Mubadalah.id – Perbedaan dalam keluarga adalah hal yang wajar. Perbedaan dapat disikapi dengan sikap saling mengenali satu sama lain secara lebih baik. Respon terhadap perbedaan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
(1) perbedaan yang membutuhkan pemahaman, (2) perbedaan yang membutuhkan dialog untuk lebih mendalami dan mengerti, dan (3) perbedaan yang membutuhkan perubahan sikap.
Perbedaan yang membutuhkan pemahaman, misalnya, adalah perbedaan hobi, makanan favorit, gaya berpakaian, tempat hiburan, selera musik, film, dan lainnya.
Bahkan, perbedaan tersebut membutuhkan kesabaran dari semua pihak untuk memahami latar belakang pasangan dan seleranya. Sehingga dapat saling mengikuti obrolan maupun kebiasaan yang sebelumnya dilakukan.
Perbedaan yang membutuhkan dialog, misalnya, adalah perbedaan budaya. Lalu perbedaan ini perlu ia dialogkan agar pasangan dapat mengerti makna yang terkandung dalam budaya yang masing-masing anut.
Sedangkan perbedaan yang membutuhkan perubahan sikap adalah perbedaan yang ia rasa tidak sesuai dengan norma sosial atau perilaku yang mengganggu.
Misalnya, seorang suami yang memiliki kebiasaan tidak memberi kabar kepada pasangan, tidak berbagi cerita tentang kesulitan yang ia hadapi. Tetapi justru lebih banyak berbagi cerita kepada orang lain.
Memiliki Cara yang Berbeda
Perbedaan lain yang sering muncul adalah perbedaan bahasa kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan rasa cintanya, dan karena itu ia juga mengharapkan hal yang sama dari pasangannya.
Ada orang yang merasa dicintai melalui waktu berkualitas yang dihabiskan bersama. Ada pula yang merasa dicintai melalui ungkapan kasih sayang secara verbal.
Sementara yang lain merasa pasangan cintai melalui sentuhan fisik sederhana (bukan hubungan intim), seperti mendapatkan pelukan, misalnya. Perbedaan bahasa kasih ini membutuhkan kesadaran pasangan suami istri untuk saling mengenali dan berusaha memenuhinya sesuai kebutuhan masing-masing.
Pola komunikasi yang terbuka dan asertif juga menjadi kunci dalam mengelola perbedaan. Sebagaimana telah kita bahas pada bagian sebelumnya, keterampilan berkomunikasi sangat berpengaruh terhadap dinamika hubungan dalam perkawinan, terutama dalam situasi konflik.
Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu belajar membangun komunikasi yang matang, dengan prinsip saling memahami dan mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win solution). []
*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 170-172





Comments are closed.