Sat,23 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Museum Keraton Sumenep, Jejak Kejayaan Kerajaan Sumenep dari Abad ke-18

Museum Keraton Sumenep, Jejak Kejayaan Kerajaan Sumenep dari Abad ke-18

museum-keraton-sumenep,-jejak-kejayaan-kerajaan-sumenep-dari-abad-ke-18
Museum Keraton Sumenep, Jejak Kejayaan Kerajaan Sumenep dari Abad ke-18
service

Museum Keraton Sumenep, Jejak Kejayaan Kerajaan Sumenep dari Abad ke-18


Di tengah kota Sumenep, ada bangunan yang sudah berdiri sejak abad ke-18 dan masih kokoh menyimpan ratusan benda bersejarah di dalamnya. Museum Keraton Sumenep, yang beralamat di Jalan Dr. Sutomo No. 6, Pajagalan, adalah bekas pusat pemerintahan Kerajaan Sumenep yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling lengkap di Pulau Madura.

Yang membuat kompleks ini berbeda dari museum kebanyakan adalah arsitekturnya. Bangunannya dirancang oleh Lauw Phia Ngo, seorang arsitek asal Tiongkok yang bermukim di Sumenep, menghasilkan perpaduan gaya yang tidak mudah ditemukan di satu tempat, yaitu Tionghoa, Eropa, Islam, dan Jawa.

Hasilnya bisa dilihat pada ornamen pintu, bentuk atap, ukiran dinding, hingga susunan pilar-pilarnya yang masing-masing membawa karakter berbeda namun berpadu secara harmonis.

Bagi Kawan GNFI yang sedang menjelajahi Madura, Museum Keraton Sumenep adalah kunjungan yang layak diprioritaskan. Sejarahnya bukan hanya tentang raja-raja Sumenep, tapi juga tentang bagaimana sebuah kerajaan kecil di ujung timur Madura pernah punya relasi diplomatik dengan Inggris, Tiongkok, dan Arab sekaligus.

Sekilas Mengenai Museum Keraton Sumenep

Pembangunan Keraton Sumenep di Pajagalan tidak terjadi sekaligus.

Dimulai oleh Bindara Saod (1751-1762), dilanjutkan oleh Panembahan Somala atau Notokusumo I (1762-1812) dengan bantuan arsitek Lauw Phia Ngo, dan diteruskan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1812-1854). 

Bangunan inti keraton selesai pada sekitar 1780, disertai wasiat berbahasa Arab bertarikh 1200 Hijriah yang kini menjadi salah satu koleksi museum.

Lauw Phia Ngo sendiri dipercaya merupakan salah satu dari enam orang Tionghoa pertama yang menetap di Sumenep, diperkirakan pelarian dari peristiwa Huru-hara Tionghoa di Semarang pada 1740.

Keterlibatannya dalam pembangunan keraton menjelaskan mengapa elemen Tionghoa begitu kuat terasa pada banyak detail bangunan, mulai dari bentuk atap hingga guci-guci keramik yang berjajar di area Mandiyoso.

Museum ini secara resmi diresmikan pada 9 Maret 1965 oleh Bupati Sumenep ke-9, Drs. Abdurrahman, dan kini dikelola oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep melalui Unit Pelaksana Teknis Museum Keraton Sumenep.

Daya Tarik Utama Museum Keraton Sumenep

Kompleks Museum Keraton Sumenep terbagi menjadi tiga bangunan museum utama ditambah beberapa area bersejarah lainnya yang masing-masing punya cerita tersendiri.

Museum I atau Museum Kencana Keraton menyimpan dua kereta kencana raja. Salah satunya adalah Kereta Kencana Melor, berbentuk segi enam terbuat dari kayu jati, yang merupakan hadiah dari Kerajaan Inggris kepada Sultan Abdurrahman atas keberhasilannya menerjemahkan kitab Sansekerta ke dalam bahasa Inggris.

