Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Technology
  3. Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Ini Janjikan Pendinginan Super Irit

Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Ini Janjikan Pendinginan Super Irit

cuma-butuh-1-volt!-teknologi-ac-berbasis-garam-ini-janjikan-pendinginan-super-irit
Cuma Butuh 1 Volt! Teknologi AC Berbasis Garam Ini Janjikan Pendinginan Super Irit
service


Foto: Freepik

Teknologi.id –
 Pendingin ruangan saat ini sudah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama di tengah suhu global yang kian meningkat. Namun, di balik kesejukan yang dihasilkan, teknologi AC konvensional menyisakan persoalan serius bagi lingkungan karena masih bergantung pada bahan kimia yang disinyalir berbahaya bagi lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, para ilmuwan kini menghadirkan terobosan tak terduga seperti teknologi pendingin yang memanfaatkan garam disulap sebagai komponen utama sistem AC (Air Conditioner).

Berdasarkan penjelasan dari IFL Science pada hari Minggu (18/1/2026),  sistem pendingin yang umum digunakan saat ini bekerja dengan prinsip memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar. Proses tersebut melibatkan cairan penyerap panas yang diuapkan menjadi gas, dialirkan melalui sistem tertutup, lalu dikondensasikan kembali menjadi cairan. Siklus ini diulang terus-menerus untuk menjaga suhu tetap dingin. Teknologi ini terbukti sangat efektif dan menjadi standar pada kulkas, AC, hingga dispenser air minum.

Meski efisien, material pendingin yang digunakan dalam sistem tersebut menimbulkan dampak lingkungan yang serius. Kebocoran zat pendingin ke atmosfer dapat memperparah efek rumah kaca dan merusak lapisan ozon. Kondisi ini mendorong para peneliti mencari alternatif sistem pendingin yang lebih aman dan berkelanjutan.

Mendorong Teknologi Alternatif yang Lebih Ramah Lingkungan 

Pengembangan terhadap pendekatan baru dalam menyerap dan memindahkan energi panas kemudian dilakukan oleh pihak Lawrence Berkeley National Laboratory, University of California, Berkeley dalam penelitannya. Alih-alih mengandalkan penguapan gas berbahaya, mereka memanfaatkan energi yang tersimpan dan dilepaskan saat suatu material berubah bentuk, mirip dengan proses mencairnya es.

Sebagai ilustrasi sederhana, ketika suhu ruangan meningkat, es akan mencair. Proses pencairan tersebut menyerap panas dari lingkungan sekitarnya, sehingga area di sekitarnya terasa lebih dingin. Prinsip inilah yang menjadi dasar pemikiran para ilmuwan dalam menciptakan sistem pendinginan alternatif.

Baca juga: Kapan Harus Tambah Freon AC? Simak di Sini!

Tantangan utamanya adalah menemukan cara “mencairkan es” tanpa harus menaikkan suhu. Solusi yang ditemukan adalah dengan menambahkan partikel bermuatan energi yang dikenal sebagai ion. Proses ini memungkinkan perubahan bentuk material tanpa membutuhkan panas berlebih. Contoh penerapan prinsip ini sebenarnya sudah dikenal luas, yakni penggunaan garam untuk mencegah pembentukan es di jalan raya saat musim dingin.

Siklus Ionokalori sebagai Solusi Tantangan

Dalam penelitian ini, siklus perubahan bentuk material dengan bantuan ion tersebut disebut sebagai siklus ionokalori (ionocaloric cycle). Menurut Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory, hingga kini belum ada solusi pendinginan alternatif yang mampu bekerja efisien, aman, dan ramah lingkungan secara bersamaan. Ia menilai siklus ionokalori memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan tersebut.

Para peneliti menguji garam berbasis natrium dan yodium untuk mencairkan senyawa etilena karbonat. Menariknya, cairan yang dihasilkan memanfaatkan karbon dioksida, yang juga umum digunakan dalam baterai lithium-ion. Hal ini membuat proses pendinginan tersebut tidak hanya bebas emisi, tetapi bahkan berpotensi menghasilkan emisi negatif.

Baca juga: Sendok Buatan Perusahaan Jepang Ini Bisa Buat Makanan Terasa Asin Tanpa Ada Garam!

Hasil uji coba menunjukkan perubahan suhu hingga 25 derajat Celcius hanya dengan “charge” listrik sebesar 1 volt. Angka ini dinilai sangat menjanjikan jika dibandingkan dengan konsumsi energi sistem pendingin konvensional.


Foto: Freepik

Garam Berbasis Nitrat menjadi Pilihan Paling Tepat

Saat ini, para peneliti masih berfokus mengembangkan sistem yang lebih praktis agar teknologi ini dapat diterapkan secara komersial. Salah satu tantangan utama adalah menemukan jenis “garam” yang paling efektif dalam menarik panas dari ruangan. Pada 2025, mereka menemukan bahwa garam berbasis nitrat menunjukkan efisiensi tertinggi dalam proses tersebut.

Jika pengembangan ini terus berlanjut, teknologi berbasis garam berpotensi menjadi revolusi baru dalam produk pendingin ruangan (AC). Selain lebih hemat energi, sistem ini juga menawarkan solusi ramah lingkungan yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Di masa depan, bukan tidak mungkin AC rumah tangga hingga gedung perkantoran akan memanfaatkan teknologi sederhana namun inovatif ini.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(IR/ZA)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.