Para peneliti di dunia memperkirakan lebih dari separuh populasi manusia dunia sudah terkontaminasi mikroplastik.
Temuan demi temuan mengkonfirmasi adanya mikroplastik dalam darah, urine, feses, penis, bahkan air ketuban. Polusi mikroplastik bukan hanya terjadi akibat penggunaan benda-benda plastik tetapi juga terhirup selayaknya oksigen, buntut dari aktivitas pembakaran, kendaraan bermotor, industri mode, dan limbah plastik.
SUDAH lebih dari satu dekade Meillyssa Chandra mengisi hari-harinya dengan membaca tubuh orang lain. Mei, begitu ia disapa, adalah dokter umum di Balai Kesehatan Kerja Pelayaran Kementerian Perhubungan yang berkantor di Gunung Sahari, Jakarta Pusat.
Rutinitasnya adalah mengecek tubuh para pelaut sebelum mereka berlayar. Kesehatan fisik seperti pemeriksaan mata dan pendengaran, tekanan darah, kandungan urine, fungsi paru, hingga rekam jantung (EKG), harus lolos standar.
Bila salah satu saja hasilnya tidak sesuai, sertifikat kesehatan tidak keluar, pelaut tidak bisa berlayar.
Sebagai pakar kesehatan, ia tahu sekecil apapun ketidaklaziman dalam kondisi fisik dan mental manusia bakal menghambat aktivitas. Begitu juga dengan gaya hidup dan kondisi lingkungan. Hal ini juga yang mendorongnya secara sukarela menjadi partisipan dalam penelitian mikroplastik oleh Universitas Indonesia bersama Greenpeace Indonesia.
“Saya selama ini sudah tahu info-info tentang bahaya plastik. Ketika muncul ajakan jadi partisipan, dan saya lihat penelitiannya ini lebih mendalam sampai ke bagian mikroskopisnya gitu, buat saya jadi sangat menarik,” kata Mei, pada pertengahan April.
Awalnya, Mei mengira keterlibatan sebagai partisipan penelitian hanya untuk pengisian survei penggunaan plastik sehari-hari. Namun, Mei juga diminta untuk mengikuti uji sampel darah, urine, dan feses di laboratorium UI di Depok, Jawa Barat.
Studi UI dan Greenpeace Indonesia dilakukan sejak Januari 2023 hingga Desember 2024. Studi dibagi dua tahap, survei publik dan uji laboratorium.
Survei publik diikuti 562 responden di Jabodetabek untuk mengetahui frekuensi penggunaan plastik sekali pakai dan guna ulang seperti galon air minum. Dari ratusan responden survei publik, sebanyak 76 di antaranya mengikuti uji sampel biologis (feses, urine, dan darah) untuk mendeteksi mikroplastik dalam tubuh.
UI dan Greenpeace Indonesia tidak merilis hasil uji sampel biologis orang per orang dari 76 partisipan karena berhubungan dengan rekam medis. Namun, hasil studi yang dirilis pada Februari 2025 itu, menyimpulkan 95% sampel darah teruji mengandung mikroplastik. Kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sampel feses, diikuti darah dan urine.
Estimasi jumlah partikel mikroplastik yang teramati dalam tiap sampel partisipan berkisar 1 hingga 5 partikel per gram. Jika dibayangkan seperti 25 butir pasir halus dalam satu sendok teh.
Mikroplastik adalah partikel plastik yang ukurannya bisa lebih kecil dari biji wijen atau lebar sehelai rambut manusia. Ia muncul dari uraian sampah plastik, gesekan ban kendaraan, atau proses pembakaran langsung. Kendati demikian, keberadaan benda asing dalam tubuh berpotensi membawa dampak pada kesehatan manusia.
Mei tidak menunjukkan respons yang berlebihan ketika mendengar hasil studi ini. Ia tidak menyangkal kemungkinan tubuhnya terkontaminasi mikroplastik. Sebagai dokter dan juga ibu dari dua anak, ia mengakui bahwa konsumsi barang-barang berbahan plastik tidak terhindarkan.
