Madinah, Arina.id — Memasuki Raudhah di Masjid Nabawi menjadi salah satu tujuan utama jemaah haji Indonesia selama berada di Madinah pada musim haji 2026. Beragam cara ditempuh jemaah agar dapat beribadah di area yang dikenal sebagai taman surga tersebut, mulai dari jalur resmi melalui tasreh hingga memanfaatkan aplikasi Nusuk.
Salah satu jemaah haji Indonesia asal kloter SUB 53 Embarkasi Surabaya, Sugiarso, membagikan pengalamannya selama enam hari menjalankan ibadah Arbain di Madinah.
Sugiarso mengatakan, ia tiba di Madinah pada 6 Mei 2026 bersama kloter SUB 53 gelombang pertama dan menginap di Hotel Jiwar Al Madinah yang berjarak sekitar 200 meter di sisi selatan Masjid Nabawi. Menurutnya, selama berada di Madinah, fokus utama jemaah selain menjalankan shalat Arbain adalah mendapatkan kesempatan masuk ke Raudhah.
“Selama enam hari menjalankan kegiatan ibadah sholat Arbain, ada satu kegiatan yang menjadi fokus jemaah haji kloter SUB53 ini, yakni masuk ke Raudhah,” ujar Sugiarso, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, strategi pertama dilakukan melalui tasreh atau izin resmi yang dikoordinasikan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Pada Selasa pagi, kloter SUB 53 mendapatkan kuota sekitar 200 jemaah perempuan, terutama lansia dan jemaah berisiko tinggi. Para jemaah diminta berkumpul di pintu 37 Masjid Nabawi sejak pukul 06.00 waktu Arab Saudi.
Strategi kedua dilakukan melalui aplikasi Nusuk yang dapat diunduh di Play Store. Melalui aplikasi tersebut, jemaah dapat memperoleh jadwal resmi untuk masuk ke Raudhah. “Setiap orang mempunyai satu kali kesempatan untuk masuk ke Raudhah menggunakan aplikasi ini,” kata Sugiarso.
Selain jalur resmi, sejumlah jemaah juga menggunakan cara lain karena kendala teknis. Strategi ketiga, misalnya, dilakukan dengan “menumpang teman”. Cara ini biasa digunakan jemaah yang tidak memiliki telepon pintar atau mengalami gangguan aplikasi Nusuk. Jemaah yang mengalami kendala berjalan beriringan dengan pemilik barcode Nusuk saat pemeriksaan.
Sugiarso mengaku pernah mengalami situasi tersebut bersama teman sekamarnya. Saat pemeriksaan di sektor pintu gerbang 267, temannya sempat ditahan petugas karena aplikasi Nusuk bermasalah. Namun setelah dijelaskan, petugas akhirnya mengizinkan mereka masuk bersama.
Strategi keempat dilakukan dengan meminjam barcode Nusuk milik teman. Dalam praktiknya, pemilik barcode meminjamkan telepon genggamnya kepada jemaah lain untuk digunakan masuk ke Raudhah tanpa didampingi pemilik akun. Sugiarso menambahkan, aplikasi Nusuk juga memungkinkan jemaah memperoleh kesempatan masuk lebih dari satu kali melalui fitur tertentu di aplikasi.
Sementara itu, strategi kelima khusus dilakukan jemaah perempuan melalui antrean di pintu 32 Masjid Nabawi setiap selesai shalat Subuh. Menurut pengalaman salah satu jemaah perempuan di kloternya, jalur ini dapat diakses tanpa tasreh maupun aplikasi Nusuk.
Berbagai strategi tersebut menunjukkan besarnya antusiasme jemaah haji Indonesia untuk dapat beribadah di Raudhah, meski harus menghadapi ketatnya pengaturan akses di tengah padatnya musim haji 2026.





Comments are closed.