Jakarta –
Perjalanan mendapatkan Si Kecil sering kali penuh kejutan. Ada pasangan yang harus menunggu lama, menjalani berbagai pemeriksaan, hingga menerima kabar yang membuat hati mereka sedih.
Hal tersebut dialami oleh Marina dan Bishoy Salib, pasangan asal Inggris yang sempat diberi tahu bahwa mereka kemungkinan besar sulit memiliki anak secara alami.
Marina dan Bishoy Salib mengetahui pada tahun 2024 bahwa, berdasarkan tes yang mengukur jumlah sel telur, mereka kemungkinan besar ‘tidak akan pernah’ bisa memiliki anak bersama sesuatu yang sangat diinginkan pasangan yang tinggal di Peacehaven ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pada akhir tahun 2025, mereka menyambut bukan satu, tetapi tiga anak, yang oleh Bishoy, 33, disebut pasangan itu sebagai ‘keajaiban kami’. Berikut kisahnya dikutip dari People.
Marina didiagnosis sulit hamil karena cadangan sel telur rendah
Sebelumnya, Marina dan Bishoy sangat ingin memiliki anak. Setelah beberapa waktu mencoba mendapatkan momongan, Marina menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesuburannya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan Marina memiliki kadar AMH (anti-müllerian hormone) yang rendah, yang berkaitan dengan cadangan sel telur. Dokter kemudian menyampaikan bahwa peluang Marina untuk hamil secara alami sangat kecil.
“Ketika kami pergi menemui spesialis, dia mengatakan kepadanya bahwa tidak ada cara baginya untuk hamil,” kenang Bishoy.
Kabar tersebut membuat keduanya merasa sedih. Tetapi Bishoy tidak pernah menyerah. Ia yakin bahwa istrinya akan hamil.
Mereka bahkan sempat disarankan mempertimbangkan donor sel telur sebagai salah satu pilihan untuk memiliki anak. Namun, pilihan tersebut tidak sesuai dengan keyakinan yang mereka pegang.
Tetap percaya dan tidak menyerah menanti Si Kecil
Meski mendapat diagnosis yang berat, Marina dan Bishoy tetap berusaha mempertahankan harapan. Keduanya percaya bahwa perjalanan memiliki keluarga bisa memiliki jalan yang tidak terduga.
Beberapa bulan kemudian, sesuatu yang tidak mereka sangka terjadi. Pada Mei 2025, Marina melakukan tes kehamilan dan mendapatkan hasil positif.
Kabar tersebut membuat mereka terkejut karena sebelumnya Marina diberi tahu kemungkinan hamil sangat kecil. Bahkan, Marina melakukan tes beberapa kali untuk memastikan hasilnya.
“Ketika tesnya positif, Marina sangat terkejut, dia bahkan tidak bisa berdiri, dia gemetar. Dia tidak tahu harus berkata apa, matanya berkaca-kaca dan dia tertawa bersamaan,” kata suaminya.
“Dia melakukan tes setidaknya lima kali, hanya untuk memastikan bahwa dia hamil, sebelum menelepon saya dan memberi tahu saya tentang hal itu,” tambahnya.
Kejutan bertambah, ternyata hamil kembar 3
Kebahagiaan pasangan ini semakin besar saat pemeriksaan USG menunjukkan bahwa Marina tidak hanya mengandung satu bayi. Dokter menemukan ada tiga janin dalam kandungan Marina. Pasangan ini akhirnya mengetahui bahwa mereka akan menjadi orang tua dari bayi kembar tiga.
Ketiga bayi tersebut kemudian lahir dengan selamat. Mereka diberi nama Miracle, Levi, dan Suriel. Bagi Marina dan Bishoy, kehadiran ketiga anak itu menjadi momen yang sangat berarti setelah perjalanan panjang yang mereka lalui.
Kisah Marina dan Bishoy menunjukkan bahwa setiap perjalanan mendapatkan anak bisa berbeda-beda. Ada pasangan yang langsung mendapatkan kehamilan, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu dan perjuangan lebih panjang.
Meski begitu, kondisi kesuburan setiap orang tetap perlu dipahami dengan pemeriksaan medis. Diagnosis kesuburan bukan hanya berdasarkan satu faktor saja dan setiap pasangan membutuhkan pendampingan sesuai kondisi masing-masing.
Perjalanan Marina menjadi pengingat bahwa harapan bisa datang di waktu yang tidak terduga. Setelah lama menanti satu si kecil, mereka justru dikaruniai tiga buah hati sekaligus.
Kaitan AMH dan potensi kehamilan
Menurut Cleveland Clinic, tes AMH dapat memberikan wawasan tentang kesehatan reproduksi wanita, kadar hormon yang tinggi sesuai dengan jumlah sel telur yang lebih tinggi dan cadangan ovarium yang lebih tinggi, sedangkan kadar yang lebih rendah menunjukkan sebaliknya. Namun, lembaga nirlaba medis tersebut mengklarifikasi bahwa meskipun tes tersebut terkait dengan jumlah sel telur, bukan memprediksi kesuburan.
Selain itu, studi fertilitas besar juga menunjukkan bahwa meski peluang menurun pada kondisi tertentu, kehamilan tetap dapat terjadi selama masih ada aktivitas ovulasi dan kondisi reproduksi memungkinkan.
Kisah Marina dan Bishoy menunjukkan bahwa diagnosis kesuburan bukanlah vonis akhir. Banyak faktor yang memengaruhi kehamilan, dan setiap pasangan memiliki perjalanan yang berbeda.
Namun secara medis, penting untuk dipahami bahwa:
- AMH bukan penentu mutlak ketidaksuburan
- Evaluasi kesuburan harus menyeluruh (bukan hanya satu hormon)
- Konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah penting dalam program hamil
Perjalanan mereka menjadi pengingat bahwa harapan bisa datang di waktu yang tidak terduga, bahkan setelah sempat dinyatakan sulit memiliki anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)





Comments are closed.