“Sebagai konsumen terkadang kita juga tidak punya pilihan. Kita, misalnya, sudah mengikuti anjuran pemerintah [membawa kantong sendiri] yang melarang supermarket pakai plastik, tapi di pasar-pasar, belum tentu bisa melakukan hal sama seperti supermarket. Bukan menyalahkan pasarnya, tetapi masalahnya saya kira ada pada distribusi kemampuannya,” katanya.
Menyebar di Udara, Mengandung Racun Berbahaya
Oktober 2025, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis hasil penelitian yang menyimpulkan air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya. Partikel-partikel plastik mikroskopis itu berasal dari degradasi limbah plastik yang kemudian melayang-layang di udara.
Muhammad Reza Cordova, peneliti ahli utama Pusat Riset Oseanografi BRIN, mengatakan penelitian yang dilakukan sejak 2018 tersebut awalnya bertujuan untuk melihat bagaimana pola sebaran mikroplastik yang berasal dari limbah plastik menahun di pesisir laut Jakarta terbawa ke darat.

“Setelah didapatkan hasilnya, ternyata disimpulkan bahwa mikroplastik berkorelasi dengan air hujan. Kenapa? Karena pada dasarnya mikroplastik itu sangat ringan dan [ketika terurai] akan dengan mudah tersebar di udara. Tanpa hujan, dia akan terbang terus terbawa angin,” kata Reza yang ditemui di Jakarta, pada April.
Reza mengestimasi jarak terbang mikroplastik bisa mencapai ratusan kilometer ke berbagai arah. Juga ketika musim kemarau, potensi mikroplastik berada di atmosfer bertahan lebih lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tidak memberi respons saat redaksi berupaya mengkonfirmasi perkiraan ini.
“Hujan ini yang menjadi media penempelan bagi mikroplastik. Tetapi, bukan hujannya yang berbahaya, justru hujan membersihkan,” tambah Reza.

Rafika Aprilianti, peneliti muda Ecoton Foundation, mengatakan mikroplastik kini menjadi komponen baru yang turut memperburuk kualitas udara di perkotaan. Partikel dengan ukuran kurang dari 5 milimeter ini ditemukan melayang di atmosfer dalam berbagai bentuk, seperti serat, fragmen, maupun busa.
Pada musim kemarau 2025, Mei-Juli, Ecoton bersama UI dan Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), melakukan penelitian yang membuktikan sebaran mikroplastik di udara. Penelitian dilakukan di 1-3 kabupaten/kota di 14 provinsi, di antaranya Aceh, Sumatra Selatan, Jambi, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan Barat.
Penelitian dilakukan dengan meletakkan cawan petri kaca di ketinggian 1-1,5 meter (zona pernapasan manusia) yang diisi kertas Whatman dicampur cairan aquades steril dan membiarkan cawan terbuka selama 2 jam.
Hasilnya, temuan mikroplastik di udara terbanyak ada di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Titik dengan mikroplastik paling sedikit terdapat di Kota Malang.
“Untuk di Jakarta Pusat, lokasi paling banyak itu ada di sekitar Pasar Tanah Abang. Kami menduga karena di sana ada pasar tekstil terbesar. Mikroplastik bisa terurai dari mikrofiber yang ada di pakaian berbahan sintetis,” kata Rafika dalam wawancara daring pada Maret.

Selain aktivitas bongkar muat pakaian, kepadatan aktivitas manusia juga memicu kondisi ideal pelepasan mikroplastik ke udara, seperti penggunaan plastik kantong belanja, gesekan ban kendaraan bermotor, sampai pembakaran sampah.
Sementara di Jakarta Selatan, konsentrasi partikel mikroplastik tertinggi ditemukan di sekitar Stasiun KRL Manggarai.

Penelitian Ecoton ini sejalan dengan studi sebelumnya yang dilakukan di sekitar TPST Piyungan, Yogyakarta, dengan temuan kandungan mikroplastik di udara dengan dominasi warna hitam yang diindikasikan berasal dari bahan sintetis berpigmen kuat seperti abrasi ban kendaraan, serpihan serat tekstil, dan pembakaran sampah.
