Aku memacu sepeda motorku secepat yang kubisa pagi itu. Hari sudah berangsur terang, tanda aku sudah terlambat dari waktu yang kutentukan. Hasilnya, rute pom bensin Cikadut – Stasiun Tegalluar yang biasanya memakan waktu 50 menitan, pagi itu kutempuh dalam waktu 20 menitan saja. Tepat pukul 06:00, aku memarkirkan sepeda motorku di stasiun kereta cepat itu. Syukurlah, aku tak terlambat.
Aku tak lantas buru-buru masuk ke dalam bangunan stasiun, karena langit pagi itu merenggut perhatianku.
Ah, cantik sekali langitnya. Semburat oranye sang baskara yang terbit di sisi timur cakrawala terpoles sempurna di atas kanvas langit yang tak bernoda. Keelokannya membingkai manis pegunungan, persawahan, jalan layang, dan gedung lengkung stasiun yang bernaung di bawahnya. Alam seperti merestuiku pagi itu, dan menyambutku dengan riasan terbaiknya.
Sejenak, aku menikmati suasana pagi itu. Warga lokal yang berangkat memulai hari, driver ojol yang mengantarkan penumpangnya, petugas keamanan yang menyambut hangat calon penumpang. Meski meleset dari ekspektasi (tiba di stasiun saat langit masih gelap), namun aku tetap menangkap aroma perjalanan yang kurindukan. Mungkin dengan berangkat kesiangan itulah aku justru bisa leluasa memerangkap keindahannya dalam memori gawaiku.
Setelah merasa cukup mengabadikan keindahannya dari berbagai titik—lapangan parkir, ujung bawah jalan layang, dan pelataran depan stasiun—aku mantapkan hati untuk bergegas melangkah masuk ke dalam bangunan Stasiun Kereta Cepat Tegalluar Summarecon, Bandung.
Merasakan Fasilitas Stasiun Tegalluar sebagai Pelanggan
Setelah beberapa minggu sebelumnya hanya mampir ke stasiun ini sebagai “pengunjung”, akhirnya tibalah hari aku memasuki Stasiun Tegalluar sebagai penumpang kereta cepat, yah meski hanya mengambil rute terpendeknya. Apa yang kulakukan ini mungkin setara pelancong di Jepang yang naik Shinkansen Nozomi untuk rute Osaka – Kyoto selama 15 menit. Sebuah perjalanan singkat demi sekadar mencicipi pengalaman naik kereta cepatnya.
Tiket KA Whoosh Tegalluar – Padalarang ini kureservasi 1 hari sebelumnya melalui aplikasi Access by KAI seharga Rp75 ribu. Sudah ada menu Whoosh di aplikasi itu.
Baca juga tulisan ini: Stasiun KCIC Tegalluar: Panduan, Cerita, dan Harapan
Akses masuk di lantai dasar rupanya hanya untuk penumpang VIP, sehingga aku harus naik ke lantai 2 untuk boarding. Namun saat itu aku baru tersadar, bahwa ada ATM di Stasiun Tegalluar, meski hanya 3 bilik: Mandiri, BRI, dan BSI. Di seberangnya ada Alfamart Express, sebagai alternatif untuk outlet Indomaret di lantai 2. Aku tidak menyadari keberadaan ATM dan Alfamart ini sebelumnya. Entah karena memang baru ada, atau aku yang luput memerhatikan.
Aku naik eskalator menuju lantai 2. Begitu tiba di tujuan, alam kembali memberikanku kejutan yang menyenangkan!
Sisi kanan stasiun yang terbuka dan menghadap sang surya, tampil indah dengan guyuran cahaya keemasan. Ia berpadu mesra dengan atap transparan dan lampu-lampu panjang yang rona cahayanya senada dengan warna emas cahaya pagi. Bahkan ketika aku melongok ke bawah, ke arah Sang Komodo Merah yang sedang bergeming menunggu para penunggangnya, moncongnya bersinar memantulkan cahaya keemasan matahari yang menciumnya—kontras dengan punggungnya yang tetap teduh di bawah naungan atap lengkung stasiun.
Akhirnya, aku memiliki tiket valid untuk menerobos pintu pemeriksaan keamanan itu, tak hanya bisa melongok ingin tahu dari jauh. Ransel dan badan dipindai, semuanya aman. Tidak perlu seketat bandara di mana harus meletakkan gawai, ikat pinggang, jaket, dan semua bawaan di dalam wadah. Cukup letakkan tas atau koper dan lewati pintu pemindai dengan segala yang kamu kenakan.
Dari situ, ternyata masih harus naik eskalator lagi menuju skybridge untuk mengakses peron. Tata letak ini mengingatkanku dengan stasiun kereta cepat di Cina yang kusambangi akhir 2019 lalu.