Di museum ini juga tersimpan kursi pertemuan, tempat tidur raja, dan ukiran lambang perdamaian antara masyarakat Madura dengan pihak Eropa, Tiongkok, dan Arab.

Museum II, yang dulu merupakan kantor raja atau Kantor Koneng, menyimpan foto-foto lama yang menggambarkan adat dan tradisi kerajaan, termasuk momen ketika salah satu putri Sultan Abdurrahman menikah dengan mengenakan pakaian khas Keraton Surakarta, cerminan hubungan erat antara Sumenep dan Solo pada masa itu. Beberapa arca yang menggambarkan pengaruh budaya Hindu juga tersimpan di sini.

Museum III, yang dulu digunakan sebagai ruang meditasi raja, menyimpan koleksi paling monumental, yaitu Al-Quran raksasa berukuran 4 x 5 meter dengan berat 500 kilogram yang ditulis tangan oleh Sultan Abdurrahman. Selain itu terdapat beberapa daun lontar kering berisi ajaran agama Islam dan tradisi Jawa dalam aksara Jawa.

Di luar tiga bangunan museum, Taman Sare adalah kolam pemandian kerajaan yang dikelilingi tanaman bunga dan pohon. Area ini memiliki tiga pintu yang masing-masing dipercaya membawa manfaat berbeda, seperti pintu pertama untuk awet muda dan kemudahan jodoh, pintu kedua untuk peningkatan karir, dan pintu ketiga untuk penguatan iman.

Labang Mesem, pintu gerbang keraton yang namanya berarti “pintu senyum”, juga menjadi titik ikonik kawasan ini. Bukaannya yang rendah mengharuskan setiap orang menunduk saat melewatinya, sebagai simbol kerendahan hati yang harus dibawa siapa pun yang memasuki keraton.

Akses Menuju Museum Keraton Sumenep

Museum Keraton Sumenep berlokasi sangat strategis di pusat Kota Sumenep, tepatnya di Jalan Dr. Sutomo No. 6, Lingkungan Delama, Pajagalan. Dari Terminal Bus Sumenep, jaraknya hanya sekitar 3,2 kilometer.

Dari Surabaya, perjalanan bisa dimulai dengan menyeberangi Jembatan Suramadu menuju Madura, kemudian mengikuti jalur utama ke arah timur melalui Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan sebelum tiba di Sumenep.

Total jarak dari Surabaya sekitar 170 km dengan waktu tempuh sekitar tiga hingga empat jam menggunakan kendaraan pribadi. Setelah tiba di pusat Kota Sumenep, ikuti Jalan Dr. Sutomo dan museum berada persis di tepi jalan utama, sehingga mudah ditemukan bahkan tanpa panduan.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Keraton Sumenep buka Senin hingga Kamis pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, dan Jumat hingga Minggu pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Museum tutup pada hari libur nasional.

Tiket masuk untuk wisatawan lokal dewasa dikenakan Rp10.000, anak-anak Rp6.000, dan wisatawan mancanegara Rp20.000. Beberapa sumber menyebut tarif yang lebih rendah sekitar Rp5.000, sehingga sebaiknya konfirmasi tarif terkini langsung di loket.

Layanan tour guide tersedia untuk pengunjung yang ingin penjelasan lebih mendalam tentang koleksi dan sejarah bangunan. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir yang memadai, toilet, musala, pusat informasi, dan warung-warung di sekitar kompleks.

Ayo Berkunjung ke Museum Keraton Sumenep!

Museum Keraton Sumenep adalah salah satu destinasi di Madura yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, dari pelajar hingga wisatawan umum yang ingin memahami sedikit lebih dalam tentang sejarah Nusantara.

Datanglah pagi hari saat belum terlalu ramai, gunakan pakaian yang sopan, dan luangkan waktu untuk menjelajahi setiap sudut kompleks termasuk Taman Sare dan Labang Mesem.

Kawan GNFI yang sudah pernah ke Museum Keraton Yogyakarta atau Surakarta akan menemukan perspektif baru yang menarik di sini!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.