***
Reza dari BRIN menambahkan, kontaminasi mikroplastik berbahaya karena kandungan zat aditif di dalamnya. Plastik dibuat dalam dua bagian. Bagian pertama menggunakan polimer sintetis yang berasal dari petrokimia atau minyak bumi seperti poliester (PET), nilon (PA/poliamide), polietilena (PE), polipropilena (PP), hingga polibutadiena (BR) yang digunakan untuk ban kendaraan.
Lalu pada bagian keduanya, kandungan plastik membutuhkan bahan aditif tambahan seperti pewarna dan stabilisator seperti anti-UV, BPA (Bisphenol A), BPS (Bisphenol S), dan lainnya.
“Problem berikutnya adalah ketika plastik sudah berada di alam, [menjadi] sampah menahun, dia bisa jadi tempat menempelnya polutan lain, alien species seperti bakteri, mikroba, patogen, virus, dan lainnya,” kata Reza.
Seturut dengan studi mikroplastik yang dilakukan UI dan Greenpeace Indonesia, dari sampel biologis dalam uji laboratorium, PET menjadi jenis polimer yang paling dominan ditemukan dengan total 204 partikel.

Kandungan PET lazim ditemui pada produk-produk kemasan makanan maupun kosmetik. Plastik dengan PET biasanya berwarna bening dan dipakai untuk kemasan air mineral, botol sabun, sampai kotak makanan. PET ditandai dengan kode 1, atau aman digunakan sekali alias tidak disarankan berulang karena dapat melepaskan zat kimia berbahaya.
Selain PET, nilon (PA) juga banyak ditemukan pada sampel biologis. PA adalah kandungan polimer yang paling umum ditemukan pada serat pakaian sintetis.
Jenis polimer lainnya adalah PP yang banyak dipakai untuk pembuatan tutup botol dan wadah makanan, LDPE (low density polyethylene) pada kantong plastik, dan PS (polistirena) pada kemasan makanan styrofoam atau alat makan sekali pakai.
Studi oleh para peneliti Amerika Serikat (AS) di pesisir barat negara mereka yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik pada Desember 2024, menemukan bahwa PET kandungan polimer pada mikroplastik yang paling dominan mencemari lautan.
Studi yang berjudul, From the ocean to our kitchen table: anthropogenic particles in the edible tissue of U.S. West Coast seafood species, menyebutkan PET pada mikroplastik tersebut dikonsumsi oleh beragam boga laut yang kemudian dikonsumsi manusia.
Penelitian serupa pada periode waktu yang sama juga terjadi di Cilegon, Banten. Para peneliti di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menemukan mikroplastik dengan kandungan PE pada ikan bandeng dan kandungan PP pada ikan tongkol, dengan potensi gangguan pada sistem pencernaan manusia.
Menerima Sumbangan Asing: Dari Sampahnya Sampai Fashion-nya
Kontribusi plastik pada jumlah sampah tahunan di Indonesia terus bertambah dalam lima tahun terakhir.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan pada 2025, dari total 28 juta ton timbulan sampah, sebanyak 5,6 juta ton di antaranya (setara 20 persen) adalah sampah plastik.
Dari puluhan juta sampah yang terbuang, kemampuan daur ulang baru berkisar 11 persen per tahun untuk semua jenis sampah. Untuk sampah plastik, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) mencatat sepanjang tahun 2014-2024, sebanyak 7,69 juta ton sampah plastik telah ditangani. Atau, rerata kemampuan daur ulang berkisar 13 persen dari total sampah plastik per tahun.
Di sisi lain, Indonesia juga menampung impor sampah plastik dari luar negeri. Jumlahnya melonjak terutama setelah Cina memberlakukan larangan impor sampah ke negaranya pada 2018.
Pada Januari 2025, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol mengatakan kementerian tidak lagi mengeluarkan surat rekomendasi untuk impor sampah plastik. Namun, merujuk data UN Comtrade (waste, parings & scrap of plastics/HS 3915), sampai 2025, Indonesia masih menampung 271 ribu ton sampah plastik dari berbagai negara di dunia, naik dari 262 ribu ton pada tahun sebelumnya.