Tiba di lantai 3, aku masuk ke dalam ruang tunggu (waiting lounge) yang ketiga sisinya dibatasi dengan dinding kaca, membuat cahaya matahari leluasa menerabas masuk ke dalam aula berisi bangku-bangku penumpang itu. Meski banyak orang, namun suasana tetap tenang. Ada area bermain anak dan kursi pijat untuk memfasilitasi pelanggan.
Sembari menunggu waktu boarding, aku mengeluarkan portable coffee cup yang sudah kuiisi dengan kopi panas racikan sendiri, lalu kulapisi kantong plastik untuk mengantisipasi kalau-kalau dia tumpah. Ternyata memang tumpah, haha—lebih tepatnya rembes. Bagian dalam kantong plastik sudah basah oleh cairan coklat hasil pencampuran kopi dan SKM itu. Kemungkinan, tutup bawahnya belum tertutup rapat dengan sempurna karena kopinya pun sudah suam-suam kuku.
Aku meneguk kopi pagiku dengan sedikit rasa sedih dan menyesal, bertepatan dengan pengumuman dari pelantang suara yang memersilakan para penumpang untuk memasuki peron. Mengikuti para calon penumpang lainnya, aku bergerak menuju ticketing gate. Aku tidak mencetak tiket kertas, jadi cukup scan QR dari tiket online yang kuterima di email. Sempat kebingungan harus mengarahkan kode QR ke bagian gate yang mana karena kebanyakan penumpang menggunakan tiket fisik. Setelah bertanya pada petugas, oh rupanya di-scan di bagian gate yang berbentuk kotak kaca kecil.
Kami dihadapkan dengan jembatan yang menghubungkannya dengan peron-peron di bawahnya. Sejenak, aku teringat momen saat aku naik China High Speed Railway (CHR) di Hainan di Stasiun Haikou East dan Sanya. Tiba di peron, para train attendant sudah bersiaga di tepi peron untuk menyapa pelanggan dengan sikap melayani dan senyum ramah terkembang.
Panduan dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta Naik Whoosh
Sebelum mengakhiri perjalanan singkat dari pagi hingga siang itu, aku mampir sejenak ke Roti O untuk bekerja sekalian rehat. Roti O ini juga salah satu elemen dalam perjalanan yang selalu bikin rindu. Menunya roti, ada kopi, ada stopkontak, tempat nyaman, jadi sering jadi pilihan.
Aku juga sempat berkeliling Stasiun Padalarang sebentar. Lantai duanya yang menghadap jalan raya ternyata bisa menjadi viewing deck jalur rel KA Cepat dan jalur KA konvensional dalam satu bingkai. Aku membayangkan, andai bisa memotret Whoosh dan kereta api reguler sekaligus, pasti akan jadi sebuah foto yang epik! Sayangnya, saat itu aku hanya bisa mengabadikan satu rangkaian Whoosh yang sedang melintas. Oh iya, kalau kamu bukan penumpang tapi ingin hunting foto-foto atau video Whoosh, juga bisa di Stasiun Padalarang lho. Masih di lantai 2, di dekat Roti O yang juga berseberangan dengan titik pemeriksaan keamanan. Peron KA Cepat dan area gratis itu hanya dibatasi pagar yang tidak menghalangi pandangan.
Dari Stasiun KCIC Padalarang, aku mengakses Stasiun KAI Padalarang melalui lajur pejalan kaki berkanopi yang dapat diakses di lantai dasar. Sayangnya, jembatan penumpang di lantai 2 yang juga menghubungkan kedua stasiun ini entah kenapa belum juga difungsikan, padahal kelihatannya sudah selesai dibangun. Aku akan pulang kembali naik KA Commuter Line Bandung Raya, turun di Stasiun Cimekar, lalu naik GO-JEK Rp10 ribu ke Stasiun Tegalluar. Berangkat jam 12:15, sampai Cimekar sudah setengah 2—berbeda jauh lama tempuhnya dibandingkan naik KA Cepat, hahaha. Ongkos parkir di Stasiun Tegalluar juga tak sampai Rp20 ribu.
Dengan ini, aku tutup cerita perjalanan kali ini. Terima kasih untuk isteriku tersayang, Ara, yang sudah memberiku kesempatan untuk mewujudkan impian kecil ini. September tahun lalu, hanya sekadar melihat Whoosh dari kejauhan di Stasiun Padalarang. Beberapa minggu lalu, melihatnya lebih dekat di Stasiun Tegalluar. Akhirnya sebelum Agustus 2025 usai, aku sudah berhasil menungganginya, meski hanya sedekat Padalarang. Siapa tahu, berikutnya aku bisa naik full route ke Stasiun Halim, Jakarta. Terima kasih sudah ikut berjalan, keep learning by traveling~





Comments are closed.