Sun,24 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kunuzur Rahman Karya Gus Awis dan Arah Baru Tafsir Pesantren Indonesia

Kunuzur Rahman Karya Gus Awis dan Arah Baru Tafsir Pesantren Indonesia

kunuzur-rahman-karya-gus-awis-dan-arah-baru-tafsir-pesantren-indonesia
Kunuzur Rahman Karya Gus Awis dan Arah Baru Tafsir Pesantren Indonesia
service

Tafsir pesantren selama ini identik dengan karya-karya bercorak fiqih dan sufistik. Karya seperti Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani atau Al-Ibriz karya KH. Bisri Musthafa sering dipandang merepresentasikan karakter utama tafsir pesantren, yaitu sederhana, praktis, dekat dengan kebutuhan ibadah masyarakat, dan kuat dalam nuansa moral-spiritual. 

Selain itu, literatur tafsir pesantren hadir terutama untuk menjawab persoalan keagamaan masyarakat muslim tradisional sehingga pendekatannya cenderung langsung menyentuh persoalan ibadah, akhlak, dan pembinaan religiusitas umat.

Karakter tersebut lahir dari kebutuhan sosial masyarakat sekitar pesantren pada masa itu. Hanya saja, perkembangan masyarakat modern menghadirkan persoalan yang jauh lebih kompleks. Polarisasi sosial, etika bermedia digital, kerusakan lingkungan, hingga problem kebangsaan menuntut pembacaan Al-Qur’an yang lebih kontekstual dan responsif terhadap realitas sosial.

Dalam konteks inilah kitab Kunuzur Rahman fi Durusil Qur’an karya KH. M. Afifuddin Dimyathi, Katib Syuriyah PBNU, menarik untuk dibaca sebagai salah satu tipologi baru dalam tafsir pesantren di Indonesia. 

Gus Awis, sapaan akrab KH. M. Afifuddin Dimyathi, memang tidak menyebut karya ini sebagai tafsir, melainkan Durus al-Qur’an. Dalam pengantarnya, beliau menjelaskan bahwa Durus al-Qur’an merupakan ringkasan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat petunjuk, faedah, tuntunan, hukum, dan tujuan syariat demi kemaslahatan manusia (M. Afiduddin Dimyathi, Kunuzur Rahman fi Durusil Quran, [Kairo: Dār an-Nibras, 2026, Juz I, hlm 14.

Meski demikian, secara substantif Kunuzur Rahman dapat dibaca sebagai karya tafsir. Sebab, Az-Zarqani dalam Manahilul Irfan menjelaskan bahwa tafsir terbaik pada hakikatnya tidak hanya menjelaskan makna lafaz Al-Qur’an, tetapi juga menghadirkan petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan manusia. Pada titik ini, Kunuzur Rahman justru memperlihatkan orientasi tersebut secara kuat (Az-Zarqani, Manahilul Irfan [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah], hlm. 268).

Berbeda dengan karya-karya Gus Awis sebelumnya yang lebih terasa elit karena membahas sisi-sisi teoritis dalam pendekatan tafsir Al-Qur’an, Kunuzur Rahman justru berorientasi pada pesan substantif Al-Qur’an agar tetap relevan dengan realitas masyarakat Indonesia saat ini. Karena itu, nuansa sosial dan kemasyarakatannya tampak sangat dominan. 

Berangkat dari ruang lingkup pembahasan tersebut, ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dipahami dalam konteks hukum formal atau moral individual, tetapi juga diarahkan pada persoalan kemanusiaan dan kemaslahatan sosial yang lebih luas.

Corak Maqashidi dalam Kunuzur Rahman

Salah satu karakter paling menonjol dari Kunuzur Rahman ialah pendekatan maqashidi. Ayat-ayat Al-Qur’an tidak berhenti pada makna literalnya, tetapi diarahkan pada tujuan besar syariat dan kemaslahatan hidup manusia. Penilaian ini bahkan pernah disampaikan oleh Abdul Mustaqim, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam Forum Bulanan Ulumul Quran di Mahad Aly Darul Ulum pada tanggal 9 Mei 2026

Ia menyebut Kunuzur Rahman sebagai salah satu contoh tafsir maqashidi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa karya tafsir pesantren kini mulai dibaca dalam kerangka metodologi tafsir kontemporer, bukan hanya sebagai pengajian tradisional yang bersifat repetitif terhadap khazanah klasik.

Menariknya lagi, pendekatan tersebut lahir dari pola pembacaan khas Kunuzur Rahman yang bertumpu pada beberapa kata kunci utama, seperti dalalat, fawaid, irsyadat, isyarat, mafhumat, ahkam, dan maqashid. Ketujuh unsur itulah yang menjadi poros penafsiran Gus Awis dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara lebih substantif dan kontekstual.