Bahkan, jumlah impor sampah plastik dari Jerman dan Amerika Serikat pada 2025 lebih banyak dari 2024.
Sepanjang 2014-2025, Belanda menjadi negara pengekspor sampah plastik terbanyak dengan total 568 ribu ton sampah. Disusul Amerika Serikat dengan total 373 ribu ton, Jerman sebanyak 337 ribu ton, Belgia dengan 154 ribu ton, dan Australia dengan 142 ribu ton.
Sampah-sampah plastik impor itu sebagian kecilnya dikelola oleh beberapa industri daur ulang di Jawa Timur dan Batam, Kepulauan Riau. Sementara, sampah-sampah yang tidak terkelola akan menumpuk dan bahkan berakhir di laut.
Situs data demografi, Our World in Data, memperkirakan 1,7 juta ton sampah plastik di dunia mencemari lautan. Dari total itu, 88 persennya mengapung dekat garis pantai, 10 persen tenggelam ke dasar laut, dan sisanya terbawa ke laut lepas (samudra).
Penelitian di balik data itu juga menemukan adanya sampah plastik yang usianya lebih dari 15 tahun.
Bukan hanya sampah plastik, Indonesia juga menerima banyak pakaian bekas dari negara lain dan jumlahnya meningkat seiring menjamurnya tren thrifting. Data UN Comtrade menunjukkan, impor pakaian bekas (worn clothing and other worn articles/HS 6309) mencapai 5,75 juta kg selama periode 2021-2025.
Lonjakan impor pakaian bekas terjadi pada 2024 dengan total 3,86 juta kg, naik drastis dari tahun sebelumnya yang hanya 12 ribu kg. Negara-negara pengekspor pakaian bekas ke Indonesia antara lain Cina, Singapura, Australia, dan Malaysia.
Sebagai salah satu pemain dalam rantai industri tekstil global, produksi pakaian jadi di Indonesia juga signifikan. Data BPS 2024 menunjukkan Indonesia mengekspor 299,9 juta kg pakaian jadi ke seluruh dunia, dengan Amerika Serikat sebagai tujuan ekspor terbesar sebesar 155,2 juta kg, diikuti oleh Jepang dan Jerman. Indonesia menempati peringkat ke-13 di antara negara-negara pengekspor tekstil, berkontribusi pada 1,66% dari ekspor tekstil global, menurut Observatory of Economic Complexity.
Sementara itu, mengutip Laporan Statistik Industri Manufaktur Produksi BPS pada 2023, jumlah produksi khusus untuk pakaian jadi berbahan sintetis berkisar 4,2 juta potong.
“Bukan [masalah] trennya [thrifting] tetapi bagaimana konsumsi dan produksi pakaian fast fashion. Semakin banyak pakaian (sintetis) maka potensi terurainya mikrofiber menjadi polusi semakin tinggi juga. Menurut saya, ini masalah yang serius bukan hanya buat orang kota yang bisa beli baju, tapi juga berdampak ke kelompok miskin,” kata Reza dari BRIN.
Reza menjelaskan, semakin lama usia pakaian sintetis, maka akan semakin renggang bahan poliesternya. Hal ini yang kemudian menyebabkan mikrofiber menjadi lebih mudah luruh baik dalam pemakaian ataupun proses pencucian.
“Sejak pandemi, kami memantau [mikroplastik berbentuk] fiber ini jumlah sangat tinggi. Awalnya kami mengira dari masker, karena masker juga mengandung plastik, polipropilen (PP). Ternyata sesuai dengan data juga, banyak dari baju bekas yang dibuang ke sini,” katanya.
Kementerian Perdagangan telah melarang impor pakaian bekas melalui Peraturan Mendag 40/2022, dengan tujuan melindungi industri tekstil dalam negeri yang terdampak akibat banjir pakaian impor juga untuk alasan kesehatan.
