Bincangperempuan.com– Sejak Aurelie Moeremans merilis memoar hidupnya, Broken Strings. Akhirnya banyak yang membicarakan isu child grooming.
Dahulu, banyak orang yang awalnya mengira kisah masa lalu Aurelie yang terjebak hubungan manipulatif sejak usia 15 tahun dengan lelaki dewasa hanyalah drama toxic relationship.
Namun, narasi dalam Broken Strings menampar kesadaran publik. Buku ini membuka mata kita bahwa “kasih sayang” yang ia terima saat itu bukanlah cinta beda usia, melainkan sebuah eksploitasi. Lalu, apa sebenarnya child grooming itu?
Child Grooming: Bentuk Manipulasi Psikologis
Predator anak biasanya digambarkan sebagai sosok menyeramkan yang tiba-tiba menculik korban di jalanan sepi, padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Para ahli mendefinisikan child grooming sebagai tindakan dan perilaku terencana yang sengaja digunakan oleh predator seksual untuk mendapatkan akses ke anak-anak yang ingin mereka lecehkan atau eksploitasi.
Masyarakat sering kali terjebak pada narasi bahwa predator memilih korban secara acak, sehingga kewaspadaan hanya difokuskan pada bahaya orang asing (stranger danger). Padahal sebagian besar pelaku kekerasan seksual justru mengenal dan memiliki hubungan tertentu dengan korbannya.
Pelaku akan berusaha memanipulasi anak melalui ikatan emosional dan rasa percaya untuk. Hebatnya, manipulasi ini tidak hanya menargetkan anak. Predator juga melakukan grooming terhadap orang dewasa (orang tua korban), keluarga, dan bahkan seluruh komunitas.
Baca juga: Watch Out, Di Balik Serunya Roblox, Predator Digital Mengintai Anak
Bagaimana Mencegahnya? Panduan untuk Orang Dewasa
Memahami cara predator memanipulasi anak dan keluarga adalah langkah awal yang vital untuk menjaga keselamatan. Dan ini bukan hanya tanggung jawab mutlak ayah dan ibu, melainkan seluruh anggota keluarga. Jika di rumahmu ada anak-anak—entah itu adik, keponakan, atau sepupu—kamu sangat bisa menerapkan langkah-langkah ini. Merangkum berbagai sumber, berikut ini beberapa langkah konkret yang bisa diterapkan untuk mencegah grooming:
1. Bangun Saluran Komunikasi yang Aman
Jadikan keluarga sebagai tempat berpulang yang aman bagi anak. Usahakan untuk secara rutin memberi anak kesempatan berbicara dengan bebas. Dengarkan mereka secara aktif sehingga ketika mereka bercerita, anak tahu bahwa pemikiran dan kekhawatirannya tidak akan diremehkan atau justru membuat mereka dimarahi. Tekankan bahwa seaneh atau setidaknyaman apa pun topik yang ingin dibahas, keluarga selalu ada untuk mendengarkan dan mempercayai mereka tanpa penghakiman.
2. Ajarkan Berkata “Tidak”
Dorong anak untuk menggunakan suara mereka secara tegas dalam mengekspresikan apa yang mereka suka dan tidak suka. Hargai opini mereka akan membuat anak merasa mampu membela diri sendiri dan merasa berdaya. Anak perlu tahu bahwa kadang kala, menolak permintaan orang dewasa adalah hal yang benar. Kita memang ingin anak menghormati orang dewasa, tetapi jika anak diajarkan untuk patuh secara buta tanpa boleh mempertanyakan situasi, mereka tidak akan mampu melindungi diri saat ada orang dewasa yang membahayakan mereka.
3. Berikan Pemahaman tentang Persetujuan (Consent)
Persetujuan adalah tindakan memberikan izin secara eksplisit. Sama halnya seperti menandatangani formulir di rumah sakit, dalam hubungan sosial apa pun, setiap individu memiliki hak untuk memberi atau menolak persetujuan atas tubuhnya. Anak boleh mengizinkan seseorang memegang tangannya atau memeluknya, dan mereka juga punya hak mutlak untuk menolaknya. Persetujuan harus diberikan secara bebas dan berupa kata “Ya!” yang jelas. Ajarkan pemahaman otoritas tubuh ini sedini mungkin.
