Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ketum PBNU: Hentikan Perang karena Membawa Sengsara bagi Banyak Orang

Ketum PBNU: Hentikan Perang karena Membawa Sengsara bagi Banyak Orang

ketum-pbnu:-hentikan-perang-karena-membawa-sengsara-bagi-banyak-orang
Ketum PBNU: Hentikan Perang karena Membawa Sengsara bagi Banyak Orang
service

Kediri, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti akibat dari dampak dari perang AS-Israel melawan Iran akan mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Gus Yahya sebagai pimpinan organisasi Islam dengan jutaan anggota, menyerukan agar perang segera dihentikan.

“Kita menuntut supaya perang kekerasan dihentikan sekarang juga, supaya jangan diterus-teruskan. Apa pun sengketa yang ada harus diselesaikan melalui jalan damai. Itu kepentingan absolut kita. Karena kalau tidak kita semua ikut sengsara, seluruh dunia ikut sengsara,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat memberi sambutan dalam Penguatan Ekosistem Pesantren di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Selasa (15/4/2026).

Gus Yahya menjelaskan, perang pada masa lalu cenderung hanya berdampak langsung pada para prajurit di medan tempur. Namun, kondisi saat ini berbeda. Konflik bersenjata memiliki dampak luas yang dirasakan masyarakat global.

“Kalau dulu perang Romawi lawan Persia itu yang mati, yang sengsara, cuma tentara yang ikut berperang di medan perang. Yunani lawan Mesir, yang sengsara cuma yang tentara ikut perang. Perang Badar yang sengsara cuma orang-orang ikut perang di Badar itu, yang di rumah enggak ikut sengsara,” imbuhnya.

Namun pada era modern, lanjutnya, dampak perang meluas hingga ke berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia, termasuk ekonomi dan energi. Gus Yahya mencontohkan konflik Rusia dan Ukraina yang turut memengaruhi negara-negara lain, meski tidak terlibat langsung.

“Kita sudah merasakan sebetulnya selama ini ada perang Rusia lawan Ukraina. Kita enggak ngerti apa-apa. Itu sama-sama orang-orang Slovak, orang-orang Slav, bangsa Slav, yang kita enggak ngerti apa-apa, enggak ada urusan, ikut tembak-tembakan juga enggak, tapi kita ikut merasakan dampaknya, persoalan-persoalan terkait pasokan energi dan lain sebagainya,” beber Gus Yahya.

“Nah, sekarang ada yang lebih parah lagi, ini perang Amerika-Israel melawan Iran, sehingga Selat Hormuz ditutup dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, ia menanggapi anggapan bahwa seruan perdamaian merupakan bentuk kelemahan iman. Ia menegaskan bahwa memperjuangkan perdamaian justru merupakan kepentingan bersama yang harus diutamakan.

“Ketika kita mengajak perdamaian dianggap kurang beriman. Ketika kita berdialog dengan pihak lawan dianggap kita pro musuh dan lain sebagainya. Bukan soal itu, tapi bahwa perdamaian ini harus diperjuangkan sebagai kepentingan absolut dari kita semua,” katanya.

Empati terhadap korban perang
Gus Yahya juga mengajak masyarakat untuk melihat perang tidak seperti menonton bola. Ia memperhatikan, fenomena di media sosial dan berbagai kesempatan percakapan masyarakat, orang nonton perang seperti menonton bola yang pro sini dan pro sana.

“Kalau ada bom dijatuhkan Iran kita sorak-sorak. Kalau ada bom Amerika atau Israel jatuh ke Iran misuh-misuh dan sebagainya. Persis kayak nonton bola. Seolah-olah kita enggak ada hubungannya. Seolah-olah kita tidak akan ikut merasakan akibatnya,” katanya.

Gus Yahya mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa setiap konflik bersenjata membawa penderitaan nyata bagi sesama manusia; yang menjadi korban langsung dari perang itu, seperti terkena peluru, terkena bom, adalah manusia-manusia juga.

“Orang dengan darah daging seperti kita. Orang yang di dilingkungi oleh orang-orang terkasih di antara mereka, sama seperti kita, manusia-manusia seperti kita,” katanya.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin dan potensial harus dihadapi sebagai akibat dari perang, ia menyebut bahwa PBNU telah menyiapkan langkah konsolidasi hingga ke tingkat akar rumput.

Gus Yahya juga menyatakan akan terus berkeliling untuk memperkuat koordinasi dengan berbagai elemen bangsa.

“Saya juga akan terus berkeliling untuk menuhi pimpinan-pimpinan dan simpul-simpul dari seluruh elemen bangsa ini supaya kita semuanya berkonsolidasi seluruh masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama,” imbuhnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.