Kendati demikian, pada 2023, Menteri Perdagangan kala itu, Zulkifli Hasan, memberi kesempatan kepada para pedagang pakaian bekas di Pasar Senen, Jakarta Pusat, untuk tetap berjualan dengan syarat untuk menghabiskan stok yang ada saja. Rezim berganti, kelonggaran tidak dievaluasi dan menjadi celah transaksi yang masih berlanjut hingga kini.
Rafika dari Ecoton berpendapat pemerintah sebaiknya tidak hanya berfokus pada masalah pakaian bekas saja. “Baik pakaian itu bekas atau baru, sebenarnya masalahnya sama. Yaitu fast fashion secara keseluruhan, terutama pakaian yang terbuat dari bahan sintetis murah seperti poliester,” kata Rafika.

Menurutnya, pembatasan bukan hanya pada impor pakaian bekas tetapi juga mempertimbangkan kembali jumlah produksi pakaian berbahan sintetis baik dari impor maupun produksi domestik. Rafika mendorong pemerintah berinovasi dan memberikan dukungan lebih untuk industri tekstil berbahan-bahan yang lebih aman bagi lingkungan.
Pakaian jadi berbahan sintetis menjamur karena biaya produksinya yang jauh lebih murah dan mudah, serta bisa dilakukan secara masif, dibandingkan produk kain berbahan linen atau katun, wol dari bulu hewan, atau hemp dari serat alami (rami) batang Cannabis sativa – satu keluarga dengan pohon ganja tetapi kandungan psikoaktif yang jauh lebih rendah.
Menekan Produsen, Mendorong Produksi Kemasan Daur Ulang
Per April 2026, harga plastik berbahan PE dan PP melonjak hingga 100 persen karena rantai pasok bahan baku terdampak invasi Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Reynaldi Sarijowan, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), meminta pemerintah segera mencari alternatif sumber bahan baku plastik alternatif selain dari negara-negara Asia Barat seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Qatar.
Reynaldi, dikutip dari IDN Finance, menyebut momen kenaikan harga plastik ini bisa dimanfaatkan untuk membatasi penggunaan plastik di pasar tradisional guna mengatasi masalah sampah dan mendukung ekonomi sirkular.
Idah, pedagang seragam dan perlengkapan bayi di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, tidak sepenuhnya setuju dengan beban yang diberikan kepada pedagang pasar dalam pembatasan plastik kemasan.
“Harusnya produsen yang setop. Yang diatur yang di atas dulu. Kami pedagang, kadang tetap sedia plastik karena pembeli sering lupa bawa tas belanja. Jadi kadang pembelinya juga minta, kami juga gak tega lihat pembeli harus bawa-bawa belanjaan tanpa kantong,” kata Idah, seraya mengeluhkan harga plastik kemasan sudah melonjak Rp10-Rp15 ribu/per pack dalam sebulan terakhir.
Sejak 2008, Indonesia telah mengatur extended producer responsibility (EPR) melalui UU No. 18/2008, yang menegaskan bahwa produsen harus bertanggung jawab atas sampah produk mereka melalui pengembangan industri daur ulang.
Pemerintah memberi tenggat 100 persen pengelolaan sampah, termasuk plastik, pada 2029. Dalam target ini, produsen wajib menarik kembali dan memproses ulang produk mereka yang dapat didaur ulang.
KLH mengatakan pihaknya akan semakin ketat meminta semua perusahaan menerapkan EPR, khususnya pada kemasan plastik dengan menyiapkan aturan baru yang lebih terperinci.
Produksi barang-barang berbahan plastik bukan hanya menjadi tanggung jawab sepihak karena rantai pasok mereka bekerja dari hulu ke hilir.
Mordor Intelligence, sebuah lembaga riset dan analisis pasar global, memperkirakan volume pasar industri plastik di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 7,42 juta ton. Dari jumlah itu, kapasitas produksi plastik dari bahan baku dasarnya hanya berkisar separuhnya, sisanya masih bergantung dari impor.
Industri plastik bertumpu pada sektor hulu minyak dan gas. Perusahaan seperti Pertamina Hulu Energi dan perusahaan migas global menjadi pemasok bahan baku awal yang kemudian diolah menjadi plastik melalui rantai industri petrokimia.
