Jember, NU Online Jatim
Hanya 45 menit. Waktu sesingkat itu biasanya bahkan belum cukup untuk menuntaskan secangkir kopi. Namun bagi Fatiha Priska Paramita, rentang waktu tersebut justru menjadi panggung pembuktian bahwa imajinasi, kepekaan, dan kekuatan literasi mampu melahirkan karya yang memukau.
Santri sekaligus siswi kelas XII MIPA 2 SMA Nurul Islam (Nuris) Jember itu sukses menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Cipta Puisi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar di Surabaya, 2 Juli 2026.
Melalui puisi berjudul ‘Kacamata Ingatan’, Fatiha berhasil meraih Juara I dan berhak mewakili Provinsi Jawa Timur pada FLS3N tingkat nasional di Jakarta.
Dalam lomba itu, peserta benar-benar diuji kemampuan dan ketajaman instingnya dalam membuat puisi. Para peserta dikumpulkan di sebuah ruangan di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing peserta diberikan tiga objek sebagai sumber inspirasi penulisan puisi, yakni buku, kacamata, dan makanan rebus.
Tak ada kesempatan untuk berlama-lama merenung. Panitia hanya memberi waktu 45 menit untuk menyelesaikan sebuah puisi yang utuh. Di tengah tekanan waktu tersebut, Fatiha menjatuhkan pilihan pada kacamata. Benda sederhana itu dianggapnya paling dekat dengan pengalaman dan dunia kreatif yang selama ini ia geluti.
Jarum jam terus bergerak. Sementara peserta lain sibuk merangkai kata dan mencari makna, Fatiha memutar otak, mengembara dalam imajinasi, lalu menumpahkan gagasannya ke dalam bait demi bait puisi. Dari proses yang berlangsung begitu cepat itulah lahir sebuah karya yang kemudian mengantarkannya menjadi yang terbaik di Jawa Timur.
Melalui puisi ‘Kacamata Ingatan’, Fatiha mengangkat fenomena masyarakat yang kerap menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di permukaan. Popularitas, tren yang sedang viral, hingga kualitas yang dinilai secara sepintas sering kali menjadi ukuran utama dalam memandang realitas.
Padahal, menurut Fatiha, manusia tidak cukup hanya melihat dengan mata. Ada hati, kebijaksanaan, dan ingatan terhadap nilai-nilai kehidupan yang semestinya menjadi penuntun.
Dalam puisinya, Fatiha mengajak pembaca merenungkan sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam: apakah manusia masih memakai ‘kacamata ingatan’, atau justru telah kehilangan ingatan terhadap hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup?
“Awalnya saya merasa gugup karena bersaing dengan peserta-peserta hebat dari seluruh Jawa Timur. Alhamdulillah, saya sangat kaget sekaligus bersyukur ketika diumumkan menjadi Juara 1. Rasanya seperti ingin menangis karena tidak menyangka bisa meraih hasil ini,” ungkap Fatiha di kompleks Pondok Pesantren Nuris Antirogo Jember, Kamis (9/7/2026).
Selengkapnya klik di sini.





Comments are closed.