Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Warga Huntara Aceh Tamiang Keluhkan Air Keruh dan Listrik, PCNU Minta Perhatian Serius

Warga Huntara Aceh Tamiang Keluhkan Air Keruh dan Listrik, PCNU Minta Perhatian Serius

warga-huntara-aceh-tamiang-keluhkan-air-keruh-dan-listrik,-pcnu-minta-perhatian-serius
Warga Huntara Aceh Tamiang Keluhkan Air Keruh dan Listrik, PCNU Minta Perhatian Serius
service

Aceh Tamiang, NU Online

Warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang yang kini tinggal di hunian sementara (huntara) mengeluhkan buruknya fasilitas dasar, terutama ketersediaan air bersih dan beban biaya listrik yang harus mereka tanggung sendiri.

Keluhan tersebut disampaikan warga Huntara II yang berada di sekitar Kantor Bupati Aceh Tamiang, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru. Kondisi yang diharapkan menjadi tempat tinggal sementara yang layak justru dinilai belum memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Salah seorang warga, Lisa, mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sejak menempati huntara. Ia menyebut air yang tersedia dalam kondisi keruh dan berbau, sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami di sini kesulitan air. Sejak tinggal di sini, airnya keruh, berbau, dan anak saya yang masih kecil dengan kulit sensitif sampai alergi dan gatal-gatal,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa adanya perbaikan signifikan. Dampaknya pun mulai dirasakan, terutama oleh anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan.

“Awalnya kami kira lama-kelamaan airnya akan jernih, tapi sampai sekarang tetap keruh dan justru membawa penyakit,” katanya.

Selain persoalan air bersih, warga juga mengeluhkan biaya listrik yang harus dibayar melalui sistem token. Dalam kondisi ekonomi yang sulit pascabencana, biaya tersebut menjadi beban tambahan bagi keluarga.

“Listrik seminggu bisa Rp50 ribu. Kami sudah tidak punya penghasilan lagi, jadi ini sangat berat,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Hendra Gunawan, warga lainnya, yang menyoroti kualitas pembangunan sumur bor di lokasi huntara. Ia menilai hasil yang ada tidak sebanding dengan anggaran yang disebut cukup besar.

“Kalau memang anggaran sumur bor besar, tapi hasilnya seperti ini, tentu kami kecewa. Airnya masih keruh dan berbau,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi agar fasilitas yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Menanggapi kondisi tersebut, Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang menegaskan bahwa persoalan kebutuhan dasar warga huntara tidak boleh diabaikan dan harus segera ditangani secara serius oleh pemerintah.

“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Jika ini tidak terpenuhi, maka akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti beban biaya listrik yang dinilai tidak seharusnya ditanggung sepenuhnya oleh warga dalam kondisi darurat.

“Dalam situasi bencana, seharusnya ada kebijakan yang meringankan beban masyarakat, termasuk soal listrik. Jangan sampai mereka yang sudah terdampak justru semakin terbebani,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi riil yang dialami masyarakat serta mempercepat solusi konkret.

“Harus ada evaluasi menyeluruh, baik dari sisi pembangunan fasilitas maupun pengelolaannya. Ini menyangkut kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memperhatikan kondisi warga terdampak bencana agar proses pemulihan tidak hanya sebatas penyediaan tempat tinggal, tetapi juga menjamin kelayakan hidup.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki fasilitas air bersih serta memberikan keringanan biaya listrik. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih layak selama masa pemulihan pascabencana.

“Kami hanya butuh air bersih yang layak dan bantuan untuk meringankan beban hidup kami. Di sini banyak anak kecil dan bayi,” ujar Lisa.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan pascabencana tidak hanya soal relokasi atau penyediaan hunian sementara, tetapi juga memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat secara layak dan berkelanjutan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.