Perusahaan pengolah bahan baku plastik, olefin (seperti ethylene dan propylene), terbesar di Indonesia adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang merupakan anak usaha PT Barito Pacific Tbk. milik konglomerat Prajogo Pangestu. Direktur Utama TPIA adalah Erwin Ciputra dengan Presiden Komisaris perusahaan mantan Menteri Koordinator Polhukam Djoko Suyanto.
Kapasitas produksi olefin Chandra Asri adalah yang terbesar, dengan volume pada 2025 mencapai 2 juta ton per tahun. Sementara, kapasitas produksi untuk sektor hilir dengan produk kimia turunan (termasuk plastik) mencapai 4,7 juta ton per tahun. Olefin berasal dari pemrosesan minyak bumi dan gas alam yang selanjutnya diolah menjadi polimer lalu resin (plastik padat).
Selain Chandra Asri, pemain untuk bahan baku dasar plastik lainnya adalah PT Pertamina melalui anak usahanya, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan bekerja sama dengan PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).
KPI dan TPPI bersinergi dalam pengelolaan kilang minyak dan petrokimia yang mengolah Naphtha dan Aromatics (benzene, toluene, xylene). Produk-produk ini kemudian dikelola menjadi PTA (Purified Terephthalic Acid) dan DMT (Dimethyl Terephthalate) sebagai bahan serat poliester untuk tekstil, kain, dan resin pada kemasan plastik (PET).
Adapun kapasitas produksi paraxylene oleh TPPI pada 2021 mencapai 780 ribu ton per tahun.
Pemain lain di sektor midstream adalah PT Polychem Indonesia Tbk yang memproduksi Ethylene Glycol (EG) atau bahan baku petrokimia dasar, dan Polyester Chips (biji plastik poliester dan Polyester Filament (benang poliester). Adapun kapasitas volume Polychem pada 2024 mencapai 313 ribu ton, meski produksi aktualnya pada 2024 hanya 117 ribu ton.
Selain itu juga ada PT Asahimas Chemical (ASC) yang memproduksi monomer vinil klorida (VCM) dengan kapasitas produksi bahan baku PVC ini mencapai 900 ribu ton per tahun. ASC juga memproduksi PVC resin untuk dijual ke pabrik hilir menjadi produk jadi dengan kapasitas produksi 750 ribu ton per tahun.
ASC merupakan perusahaan patungan Asahi Glass Company dan Mitsubishi Corporation dari Jepang, PT Rodamas (Indonesia), dan pengusaha Benny Suherman.
Di sektor perantara dan hilir, terdapat juga produsen PTA lainnya yakni Merak Chemical Indonesia (MCCI) – dulunya Mitsubishi Chemical Indonesia dengan kapasitas 720 ribu ton per tahun. Kemudian Indorama Petrochemicals dengan kapasitas produksi 456 ribu ton per tahun, Ineos Aromatics dengan produksi 575 ribu ton per tahun.
Selanjutnya, perusahaan pengolahan PET terbesar adalah Asia Pacific Fibers (APF), yang menjadi perantara antara industri plastik dengan produk kemasan dan tekstil. Kapasitas produksinya mencapai 660 ribu ton per tahun. Pemilik mayoritas APF adalah Damiano Investments BV, sebuah perusahaan investasi yang berbasis di Belanda.
Perusahaan yang memproduksi jenis plastik berbahan PP terbesar adalah Polytama Propindo dengan kapasitas produksi pada 2024 mencapai 260 ribu ton. Sementara, salah satu produsen plastik berbahan dasar PE adalah Lotte Chemical Titan Nusantara, bagian dari entitas raksasa petrokimia Korea Selatan, Lotte Chemical Corporation (Lotte Group). Kapasitas produksi Lotte Chemical per 2024 adalah 450 ribu ton.
Di sektor hilir, perusahaan pengelola PET menjadi serat poliester adalah Indorama Corporation melalui anak usahanya, PT Indo-Rama Synthetics Tbk, dengan kapasitas produksi berkisar 334 ribu ton per tahun. Serat poliester tersebut selanjutnya digunakan dalam industri tekstil oleh perusahaan seperti Sritex dan Pan Brothers, yang merupakan sektor padat karya dan berorientasi ekspor.
