KABARBURSA.COM — Minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah rumah tangga ternyata menyimpan nilai ekonomi besar. Jika dikelola dengan benar, limbah ini bisa menjadi bahan baku Sustainable Aviation Fuel atau SAF, sekaligus mendukung transisi energi hijau.
Namun di balik potensi tersebut, tantangan utama justru terletak pada kesiapan ekosistem dari hulu hingga hilir yang dinilai belum sepenuhnya terbangun.
Peneliti postdoctoral di BRIN, Arif Rahman, mengatakan pengembangan SAF bukan sebatas isu teknologi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan jangka panjang.
Ia menjelaskan industri penerbangan global telah menargetkan netral karbon pada 2050 dengan kebutuhan pengurangan emisi mencapai 21,2 gigaton. Salah satu jalannya adalah menggantikan bahan bakar fosil dengan bahan bakar ramah lingkungan seperti SAF.
“Hasil kajian dari Life Cycle Assessment memberikan dasar ilmiah untuk mengambil keputusan terkait pengembangan kebijakan investasi dan inovasi teknologi dalam produksi SAF yang efektif menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu, 11 April 2026.
Di lapangan, upaya pengumpulan minyak jelantah mulai dijalankan. Salah satu contohnya adalah program kotak penampung minyak jelantah yang digagas Pertamina Patra Niaga.
Program ini baru berjalan di sembilan lokasi dengan target ekspansi hingga 300 titik dalam tahun ini. Setiap kotak bahkan mampu mengumpulkan lebih dari satu ton minyak jelantah per bulan, mayoritas berasal dari pelaku usaha kecil.
Perwakilan industri dari PT Noovoleum Indonesia Investama, Philippe Micone, menilai keberhasilan awal program ini tidak lepas dari faktor kepercayaan publik terhadap Pertamina.
“Kami akan bekerja sama dengan BRIN untuk menjangkau masyarakat meningkatkan kesadaran memotivasi mereka agar datang Kami akan mendaur ulang minyak yang mereka miliki serta menghitung berapa banyak emisi CO2 yang berhasil kita kurangi dari kegiatan ini,” katanya.
Infrastruktur Belum Lengkap
Dari sisi potensi, Indonesia sebenarnya berada di posisi strategis. Dengan status sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dan jumlah penduduk mencapai 276 juta jiwa, pasokan minyak jelantah diperkirakan sangat besar.
Oki Muraza dari PT Pertamina (Persero) menyebut potensi ini harus ditopang dengan sistem yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pengolahan di kilang.
“Kita perlu memiliki ekosistem yang terintegrasi di Indonesia mulai dari pengadaan bahan bakunya kemudian kemampuan kita untuk memproduksi di kilang terbaru Perlu membangun New Energy Integrated Terminal Sustainable Aviation Fuel di Indonesia agar kita bisa memiliki kemampuan ekspor,” ujarnya.
Ia menambahkan, rencana suplai SAF ke bandara Denpasar dan Cengkareng tengah disiapkan sebagai bagian dari pembentukan ekosistem domestik.
Selain infrastruktur, isu lain yang mencuat adalah standar dan sertifikasi. Pertamina menilai seluruh rantai produksi SAF harus memenuhi standar internasional agar dapat diterima di pasar global.
Sigit Setiawan dari PT Pertamina Patra Niaga menekankan perlunya sertifikasi di setiap tahapan rantai pasok minyak jelantah, mulai dari pengumpulan di tingkat hulu oleh perusahaan atau badan usaha, proses pengolahan di kilang, hingga distribusi, penyimpanan, dan penjualan.
“Distribusi penyimpanan dan penjualan yang ditangani oleh Pertamina Patra Niaga perlu dilengkapi dengan sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification Hal ini diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab atas emisi yang dihasilkan,” ujar Sigit.
Di sisi lain, pelaku usaha pengumpul minyak jelantah justru menghadapi persoalan dasar yakni belum adanya kepastian harga. Matias Tumanggor dari APJETI mengatakan kondisi ini kerap menimbulkan persoalan di lapangan.
“Oleh karena belum ada regulasi seringnya terancam oleh aparat dilapangan yang selalu dituduh melakukan penyalahgunaan,” katanya.
Menariknya, di tengah belum matangnya ekosistem dalam negeri, ekspor minyak jelantah justru sudah berjalan cukup lama. Asosiasi Eksportir Minyak Jelantah Indonesia menyebut kegiatan ekspor telah berlangsung selama 17 tahun ke berbagai negara seperti Eropa, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.
Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi pasokan, Indonesia tidak kekurangan bahan baku. Tantangannya ada pada bagaimana nilai tambah bisa ditahan di dalam negeri, bukan sekadar diekspor sebagai bahan mentah.
Dengan potensi bahan baku besar, dukungan industri, dan kebutuhan global yang terus meningkat, minyak jelantah berpeluang menjadi komoditas strategis baru di sektor energi. Namun tanpa regulasi harga, standar yang jelas, serta integrasi rantai pasok yang kuat, peluang tersebut berisiko tidak optimal.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.