Ketika banyak negara berlomba-lomba membangun destinasi wisata buatan, pesantren di Indonesia diam-diam menyimpan kekayaan yang jauh lebih bernilai yaitu tradisi yang masih hidup. Di lapangan-lapangan sederhana, para santri menendang bola yang menyala, bukan untuk mempertontonkan keberanian, melainkan untuk belajar mengendalikan diri. Tradisi sepak bola api mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari ruang kelas; ia juga tumbuh dari kebudayaan yang diwariskan dengan penuh makna.
Selama ini, ketika berbicara tentang wisata spiritual, pikiran kita hampir selalu tertuju pada makam para wali, masjid-masjid tua, atau situs-situs keagamaan yang menjadi tujuan peziarah. Semua itu merupakan bagian penting dari khazanah Islam Indonesia. Namun sesungguhnya, masih ada satu kekayaan lain yang belum banyak mendapat perhatian, yakni tradisi hidup pesantren (living heritage). Tradisi ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi praktik budaya yang terus dijalankan, diwariskan, dan diberi makna oleh komunitasnya. Salah satu tradisi yang paling unik adalah sepak bola api.
Bagi masyarakat awam, permainan ini tampak seperti atraksi yang memacu adrenalin. Bola yang dibuat dari tempurung kelapa dibakar hingga menyala, kemudian dimainkan oleh para santri pada malam hari. Akan tetapi, bagi pesantren, yang sesungguhnya sedang dimainkan bukanlah bola yang terbakar. Api menjadi simbol hawa nafsu, amarah, ego, dan berbagai godaan kehidupan. Seorang santri dididik bukan untuk menjauhi api, tetapi untuk mampu mengendalikannya. Sebab kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.
Tradisi inilah yang menunjukkan bahwa pesantren memiliki cara khas dalam membentuk karakter. Nilai-nilai akhlak tidak berhenti pada pengajian kitab, tetapi dihidupkan melalui pengalaman, keteladanan, dan budaya.
Api yang Mengajarkan Akhlak
Di sejumlah pesantren, sepak bola api masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi pendidikan. Pesantren Babakan Ciwaringin di Cirebon menjadikannya sebagai media dakwah dan simbol pengendalian hawa nafsu. Pondok Tremas di Pacitan mempertahankan tradisi Brojo Geni sebagai bagian dari peringatan malam 1 Muharam. Pesantren Singo Ludiro menyelenggarakannya pada bulan Ramadan sebagai sarana syiar kepada masyarakat, sedangkan Pesantren Dzikir Al-Fath di Sukabumi mengembangkannya sebagai pertunjukan budaya yang tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual.
Tradisi-tradisi tersebut membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjaga kitab kuning, tetapi juga menjaga kebudayaan. Dalam pandangan pesantren, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui ceramah, melainkan juga melalui simbol-simbol yang mengandung pelajaran hidup.
Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian Rofi Hartanti Supih, Nilai-Nilai Dakwah dalam Tradisi Permainan Bola Api: Studi Deskriptif tentang Nilai-Nilai Dakwah sebagai Media Dakwah di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon (2017). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sepak bola api mengandung nilai keberanian, kedisiplinan, kerja sama, tanggung jawab, dan ketawakalan. Tradisi ini menjadi media dakwah yang efektif karena nilai-nilai Islam tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi dialami secara langsung oleh para santri.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa sepak bola api merupakan bagian dari pedagogi pesantren. Apa yang tampak sebagai permainan sesungguhnya adalah proses pendidikan karakter.
Perspektif yang sama dapat dibaca melalui konsep intangible cultural heritage yang dikembangkan UNESCO dalam Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (2003). UNESCO menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa bangunan, benda bersejarah, atau monumen, tetapi juga mencakup praktik sosial, ritual, seni pertunjukan, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai sebuah tradisi terletak pada kenyataan bahwa tradisi tersebut terus hidup bersama komunitasnya. Dalam konteks itu, sepak bola api layak dipandang sebagai salah satu warisan budaya takbenda pesantren.
Lebih dari sekadar atraksi, ia merupakan representasi cara pesantren membentuk manusia yang mampu mengendalikan diri. Di tengah kehidupan modern yang penuh kompetisi, pesan itu justru menjadi semakin relevan. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan manusia yang mampu mengendalikan ego, amarah, dan nafsunya. Barangkali, pelajaran terbesar dari sepak bola api bukanlah keberanian menendang bola yang menyala, melainkan keberanian menaklukkan api yang ada dalam diri sendiri.
