Jakarta, NU Online
Kurban merupakan ritual yang dilakukan bangsa Arab secara turun temurun. Tradisi ini diperkenalkan oleh nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim ketika Allah memerintahkannya menyembelih salah seorang putranya.
Para sahabat hingga ulama berselisih paham mengenai sosok yang akan disembelih oleh nabi bergelar Abul Anbiya‘, bapaknya para nabi itu. Tiap-tiap kelompok memiliki argumentasinya dalam menentukan putusannya; siapakah yang akan disembelih, Ismail atau saudara seayahnya, Ishaq.
Pada awalnya, masyarakat Arab menghadiahkan kurban kepada berhala. Mereka beranggapan, hewan yang dikurbankan membawa peruntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini terjadi sebelum kedatangan Nabi Muhammad (Islam).
Hal demikian dijelaskan Alhafiz Kurniawan dalam artikelnya berjudul Sejarah Ibadah Kurban dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa kedatangan Islam berhasil merekonstruksi kurban dari sisi pemaknaan, tata cara pelaksanaan hingga orientasinya.
“Jika semua itu tidak dijaga, maka ibadah kurban dan taqarrub itu tidak akan bermanfaat kepada mereka sekalipun hewan kurban yang mereka sembelih itu banyak,” kata Alhafiz dikutip Sabtu (23/5/2026).
Kemudian Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib-nya disebut, ulama yang mengatakan Ismail yang akan disembelih memiliki enam argumen. Argumen pertama berdasarkan hadist Nabi Muhammad yang menyatakan beliau berasal dari dua orang yang disembelih. Orang pertama dipahami dengan Abdullah bin Abdul Muthalib.
“Sementara yang dimaksud ‘yang disembelih’ kedua dari hadits di atas adalah Nabi Ismail ‘alaihissalâm. Sebab Ismail merupakan nenek moyang bangsa Arab atau Abul ‘Arab,” tulis Muhamad Abror dalam Nabi yang Dikurbankan: Ismail atau Ishaq.
Argumen kedua, disampaikan bahwa Nabi Ismail dan ayahnya meninggalkan jejak berupa tempat penyembelihan, Al-Manhar di Mina, Mekkah. Jika yang akan disembelih bukan Ismail maka tempat tersebut berada di luar Mina. Bisa di Baitul Muqoddas sebagai tempat tinggal Ishaq di Palestina.
Argumen ketiga, pemberian sifat penyabar dan tepat janji kepada Ismail. Sifat yang termaktub dalam surat al-Anbiya ayat 85 dan Maryam ayat 54 itu dinilai berkaitan dengan perintah menyembelih dari Allah ta’ala terhadap Ibrahim dan Ismail.
Argumen selanjutnya yakni kabar dari Allah kepada Nabi Ibrahim bahwa ia akan dikaruniai Ishaq sekaligus anak yang akan menjadi nabi, Ya’qub. Kabar ini dipahami sebagai informasi tersirat usia Ishaq berlangsung hingga melahirkan Ya’qub, tidak disembelih layaknya Ismail.
“Seandainya kita mengatakan bahwa Ishaq diperintahkan disembelih ketika sudah melahirkan Ya’qub, ini tidak juga mungkin. Karena usia Ishaq pada saat itu sudah tua. Sementara dalam Al-Qur’an yang disembelih itu masih usia kanak-kanak,” terang Abror menerjemahkannya.
Argumen kelima adalah penjelasan surat as-Shaffat ayat 99-100, yang merekam Nabi Ibrahim meminta rezeki anak di usia senja, 86 tahun. ar-Razi menyampaikan, setelah ayat tersebut, al-Quran merekam perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putra pertama yang diidamkannya. Ulama sepakat yang dimaksud putra pertama Ibrahim yakni Ismail.
Argumen keenam, banyaknya riwayat tentang keberadaan tanduk domba yang menggantikan posisi anak Ibrahim yang digantung di Ka’bah. Hal ini ditengarai bahwa anak Ibrahim yang akan disembelih tinggal di Makkah, Ismail.
Kemudian, Abror mengutarakan, kelompok yang mengatakan bahwa Ishaq yang akan disembelih mengajukan dua argumen. Pertama, surah as-Shaffat ayat 99-100 disebut menjelaskan terkait hijrahnya Nabi Ibrahim ke Syam. Dalam perjalanan itu, ia meminta untuk dikaruniai anak.
“Kemudian dipertegas pada ayat berikutnya (As-Shaffat ayat 112), yang menjelaskan kabar gembira dari Allah, bahwa Ishaq tergolong sebagai orang shaleh. Kabar gembira ini tidak lain karena Ishaq telah melewati cobaan begitu berat, yaitu hendak disembelih,” tulis Abror.
Argumen kedua berupa surat Nabi Ya’qub yang ditujukan kepada putranya, Yusuf. Dalam surat tersebut Ya’qub memberi gelar kepada ayahnya, Ishaq Dzabihillah (Ishaq yang disembelih).





Comments are closed.