Pengen cerita sedikit soal salah satu perubahan gaya hidup terbesar yang pernah saya lakukan: sudah sekitar enam tahun saya tidak makan nasi.
Kalau dipikir-pikir sekarang, saya sendiri kadang heran kok bisa bertahan selama itu. Dulu saya juga termasuk yang percaya dengan kalimat: “Belum makan namanya kalau belum makan nasi.”
Awalnya bukan karena ikut trend diet tertentu. Dan lucunya, meski sudah gak makan nasi, berat badan saya juga tidak langsung turun drastis. Tapi paling tidak, pola ini membantu menjaga supaya berat badan tidak terus naik.
Trigger utamanya justru hasil MCU (medical check-up) yang menunjukkan adanya potensi pre-diabetes. Saat itu rasanya lumayan bikin mikir. Apalagi saya termasuk tipe yang suka makan enak dan sebelumnya tidak punya banyak pantangan.
Dari situ saya mulai berpikir, kalau bukan saya sendiri yang menjaga diri, mau berharap siapa lagi?
Akhirnya saya memutuskan mencoba mengurangi sumber karbohidrat utama, dimulai dari nasi. Dan ternyata setelah dijalani… keterusan sampai sekarang.
Banyak orang mengira “gak makan nasi” itu berarti hidup sengsara dan gak bisa makan enak. Padahal sebenarnya, setelah beberapa waktu tubuh jadi terbiasa. Lagi pula, karbohidrat bukan cuma nasi. Saya masih makan jenis karbohidrat lain seperti tepung-tepungan dan umbi-umbian, meski tetap berusaha lebih terkontrol.
Yang menarik, dengan tidak makan nasi, otomatis banyak jenis makanan juga ikut berkurang. Saya jadi jarang tergoda nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi gudeg (padahal saya penyuka gudeg tapi rasanya mana tahan makan gudeg yang manis tanpa nasi), nasi Padang lengkap dengan refill nasinya (kalau ke RM Padang sekarang paling pilih ayam pop tanpa nasi), dan berbagai menu lain yang basis utamanya nasi
Secara tidak langsung, porsinya jadi lebih terkontrol. Saya jadinya lebih sering skip sarapan, dan memilih untuk Intermittent Fasting.
Bubur ayam masih sesekali makan sih… tapi demi toppingnya, hehe. Buburnya cuma sedikit supaya ayam, cakwe, telur, dan kerupuknya tetap bisa ikut dimakan.
Kalau ketupat atau lontong? Hampir tidak juga. Kecuali buras, lontong khas Makassar yang dimasak pakai santan. Itu pun biasanya cuma saat hari raya. Ada beberapa makanan yang memang terlalu penuh kenangan untuk benar-benar ditolak.
Yang paling terasa sebenarnya saat traveling.
Dulu saya termasuk tipe yang wajib bawa atau beli beras saat bepergian. Bahkan travel cooker selalu ikut masuk koper. Rasanya belum tenang kalau belum memastikan bisa makan nasi selama perjalanan.
Sekarang? Sudah jauh lebih santai. Saya sudah gak perlu lagi membawa travel cooker ke mana-mana, kecuali kalau jalannya bersama keluarga. Kalau solo traveling atau pergi bareng teman, jauh lebih fleksibel soal makan.
Awal-awal tentu tidak mudah. Apalagi hidup di Indonesia itu rasanya hampir semua makanan ditemani nasi.
Di awal perubahan, saya sempat sering merasa pusing. Tapi ternyata setelah tubuh mulai beradaptasi, lama-lama biasa saja. Saya jadi sadar kalau rasa “harus makan nasi” itu lebih banyak soal kebiasaan daripada kebutuhan.
Bukan berarti hidup langsung sehat sempurna ya. Saya masih suka gorengan, makanan berbasis tepung, kopi susu, dan sesekali makan manis juga. Hanya saja porsinya sekarang jauh lebih dikurangi dibanding dulu.
Dan walaupun tidak membuat berat badan turun drastis, saya merasa pola ini cukup membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil. Setidaknya tidak makin naik terus. Dan setelah gak makan nasi, hasil MCU setiap tahun alhamdulillah udah menjauh dari kata prediabetes.
Seiring bertambah usia, saya mulai sadar bahwa menjaga kesehatan itu bukan semata soal ingin kurus. Lebih ke usaha supaya badan tetap bisa diajak kerja, jalan-jalan, trekking, gowes, dan menikmati hidup tanpa terlalu banyak drama penyakit.





Comments are closed.