Membangun Jalur Pariwisata Spiritual Pesantren
Ironisnya, kekayaan budaya seperti ini belum banyak menjadi bagian dari strategi pembangunan kebudayaan maupun pariwisata nasional. Padahal dunia pariwisata telah bergeser menuju experience tourism, yaitu wisata yang menawarkan pengalaman autentik, interaksi budaya, dan pembelajaran nilai.
Dalam bukunya Religious Heritage and Tourism (2006), Dallen J. Timothy menjelaskan bahwa warisan keagamaan memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata apabila mampu menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus pemahaman budaya. Sementara Laurajane Smith dalam Uses of Heritage (2006) mengingatkan bahwa warisan budaya bukan sekadar sesuatu yang diwariskan dari masa lalu, tetapi sesuatu yang terus diberi makna oleh masyarakat masa kini.
Gagasan tersebut sangat relevan dengan pesantren Indonesia. Bayangkan sebuah perjalanan yang dimulai dengan menelusuri sejarah pesantren, berziarah ke makam para kiai, mengunjungi perpustakaan manuskrip kitab kuning, mengikuti pengajian singkat, menikmati kuliner khas santri, melihat aktivitas badan usaha milik pesantren, menyaksikan seni hadrah atau pencak silat, kemudian pada malam hari menikmati pertunjukan sepak bola api yang disertai penjelasan mengenai makna filosofinya.
Wisatawan tidak hanya membawa pulang dokumentasi perjalanan, tetapi juga pengalaman batin. Mereka memahami bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan pusat kebudayaan yang memadukan ilmu, seni, spiritualitas, dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, Indonesia sudah saatnya membangun Jalur Pariwisata Spiritual Pesantren Indonesia. Jalur ini tidak hanya menghubungkan makam-makam ulama, tetapi juga menghubungkan pesantren-pesantren yang memiliki kekhasan sejarah, manuskrip, seni, kuliner, arsitektur, ekonomi kreatif, dan tradisi budaya seperti sepak bola api.
Gagasan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menegaskan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pariwisata spiritual dapat menjadi ruang pertemuan ketiga fungsi tersebut. Pendidikan tetap berjalan, dakwah semakin luas menjangkau masyarakat, sementara pemberdayaan ekonomi memperoleh sumber pertumbuhan baru melalui UMKM, homestay, pemandu wisata santri, festival budaya, dan produk kreatif pesantren.
Tentu, pengembangannya harus dilakukan dengan prinsip yang jelas. Tradisi tidak boleh kehilangan makna karena tuntutan komersial. Pesantren harus tetap menjadi fa’il (subjek), bukan maf’ul (objek). Pariwisata harus hadir untuk memperkuat pelestarian tradisi, bukan mengubahnya menjadi sekadar tontonan.
Sepak bola api hanyalah satu contoh kecil dari ribuan khazanah budaya pesantren Indonesia. Masih ada manuskrip kitab kuning, seni hadrah, kaligrafi, pencak silat, tradisi ngaji pasaran, kuliner khas santri, hingga berbagai ritual sosial yang hidup di lingkungan pesantren. Seluruhnya merupakan modal kebudayaan yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Di tengah dunia yang semakin seragam, justru identitas lokal menjadi kekuatan baru. Pesantren memiliki identitas itu. Ia tidak hanya mengajarkan cara membaca kitab, tetapi juga cara membangun peradaban melalui ilmu, akhlak, dan budaya.
Mungkin jalan baru pariwisata Indonesia tidak harus dimulai dari destinasi yang megah atau infrastruktur yang mewah. Ia bisa dimulai dari lapangan sederhana di sebuah pesantren, ketika bola api kembali bergulir, para santri berlari dengan penuh ketenangan, dan masyarakat menyaksikan bahwa di balik nyala api itu tersimpan cahaya pendidikan, kebudayaan, dan peradaban.
Selama tradisi-tradisi itu tetap hidup, selama pesantren terus merawatnya, dan selama negara memberi ruang untuk berkembang, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negeri dengan destinasi wisata yang indah, tetapi juga sebagai bangsa yang mampu menjaga warisan budayanya sambil menyalakan harapan bagi masa depan.
Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak, Anggota Lembaga Seni, Budaya, dan Peradaban Islam MUI.
Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak





Comments are closed.