Wed,19 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Kecemasan pada Anak Meningkat, Kenali Tanda-tanda dan Cara Membantunya

Kecemasan pada Anak Meningkat, Kenali Tanda-tanda dan Cara Membantunya

kecemasan-pada-anak-meningkat,-kenali-tanda-tanda-dan-cara-membantunya
Kecemasan pada Anak Meningkat, Kenali Tanda-tanda dan Cara Membantunya
service

Setiap anak tentu pernah merasa cemas, dan kondisi tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, tahukah Bunda jika cemas yang tidak ditangani dengan baik, bisa berubah menjadi gangguan kecemasan yang akan mempengaruhi keseharian anak.

Karena itu, penting bagi Bunda untuk mengenali tanda-tanda anak yang mulai mengalami gangguan kecemasan. Tidak hanya itu, Bunda juga perlu tahu cara membantu anak menumbuhkan kemampuan agar mereka dapat mengelola perasaan cemasnya sendiri.

Beruntung, penelitian terbaru kini menunjukkan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah kecemasan berkembang lebih jauh. Yuk, simak informasi berikut ini agar Bunda dapat mendukung anak dengan cara yang tepat dan efektif!

Meningkatnya gangguan kecemasan pada anak

Sejak pandemi COVID-19 lalu, gangguan kecemasan pada anak semakin meningkat. Hal ini diakibatkan oleh terbatasnya interaksi sosial serta penutupan wilayah (lockdown) yang membuat mental anak-anak terguncang.

Meski sering dikaitkan dengan pandemi, gangguan kecemasan sebenarnya sudah banyak dialami anak-anak sejak sebelum COVID-19. Faktor genetik dan lingkungan menjadi penyebab yang paling umum. Namun, pandemi COVID-19 ikut memperparah kondisi ini sehingga angka gangguan kecemasan pada anak meningkat tajam.

American Psychological Association (APA) melaporkan bahwa hasil diagnosis tingkat kecemasan pada anak meningkat sekitar 20 persen antara tahun 2007 hingga 2012. Bahkan, setelah pandemi COVID-19, angka tersebut pun dilaporkan mengalami peningkatan yang signifikan.

Kondisi ini menyebabkan lebih dari satu dari setiap 10 anak mengalami gangguan kecemasan, dan kini meningkat menjadi satu dari setiap lima anak yang harus berurusan dengan gangguan kecemasan di tingkat klinis.

Meski begitu, tak sedikit  juga anak yang alami gangguan kecemasan di tahap ringan. Apabila Bunda merasa anak mengalami gangguan kecemasan, segera lakukan konsultasi dengan dokter anak agar mendapat penanganan yang terbaik.

Tanda anak alami gangguan kecemasan

Melansir dari laman resmi Children’s Hospital of Orange County, ada beberapa tanda gangguan kecemasan pada anak yang dapat dirasakan secara langsung. Berikut penjelasannya, Bunda:

1. Perubahan perilaku dan sosial

Terdapat beberapa tanda yang dapat Bunda amati melalui perilaku dan cara bersosialisasi anak. Misalnya, enggan bergaul atau menghadiri acara ramai, menghindari hal-hal yang memicu kecemasan, lebih suka menyendiri dan menarik diri dari lingkungan, serta menjadi lebih manja dengan emosi yang cenderung sensitif.

2. Perubahan pola pikir dan emosi

Selain itu, anak yang mengalami gangguan kecemasan cenderung menunjukkan pola pikir dan emosi yang kurang stabil, Bunda. Tanda-tandanya antara lain merasa takut berlebihan terhadap penilaian teman sebaya, sering mengulang-ulang kejadian di kepala untuk memastikan tidak melakukan kesalahan, serta menunjukkan sikap yang perfeksionis.

3. Muncul gejala fisik

Tak hanya itu, gangguan kecemasan juga dapat dilihat melalui gejala-gejala fisik. Jika anak sering mengalami sakit perut disertai mulas atau mual tanpa penyebab yang jelas, pusing atau sakit kepala berulang, serta kesulitan tidur, hal tersebut bisa menjadi tanda gangguan kecemasan, Bunda.

Cara membantu anak atasi gangguan kecemasan

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychiatry meneliti efektivitas berbagai terapi untuk gangguan kecemasan. Dari penelitian ini ditemukan beberapa jenis terapi yang direkomendasikan oleh dokter dan terapis sebagai cara membantu anak mengelola rasa cemasnya.

Terapi-terapi ini telah diuji dan dinyatakan berhasil membantu mengatasi kecemasan, meski tingkat efektivitasnya berbeda-beda. Berikut empat terapi yang telah diteliti dan berhasil membantu mengatasi gangguan kecemasan pada anak:

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Terapi Perilaku Kognitif adalah jenis terapi yang membantu mengatasi kecemasan dengan memahami pikiran dan perilaku. Terapi ini mengajak anak untuk mengenali pikiran dan perasaan yang memicu kecemasan, lalu menanganinya secara langsung.

Misalnya, anak awalnya berpikir, “Oh tidak, potongan rambutku jelek. Semua orang pasti akan menertawakanku.” Lama-kelamaan, pikiran tersebut berubah menjadi rasa cemas karena ia terus membayangkan teman-teman sekelas menertawakannya, yang tentu membuatnya merasa takut dan tidak nyaman.

Terapis akan membantu anak mendorong pikiran tersebut dari sudut pandang yang lebih positif, seperti, “Aku merasa lebih nyaman dan bahagia dengan potongan rambut baruku, meskipun orang lain mungkin punya pendapat berbeda.”

2. Acceptance and Commitment Therapy (ACT)

Acceptance and Commitment Therapy (ACT) atau Terapi Berbasis Penerimaan dan Komitmen adalah terapi yang membantu anak menjadi lebih fleksibel secara mental. Anak dilatih untuk menghadapi masalah dan perasaan yang tidak nyaman tanpa harus menghindari atau bereaksi berlebihan.

Anak dilatih untuk fokus pada apa yang sedang terjadi saat ini, alih-alih terus memikirkan hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu atau yang akan terjadi di masa depan. Anak pun didorong untuk berani memegang kendali atas diri dan tindakannya, sehingga emosi tidak mengendalikannya.

Misalnya, seorang anak merasa cemas karena akan ujian. Jika ia memiliki fleksibilitas mental, maka ia akan sadar dan berpikir, “Oke, sekarang aku sedang cemas, jantungku berdebar, tapi aku tetap harus fokus membaca buku ini,” alih-alih berpikir seperti, “Duh, nanti kalau gagal gimana ya?”.

3. Virtual Reality Exposure Therapy (VRET)

Virtual Reality Exposure Therapy (VRET) adalah jenis terapi yang digunakan untuk membantu mengatasi ketakutan atau fobia dengan bantuan teknologi realitas virtual (VR). Melalui simulasi VR, anak dilatih untuk menghadapi dan mengelola rasa takut atau kecemasannya dalam situasi yang aman dan terkontrol.

4. Latihan fisik dan olahraga

Selain terapi yang berkaitan dengan mental dan pikiran, para ahli juga merekomendasikan olahraga atau aktivitas fisik. Aktivitas fisik diketahui memiliki banyak manfaat, tidak hanya bagi kesehatan tubuh, tetapi juga untuk kesehatan mental, termasuk membantu mengurangi kecemasan.

Demikian informasi yang disampaikan mengenai tanda-tanda gangguan kecemasan pada anak, serta upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.