
Ilmuwan Temukan Talas-talasan Baru di Kalbar, Indonesia Ternyata Belum Tamat Kasih Kejutan soal Flora
Indonesia kembali mencatat penemuan spesies tumbuhan baru dari keluarga talas-talasan atau Araceae. Kali ini, tanaman tersebut ditemukan di hutan Kalimantan Barat dan diberi nama Tweeddalea capsiciformis. Penemuan ini menambah daftar panjang flora endemik Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa kawasan hutan tropis Nusantara masih menyimpan banyak spesies yang belum dikenal ilmu pengetahuan.
Spesies baru ini ditemukan di Desa Manggala, Kecamatan Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Penelitiannya dilakukan oleh tim gabungan dari Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Jungle Farm Nursery.
Nama capsiciformis dipilih karena bentuk seludang bunganya menyerupai cabai. Bagian bunga tampak melengkung dan meruncing seperti buah Capsicum. Meski berasal dari keluarga talas-talasan, tanaman ini memiliki ukuran yang cukup kecil, hanya sekitar 19 sentimeter. Bentuknya yang unik membuat spesies ini langsung menarik perhatian para peneliti.
Hanya Tumbuh di Kalimantan
Tweeddalea capsiciformis menjadi anggota ke-15 genus Tweeddalea. Menariknya, seluruh anggota genus ini diketahui hanya hidup di Pulau Kalimantan. Artinya, kelompok tanaman tersebut benar-benar endemik Kalimantan dan tidak ditemukan secara alami di wilayah lain.
Penemuan spesies ini bermula ketika Ade Agus Setiawan menemukan tanaman tersebut di lapangan. Pada awalnya, peneliti menduga tumbuhan itu memiliki kemiripan dengan genus Ibania. Namun setelah dilakukan pemeriksaan morfologi lebih detail di Herbarium Bandungense ITB, tim memastikan bahwa tanaman tersebut merupakan spesies baru yang sebelumnya belum pernah tercatat.
Selain bentuk bunganya, habitat tanaman ini juga menjadi perhatian. Tweeddalea capsiciformis hidup di kawasan hutan dataran rendah yang lembap dan teduh. Hingga kini, spesies tersebut baru ditemukan di satu lokasi di Kalimantan Barat. Karena data mengenai jumlah populasi dan persebarannya masih sangat terbatas, tanaman ini mendapat status Data Deficient (DD) dari International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Status tersebut berarti informasi ilmiah tentang spesies ini belum cukup untuk menentukan tingkat ancaman kepunahannya. Para peneliti menilai survei lanjutan penting dilakukan agar keberadaan tanaman ini dapat dipantau sebelum habitatnya mengalami tekanan lebih besar.
Temuan Serupa di Sumatra Utara
Penemuan di Kalimantan Barat ini bukan satu-satunya kabar baru dari kelompok talas-talasan Indonesia. Sebelumnya, peneliti juga menemukan spesies baru Araceae di Sumatra Utara bernama Homalomena bungamerah. Spesies tersebut dideskripsikan secara ilmiah dalam jurnal internasional Taiwania pada Maret 2026.
Penelitian itu dilakukan oleh Wendy A. Mustaqim dari Universitas Samudra dan Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Arifin S. D. Irsyam dari Herbarium Bandungense ITB, serta Muhammad R. Hariri dari BRIN. Dalam proses eksplorasi lapangan, mereka turut dibantu dua pemuda lokal dari Kampung Gotong Royong.
Berbeda dengan banyak spesies Homalomena lain yang tumbuh di tanah hutan lembap, Homalomena bungamerah hidup di permukaan batu atau litofit. Habitat yang tidak biasa tersebut membuat spesies ini tergolong langka dan sulit ditemukan.
Tanaman ini juga memiliki ciri morfologi yang khas. Permukaan daunnya tampak berlipat dengan tekstur kasar menyerupai bintik-bintik kecil. Selain itu, bagian bunga betinanya tidak memiliki staminodia di antara putik, karakter yang menjadi pembeda penting dalam identifikasi spesies.
Sama seperti temuan di Kalimantan Barat, Homalomena bungamerah juga baru diketahui hidup di satu lokasi tertentu. Kondisi ini membuat peneliti menaruh perhatian besar pada upaya konservasinya.
Dua penemuan tersebut memperlihatkan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan banyak spesies tumbuhan yang belum terungkap. Kalimantan dan Sumatra menjadi wilayah penting bagi penelitian biodiversitas, terutama untuk kelompok talas-talasan yang memiliki tingkat endemisitas tinggi dan habitat sangat spesifik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor




Comments are closed.