Karena itu, pembacaan terhadap Al-Qur’an dalam Kunuzur Rahman sering kali melampaui pemaknaan moral individual menuju persoalan sosial dan masalah struktural yang lebih luas. Di titik inilah perbedaan coraknya dengan tafsir pesantren klasik mulai tampak cukup jelas.

Dari Krisis Lingkungan hingga Cinta Tanah Air

Perbedaan tersebut, misalnya, terlihat ketika Gus Awis menafsirkan QS. Al-A’raf: 85 tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi yang berbunyi:

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya, “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf: 85)

Baik KH. Bisri Musthafa dalam Al-Ibriz maupun Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid umumnya memahami kerusakan, atau fasad, sebagai segala bentuk kemaksiatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah. Penafsiran ini tentu sejalan dengan corak moral dan spiritual yang kuat dalam tradisi tafsir pesantren pada masanya. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt], Juz 1, hlm. 385).

Namun, Gus Awis mengembangkan pembacaan yang lebih kontekstual dan relevan. Dalam Kunuzur Rahman, kerusakan di muka bumi dipahami mencakup setiap tindakan yang melampaui batas terhadap tatanan alam dan keseimbangan lingkungan. (M. Afifuddin Dimyathi, Kunūzur Rahman fi Durūsil Quran, Juz I, hlm. 333)

Karena itu, beliau menyinggung praktik eksploitasi sumber daya alam, seperti pertambangan nikel dan batu bara, yang marak di Indonesia apabila benar-benar menimbulkan kerusakan lingkungan, mencemari air, merusak tanah pertanian, dan mengancam sumber kehidupan masyarakat.

Pembacaan semacam ini menunjukkan bagaimana ayat Al-Qur’an tidak hanya dipahami dalam nasihat-nasihat individual, tetapi juga dalam konteks krisis ekologis modern yang berkaitan dengan persoalan banyak orang. Ayat tidak berhenti pada larangan abstrak tentang kemaksiatan, tetapi diarahkan pada perlindungan kehidupan manusia dan keberlanjutan alam sebagai bagian dari tujuan syariat.

Contoh lain dapat ditemukan ketika Gus Awis menafsirkan QS. Al-Ma’idah: 33 yang berbunyi:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya, “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi hanyalah mereka dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, atau diasingkan dari negeri tempat tinggalnya. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.” (QS. Al-Ma’idah: 33)

Dengan pendekatan mafhum mukhalafah, beliau memahami bahwa cinta tanah air pada dasarnya merupakan fitrah manusia. Karena itu, pengasingan terhadap pelaku qathi’ thariq dari tanah kelahirannya dipahami sebagai salah satu bentuk hukuman yang sangat berat karena bertentangan dengan naluri dasar manusia untuk hidup dan menetap di tanah asalnya (M. Afifuddin Dimyathi, Kunūzur Rahman fi Durūsil Quran, Juz 1, hlm. 340).

Kesan penafsiran seperti ini tidak ditemukan dalam Al-Ibriz, Marah Labid, maupun tafsir pesantren lainnya. Jika tafsir pesantren klasik lebih menekankan dimensi hukum, moral, dan spiritual individual, maka Kunuzur Rahman memperluas pembacaan Al-Qur’an terhadap persoalan sosial-kebangsaan serta pengalaman manusia modern.

Selain itu, Kunuzur Rahman juga memiliki nuansa adabi-ijtima’i yang cukup kuat. Penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ini sangat dekat dengan problem sosial masyarakat modern, mulai dari etika bermedia sosial, fenomena buzzer, relasi sosial dalam masyarakat, moderasi beragama, hingga persoalan lingkungan hidup. Di tangan Gus Awis, Al-Qur’an tidak dihadirkan sebagai teks yang terpisah dari realitas sosial, melainkan sebagai sumber nilai yang terus berdialog dengan perkembangan zaman.

Karena itu, kehadiran Kunuzur Rahman penting dibaca sebagai penanda perkembangan baru dalam tafsir pesantren di Indonesia. Tafsir pesantren hari ini tidak lagi hanya berbicara mengenai hukum ibadah dan spiritualitas individual, tetapi juga mulai hadir sebagai pembacaan Al-Qur’an yang aktif merespons persoalan sosial, kebangsaan, ekologis, dan kemanusiaan dalam konteks modern.

Dalam konteks tersebut, pesantren sebenarnya memiliki potensi besar untuk melahirkan model tafsir yang moderat, kontekstual, dan tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan klasik. Kunuzur Rahman menunjukkan bahwa tradisi pesantren mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan sanad dan identitas intelektualnya.

Luthfi Bagus, Alumni Darul Ulum Jombang dan Pengajar Pesantren DQ Baituna, Tangerang Selatan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.