Pada tahap akhir, produk-produk ini masuk ke pasar akhir baik domestik maupun ekspor, termasuk untuk kebutuhan kemasan oleh perusahaan seperti PT Unilever Indonesia Tbk, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Mayora Indah Tbk, PT Kalbe Farma Tbk, dan seterusnya.
***
Ibar Akbar, Zero Waste Campaigner di Greenpeace Indonesia, menekankan pemerintah perlu segera menyusun regulasi khusus terkait EPR sebagai alat ukur kepatuhan produsen dalam mengimplementasikan tanggung jawab lingkungan dalam sistem bisnis mereka.
Regulasi itu mencakup transparansi data produksi dan pengelolaan sampah plastik, termasuk pada sisi penguatan standar dan pengawasan daur ulang. Menurutnya, saat ini belum ada data terbuka mengenai jumlah produksi plastik yang beredar di pasar dan berapa banyak yang benar-benar ditarik kembali oleh produsen.
“Program penarikan kembali kemasan pasca-konsumsi masih tidak berdasarkan merek, produsen akan menarik atau sebenarnya hanya mengambil sampah-sampah yang mempunyai nilai walaupun kemasan tersebut bukan dari merek produsennya,” kata Ibar.
Ibar menekankan transparansi dan akuntabilitas harus menjadi bagian dari EPR agar prosesnya tanggung jawab dan memastikan jumlah produk yang diproduksi sama dengan yang dikelola.
Pada 2022, KLH mendukung skema kredit plastik (plastic credit) yang dipromosikan organisasi lingkungan berbasis di AS, Verra, pada Februari 2021. Skema yang mirip dengan kredit karbon itu bekerja dengan pemberian kompensasi dana dari setiap satu ton plastik yang diproduksi/dijual produsen ke pasar melalui pengumpulan atau daur ulang dalam jumlah setara oleh pihak lain.
Beberapa proyek percontohan kredit plastik sudah dilakukan di Banyuwangi dan Gresik (Jawa Timur) dan Bali. Namun, akhir April lalu, WALHI Jatim bersama Ecoton dan PPLH Bali menemukan dugaan praktik greenwashing atau solusi palsu pada skema kredit plastik.
“Tanggung jawab produsen, baik industri petrokimia atau hulu, melalui pendanaan tidak akan benar-benar menyelesaikan masalah selama tidak ada pengurangan produksi, tidak ada rencana mengubah kemasan sekali pakai menjadi sistem guna ulang, dan tidak ada desain produk untuk daur ulang,” kata Ibar.
Tumor, Kognitif, dan Kemampuan Reproduksi
Mei menyimpan hal lain yang membuatnya lebih penasaran dari hasil temuan mikroplastik pada sampel biologis di studi UI-Greenpeace Indonesia. Ia mempertanyakan kemungkinan keterkaitan kontaminasi mikroplastik dengan penyakit yang melibatkan pertumbuhan sel abnormal.
Mei adalah pasien tumor sel raksasa (giant cell tumor). Jenis tumor langka ini tumbuh di tulang pergelangan tangannya. Sejak awal mendapat diagnosis ini, Mei selalu mencari berbagai informasi tentang penyakitnya. Namun, kelangkaan jenis tumor membuatnya kerap mendapati banyak celah informasi.
Sejauh yang ia pelajari dari penjelasan medis yang tersedia, tumornya berkaitan dengan mutasi sel yang melibatkan pemendekan telomer (ujung kromosom) yang lebih dini dari seharusnya. Dalam kondisi normal, pemendekan ini adalah bagian dari proses penuaan dan regenerasi sel, tetapi pada kasus tertentu, proses ini bisa menjadi tidak terkontrol.
Namun, penyebab pemendekan ini masih dikategorikan idiopatik, atau tidak diketahui secara pasti.
