang tua dan anak hingga mereka dewasa.

6. “Bunda akan memberi kamu alasan untuk menangis”

Berikutnya, ungkapan ini sering terucap saat emosi sedang memuncak dan orang tua merasa kewalahan menghadapi sikap anak. Namun, kalimat ini bisa menakutkan bagi mereka, karena terdengar seperti ancaman, bukan nasihat.

Alih-alih menenangkan keadaan, kalimat ini dipakai untuk menutupi rasa tidak nyaman yang sedang dirasakan orang tua. Dalam kondisi seperti itu, fokusnya jadi bergeser dari memahami anak menjadi menghentikan situasi yang terjadi.

7. “Lupakan saja, hidup terus berjalan”

Kadang, ada momen ketika anak sedang merasakan emosi yang tidak nyaman, tapi orang tua meminta mereka untuk segera melupakannya. Seolah-olah semua perasaan itu bisa hilang begitu saja tanpa perlu dipahami terlebih dahulu.

Padahal, emosi yang berat tidak selalu bisa diabaikan begitu saja, Bunda. Jika anak terus diminta “lanjut saja, hidup tetap berjalan”, mereka bisa belajar untuk menahan perasaannya sendiri.

8. “Jangan pulang sebelum lampu jalan menyala!”

Di era sekarang, informasi tentang keamanan anak sangat mudah didapat, Bunda. Karena itu, banyak orang tua jadi lebih waspada dan cenderung melindungi anak secara berlebihan.

Dahulu, anak-anak bebas bermain di luar rumah sampai sore hari. Sekarang, justru banyak yang diminta tetap di rumah, meski ada beberapa penelitian seperti dari University College London yang menyebutkan bermain tanpa pengawasan juga bermanfaat.

Walaupun tujuannya baik untuk menjaga anak, sikap terlalu protektif ini membuat mereka jadi kurang leluasa mencoba hal-hal baru. Akhirnya, anak pun lebih sering berada di rumah karena dianggap tempat paling aman.

9. “Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan”

Banyak orang tua dahulu tumbuh dengan keyakinan bahwa anak bisa menjadi apa pun yang diinginkan. Hal ini memang sering memotivasi anak untuk punya cita-cita tinggi sejak kecil.

Namun sekarang, kehidupan terasa lebih menantang dengan adanya perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi. Maka dari itu, sebagian anak muda jadi lebih realistis dalam menentukan arah hidupnya.

Sebagai orang tua, kita tetap perlu mendukung anak untuk punya tujuan dan semangat, Bunda. Tapi di saat yang sama, mereka juga perlu dibimbing agar memahami kemampuan dan kondisi yang ada di sekitarnya.

10. “Ini semua salah kamu”

Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Lynn Margulis, menuturkan bahwa ketika orang tua sering membuat anak merasa bersalah, itu bisa menjadi bentuk tekanan emosional.

Kalimat seperti “ini semua salah kamu” dapat membuat anak merasa dirinya selalu jadi penyebab masalah. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa cemas dan takut melakukan kesalahan.

Bahkan saat mereka hanya menyampaikan pendapat atau berbuat hal kecil yang keliru saja, mereka jadi merasa bersalah berlebihan, Bunda.

11. “Tunggu sampai ayahmu pulang!”

Berdasarkan sebuah studi di Children and Youth Services Review, ancaman atau tekanan dengan kalimat seperti ini bisa berdampak pada perilaku anak. Mereka jadi lebih mudah menunjukkan sikap agresif dan kesulitan mengatur emosinya sendiri.

Enggak cuma itu, kalimat ini juga membuat anak merasa takut dan tidak nyaman di rumahnya sendiri. Kabar baiknya, kini banyak orang yang mulai menghindari cara komunikasi seperti itu.

Itulah beberapa kalimat toxic orang tua zaman dahulu yang diam-diam bisa memengaruhi kesehatan mental anak. Semoga penjelasannya dapat bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.