Jakarta, Arina.id—Pemikiran Presiden keempat Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak hanya menjadi rujukan di dalam negeri, tetapi juga mendapat perhatian di dunia akademik Mesir.
Nama Gus Dur bergema lewat sidang tesis Musthofa Zahran di Universitas Kanal Suez (27/6). Ia maju mempertahankan tesisnya yang berjudul “Upaya Abdurrahman Wahid dalam Reformasi Keagamaan dan Politik di Indonesia.”
Pluralisme dan rekam jejak perjuangan kemanusiaan Gus Dur dikaji secara mendalam dalam bahasa Arab. Zahran memetakan geografi masuknya Islam, akar budaya pesantren, hingga fase kepresidenan Gus Dur secara metodologis dan sistematis.
Tesis tersebut diuji oleh sejumlah akademisi terkemuka, yakni Prof. Dr. Usamah as-Sayyid Mahmud al-Azhari, yang kini menjabat Menteri Wakaf Republik Arab Mesir, Prof. Dr. Ahmad Nabawi Ahmad Makhluf dari Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, serta Prof. Dr. Muhammad Luthfi Shobir dari Departemen Akidah dan Filsafat Institut Studi Afro-Asia Universitas Kanal Suez.
Dalam sidang tersebut, para penguji mendorong agar kajian tersebut diperkaya dengan analisis yang lebih mendalam mengenai pemikiran dan pengaruh Gus Dur terhadap kehidupan keagamaan maupun politik di Indonesia.
Prof. Usamah menekankan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia dan Inggris bagi peneliti yang mengkaji tokoh Indonesia. Mengingat, sebagian besar sumber primer dan literatur mutakhir masih tersedia dalam kedua bahasa tersebut sehingga kemampuan bahasa akan menentukan keluasan perspektif dan ketepatan analisis.
“Tanpa keahlian bahasa Indonesia yang matang, peneliti akan kesulitan menggali teks-teks primer dan gagal melahirkan analisis orisinal yang tajam,” jelasnya.
Selain itu, Prof Usamah menyarankan agar penelitian memperkuat pembahasan mengenai jaringan transmisi keilmuan ulama Nusantara, khususnya legitimasi keilmuan KH. Hasyim Asy’ari melalui hubungan intelektual dengan para masyayikh Al-Azhar.
Bahkan, kitab legendaris Mbah Hasyim yang berjudul Tanbihat al-Wajibat mendapat pengantar ilmiah (taqridzh) langsung dari Syekh Yusuf Al-Djiwi, seorang ulama terkemuka Al-Azhar kala itu.
Sementara itu, Prof. Muhammad Luthfi Shobir menilai penelitian akan lebih kuat apabila mampu menunjukkan dampak konkret reformasi keagamaan dan politik yang digagas Gus Dur melalui pendekatan historis maupun sosial-politik.
Ia juga mendorong penjelasan yang lebih komprehensif mengenai corak kepemimpinan Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden RI, termasuk kerangka berpikir yang melandasi berbagai kebijakannya.





Comments are closed.