4. Waspadai Sosok yang Terlalu Charming
Perhatikan orang-orang di sekitar yang perilakunya sangat menawan (charming). Ingatlah bahwa memikat hati orang lain bisa jadi merupakan sebuah taktik. Jika kamu merasa seseorang bersikap terlalu manis tanpa alasan, perhatikan lebih jeli. Apakah kata-katanya selaras dengan tindakannya? Terkadang, pesona digunakan untuk memanipulasi orang tua agar memberikan akses yang lebih mudah kepada anak mereka.
5. Hati-hati dengan Kedekatan Fisik yang Berlebihan
Perhatikan bagaimana orang dewasa lain menyentuh atau berinteraksi secara fisik dengan anak. Di mana posisi mereka saat berdiri atau duduk di dekat anak? Apakah mereka terus-menerus menyentuh, meremas bahu, mendorong anak untuk duduk di pangkuan, atau selalu ingin menggendong anak? Waspadai orang dewasa yang melakukan sentuhan fisik secara berulang dan tidak wajar kepada anak.
6. Kenali Sikap Orang Dewasa yang Bertingkah Layaknya “Teman Sebaya”
Waspadai orang dewasa yang selalu mencari cara untuk bermain dengan anak seolah-olah mereka adalah teman sebayanya. Hal ini memang tidak selalu menjadi pertanda bahaya, terutama jika orang tersebut masih bisa bersikap tegas layaknya orang dewasa saat aturan dilanggar.
Namun, kamu harus berhati-hati pada orang dewasa yang memiliki ketertarikan obsesif pada dunia anak-anak, seperti mengoleksi mainan yang menargetkan anak kecil, dan sering berlindung di balik kalimat pembenaran seperti, “Aku ini juga anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa.”
7. Ajarkan Perbedaan “Rahasia” dan “Kejutan”
Beri tahu anak bahwa mereka harus segera melapor jika menerima hadiah dari orang dewasa mana pun—termasuk guru, kerabat, atau orang tua teman. Jelaskan perbedaan yang sangat penting antara rahasia dan kejutan. Kejutan, seperti kado ulang tahun, hanya disembunyikan sementara waktu untuk kebahagiaan. Sedangkan, rahasia adalah sesuatu yang disuruh untuk disembunyikan selamanya dari orang tua. Tekankan bahwa interaksi apa pun saat anak berduaan dengan orang dewasa harus selalu diceritakan.
Baca juga: Kenapa Ada Batas Usia Legal? Memahami Batasan dalam Hubungan
Rumah Sebagai Ruang Aman
Pada akhirnya, perlindungan terbaik melawan grooming berakar pada hubungan yang sehat antara keluarga terutama orang tua dan anak. Penting sekali bagi orang tua untuk membangun ikatan emosional yang baik sejak dini. Ketika anak merasa cukup disayangi, didengarkan, dan divalidasi di rumah, mereka tidak akan mudah mencari “pahlawan” atau figur pengganti di luar sana saat mereka beranjak remaja. Kedekatan inilah yang akan mencegah predator menemukan celah kesepian untuk memanipulasi mereka.
Selain memperkuat fondasi di rumah, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting di era digital yaitu menjaga privasi anak. Jika anak masih kecil, hindarilah mengekspos kehidupan dan wajah mereka secara berlebihan di media sosial (sharenting). Konten yang bagi kita terlihat lucu dan menggemaskan, bisa jadi direkam, disimpan, dan disalahgunakan oleh predator di luar sana. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana niat jutaan pasang mata di internet. Melindungi masa kecil mereka tidak hanya melindungi anak dari bahaya yang terlihat, tetapi juga tentang memberikan privasi mutlak bagi mereka untuk tumbuh tanpa harus menjadi konsumsi publik yang tidak bertanggung jawab.
Referensi:
- Dee Norton Child Advocacy Center. (n.d.). Five strategies to help children identify grooming and prevent sexual abuse.https://www.deenortoncenter.org/events-resources/five-strategies-to-help-children-identify-grooming-and-prevent-sexual-abuse/
- Michigan State University Extension. (n.d.). Preventing grooming [PDF]. Michigan State University.https://www.canr.msu.edu/creating-safe-environments/uploads/files/Final%20-%20Preventing%20Grooming.pd





Comments are closed.