KABARBURSA.COM — Pemerintah mulai menggulirkan rencana wajib penggunaan bahan bakar campuran bioetanol sebesar 10 persen atau E10 pada seluruh bensin di Indonesia. Kebijakan ini digadang-gadang menjadi bagian dari dorongan energi bersih, tapi di balik itu tersimpan sejumlah catatan teknis yang tak bisa diabaikan.
Saat ini, pasar sebenarnya sudah mengenal bensin campuran bioetanol. Produk seperti Pertamax Green 95 dari Pertamina telah menggunakan campuran bioetanol 5 persen atau E5 yang diatur melalui kebijakan Kementerian ESDM.
Namun, rencana menaikkan kadar menjadi 10 persen dinilai bukan sekadar soal menambah campuran. Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, menyebut kebijakan ini perlu dilihat secara hati-hati.
“Kebijakan ini bisa memiliki banyak keunggulan, tetapi juga tantangan teknis yang perlu diantisipasi,” ujarnya, dikutip dari laman IPB University, Sabtu,11 April 2026.
Dari sisi kebijakan, penerapan E10 dianggap bisa memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan target pengurangan emisi karbon dan agenda net zero emission.
Namun, Leopold mengingatkan dampak lingkungan dari bioetanol tidak otomatis positif. Efektivitasnya sangat bergantung pada sumber bahan baku dan proses produksinya.
“Saat ini, sumber utama bioetanol masih didominasi biomassa generasi pertama, yakni tanaman penghasil gula dan pati. Masalahnya, bahan baku ini masih bersaing dengan kebutuhan pangan,” jelasnya.
Artinya, dorongan energi hijau berpotensi berbenturan dengan ketahanan pangan jika tidak diatur secara hati-hati. Karena itu, ia mendorong agar pengembangan bioetanol mulai bergeser ke bahan baku generasi kedua yang tidak mengganggu pasokan pangan.
“Jika dilakukan dengan bijak, potensi pengurangan emisi gas rumah kaca tentu dapat benar-benar diwujudkan,” pungkasnya.
Peluang Industri, Risiko di Lapangan
Di sisi lain, kebijakan ini membuka peluang ekonomi baru. Industri bioetanol dalam negeri berpotensi tumbuh, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, terutama di sektor hulu seperti pertanian.
“Apabila bioetanol bisa diproduksi sepenuhnya di dalam negeri, kemandirian energi Indonesia akan semakin tangguh,” tutur Leopold.
Namun, manfaat ini tetap bergantung pada kesiapan industri domestik. Tanpa pasokan bahan baku dan infrastruktur yang memadai, kebijakan ini berisiko hanya menjadi beban tambahan.
Selain aspek ekonomi dan lingkungan, tantangan terbesar justru ada pada sisi teknis bahan bakar itu sendiri. Leopold menjelaskan bahwa etanol memiliki sifat higroskopis, mudah menyerap air dari udara. Karena itu, kualitas campuran menjadi krusial.
“Jika kadar air terlalu tinggi, campuran bensin-etanol dapat mengalami pemisahan fasa yang berisiko menimbulkan korosi dan gangguan aliran bahan bakar,” jelasnya.
Untuk itu, kadar air dalam etanol harus dijaga sangat rendah, bahkan di bawah 0,3 persen volume per volume. Jika tidak, risiko kerusakan sistem bahan bakar bisa meningkat.
Ia juga mengingatkan perlunya standar operasional yang lebih ketat dalam distribusi dan penyimpanan. Kandungan etanol yang lebih tinggi membuat bahan bakar lebih rentan terhadap perubahan kualitas.
“Memang ada isu juga saat pemakaian di konsumen, sebagaimana isu pada biodiesel, agar jangan terlalu lama bahan bakar tidak digunakan di tangki mobil yang memungkinkan hal di atas terjadi,” katanya.
Di balik berbagai tantangan tersebut, ada juga sisi positif dari penggunaan E10 dari sisi performa kendaraan.
Meski bioetanol memiliki nilai kalor lebih rendah dibanding bensin murni, senyawa ini memiliki angka oktan tinggi. Artinya, campuran E10 justru bisa meningkatkan performa mesin tertentu.
“Kendaraan modern dengan rasio kompresi besar justru diuntungkan dengan bahan bakar ber-RON tinggi seperti E10,” tuturnya.
Rencana penerapan E10 pada akhirnya berada di persimpangan antara ambisi energi bersih dan kesiapan teknis di lapangan. Di satu sisi, kebijakan ini membuka jalan menuju energi terbarukan dan kemandirian energi. Namun di sisi lain, risiko teknis, tekanan terhadap pangan, hingga kesiapan industri menjadi pekerjaan rumah yang tak ringan.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.