“Saya menganggap, ya, dikasih anugerah lah sama Tuhan. Supaya saya belajar juga, dikasih tumor langka gitu. Makanya, sebenarnya saya tertarik ikut [studi] juga untuk cari tahu apa ada hubungannya dengan mikroplastik atau tidak,” kata Mei.
Afifah Rahmi Andini, peneliti utama Greenpeace Indonesia, menjelaskan penelitian tidak dirancang untuk menilai hubungan mikroplastik dengan penyakit tertentu. Sebab riwayat penyakit tertentu, termasuk kanker dan tumor berpotensi menjadi variabel perancu.
“Pengalaman partisipan [dengan riwayat penyakit kronis] dapat diposisikan sebagai refleksi personal tentang paparan lingkungan yang sulit dihindari, bukan sebagai petunjuk hubungan sebab akibat,” kata Afifah.
Lebih lanjut, penelitian yang diarahkan pada indikator fungsi saraf ini menyimpulkan kontaminasi plastik dari jenis PET, PES, dan PP memiliki kemungkinan keterkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif karena mampu mencapai pembuluh darah di otak.
Mikroplastik, yang kemudian berperan sebagai radikal bebas di tubuh manusia berpotensi memicu stres oksidatif yang kemudian dapat merusak sel dan jaringan. Akan tetapi, kesimpulan ini tetap perlu dibuktikan dalam penelitian medis lebih lanjut dan mendetail.
Matthew Campen, profesor dari University of New Mexico College of Pharmacy, pada awal tahun ini merilis hasil penelitian terbarunya tentang mikroplastik dan nanoplastik – partikel plastik yang berukuran lebih kecil lagi – pada pasien dengan demensia.
Dalam studinya, ia menemukan keberadaan mikroplastik pada pasien dengan demensia. Namun, ia menekankan bahwa temuan ini tidak bisa diartikan langsung bahwa mikroplastik menyebabkan penyakit tersebut. Bisa jadi, kondisi demensia yang membuat otak menjadi lebih rentan.
Ia menggarisbawahi bahwa temuannya masih bersifat dua arah. Apakah mikroplastik berkontribusi terhadap penyakit, atau justru penyakit membuka jalan bagi mikroplastik?
“Kami mengetahui bahwa sebagian besar kasus demensia terjadi karena kerusakan pada jaringan sawar darah-otak, yang berarti pembuluh darah di otak tidak lagi melindungi otak dengan baik. Dan pengamatan kami menemukan sebagian besar plastik berada di dinding pembuluh darah,” kata Campen, melalui surat elektronik pada awal Maret.
“Kami [masih] membutuhkan lebih banyak penelitian pada manusia.”
Namun, terdapat dua hal yang menurutnya penting untuk menjadi perhatian publik. Pertama, akumulasi mikroplastik dalam tubuh manusia meningkat dari waktu ke waktu. Kedua, pada pasien dengan demensia, jumlah partikel yang ditemukan lebih tinggi.
Beragam penelitian di dunia telah menemukan mikroplastik bukan hanya pada zat biologis manusia seperti darah, feses, dan urine saja, tetapi juga pada sistem reproduksi dan pendukung manusia.
Peneliti di Itali pada 2021, mengumumkan penemuan mikroplastik pada plasenta perempuan hamil. Begitu juga dengan penelitian lanjutan mereka pada 2022, yang menemukan kandungan mikroplastik pada sampel air susu ibu (ASI). Begitu juga penemuan peneliti lain di University of New Mexico terkait mikroplastik pada sperma laki-laki.
Selain itu, para peneliti di Yangzhou University di Cina, juga menemukan kandungan mikroplastik jenis PS yang terakumulasi di berbagai bagian tulang. Hanya saja penelitian ini masih terbatas pada hewan.
“Yang penting adalah, sudah banyak dampak kesehatan dari bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik (ftalat, bisfenol, dan lainnya). Tetapi untuk komponen mikroplastik, hingga saat ini masih benar-benar belum bisa dipastikan dampaknya bagi kesehatan,” tukas Campen.
Liputan ini adalah kolaborasi lintas-negara Asia Pasifik bertajuk “Following the Fumes” yang didukung Earth Journalism Network.




Comments are closed.