Mubadalah.id – Tepuk tangan bergemuruh memenuhi Stadion Nasional Jepang ketika Manami Ito menggesek busur biolanya pada Upacara Pembukaan Paralimpiade Tokyo 2020. Berbagai media segera memberitakan penampilannya. Ribuan komentar bermunculan. “Luar biasa.” “Tetap bisa bermain biola meski kehilangan lengan.” Hampir semua pujian berangkat dari cara pandang yang sama, yakni bahwa Manami berhasil melakukan sesuatu yang lazim dilakukan oleh orang tanpa disabilitas.
Sekilas, tidak ada yang salah dengan kekaguman tersebut. Namun, ketika kita melihatnya lebih dekat, muncul sebuah kegelisahan yang jarang kita renungkan. Mengapa kita hampir selalu mengukur keberhasilan penyandang disabilitas dari kedekatan mereka dengan kehidupan yang kita sebut “normal”?
Kegelisahan itu tidak hanya berkaitan dengan kisah Manami Ito. Ia membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar tentang bagaimana masyarakat membentuk ukuran mengenai kemampuan, kondisi fisik, bahkan nilai seseorang. Barangkali, persoalan terbesar bukan terletak pada keberagaman kondisi fisik, melainkan pada keyakinan bahwa hanya ada satu standar yang layak dijadikan ukuran bagi semua orang.
Ketika “Normal” Menjadi Standar Kehidupan
Manami Ito merupakan seorang perawat, mantan atlet Paralimpiade, sekaligus pemain biola asal Jepang. Pada 2004, ia kehilangan lengan kanannya akibat kecelakaan lalu lintas. Banyak orang mengira hidupnya sebagai musisi telah berakhir. Namun, ia memilih mencari cara lain agar tetap dapat memainkan biola. Dengan bantuan lengan prostetik khusus, Manami mengembangkan teknik bermain yang mengandalkan koordinasi bahu, keseimbangan tubuh, dan tangan kirinya.
Dalam wawancara bersama NHK World, Manami menjelaskan bahwa ia tidak berusaha mengembalikan kehidupannya seperti sebelum kecelakaan. Ia hanya ingin tetap memainkan musik yang ia cintai. Ucapannya memperlihatkan bahwa ia tidak mengejar tubuh yang pernah ia miliki, melainkan memilih membangun kemungkinan baru dari kondisi fisiknya saat ini.
Lengan prostetik tidak mengembalikan keadaan fisik Manami seperti sebelum kecelakaan. Teknologi itu justru memperluas kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Musik yang lahir dari biolanya bukan hasil dari pemulihan kondisi fisik, melainkan buah dari kemampuan manusia untuk terus beradaptasi.
Jika demikian, mengapa kita masih memaknai kisah Manami sebagai keberhasilan kembali menjadi “normal”? Bukankah yang lahir justru cara baru memainkan biola, bukan sekadar upaya meniru cara lama?
Pengalaman Manami memperlihatkan bahwa persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada kehilangan satu lengan. Persoalan muncul ketika masyarakat lebih dahulu menetapkan satu ukuran tentang tubuh yang dianggap ideal, lalu mengukur setiap orang dengan standar yang sama.
Mengapa Konsep “Normal” Terus Bertahan?
Pada awalnya, konsep “normal” berkembang dalam dunia kedokteran sebagai alat untuk membantu tenaga kesehatan mengenali kondisi tubuh, mendiagnosis penyakit, dan menentukan penanganan yang tepat. Dalam konteks tersebut, ukuran normal memiliki fungsi ilmiah, bukan fungsi moral.
Persoalan muncul ketika ukuran medis meluas ke kehidupan sosial. Tubuh yang berada di luar rata-rata perlahan dipandang sebagai tubuh yang kurang ideal. Standar yang semula hanya berfungsi menjelaskan kondisi tubuh berubah menjadi ukuran untuk menilai kemampuan, produktivitas, bahkan martabat seseorang.
Menariknya, ukuran tentang “normal” tidak pernah benar-benar tetap. Masyarakat dapat mengubah makna “normal” seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Karena itu, “normal” bukan identitas yang melekat secara alamiah pada tubuh manusia. Masyarakat terus membentuk, menegosiasikan, dan mempertahankan konsep sosial tersebut.
Sosiolog Inggris Mike Oliver memperkenalkan social model of disability pada 1983 sebagai kritik terhadap cara pandang tersebut. Menurut Oliver, pendekatan medis terlalu berfokus pada kondisi fisik individu sehingga masyarakat seolah-olah menjadikan penyandang disabilitas sebagai sumber persoalan.
Sebaliknya, ia mengalihkan perhatian pada hambatan sosial yang membuat penyandang disabilitas sulit berpartisipasi secara setara. Artinya, persoalan utama tidak selalu terletak pada kondisi fisik seseorang, melainkan pada lingkungan yang gagal mengakomodasi keberagaman manusia.
Pandangan tersebut semakin relevan jika melihat data World Health Organization (WHO). WHO memperkirakan lebih dari 1,3 miliar orang, atau sekitar 16 persen populasi dunia, hidup dengan disabilitas. Artinya, satu dari enam orang di dunia mengalami bentuk disabilitas tertentu. Jika jumlahnya sebesar itu, masih pantaskah kita menganggap tubuh mereka sebagai pengecualian dari apa yang disebut normal?
Ableism: Ketika Standar Berubah Menjadi Diskriminasi
Ableism muncul ketika masyarakat menjadikan tubuh tanpa disabilitas sebagai ukuran ideal. Bentuk diskriminasi ini tidak selalu hadir melalui penghinaan atau perlakuan yang terang-terangan merendahkan. Justru karena hadir dalam kebiasaan sehari-hari, ableism sering luput dari perhatian.
Masyarakat mereproduksi ableism melalui bahasa, kebiasaan, dan berbagai standar yang terus mereka ulang. Pengulangan itu membuatnya tampak sebagai sesuatu yang wajar. Kita jarang mempertanyakan mengapa perancang ruang publik menganggap semua orang mampu berjalan, menaiki tangga, melihat, medengar, atau menggenggam benda dengan cara yang sama. Ketika masyarakat menerima anggapan itu tanpa kritik, keberagaman kondisi fisik perlahan diposisikan sebagai pengecualian.
Cara pandang tersebut juga hidup dalam bahasa sehari-hari. Media turut memperkuatnya melalui frasa seperti “tetap bisa”, “meski memiliki keterbatasan”, atau “berhasil seperti orang normal”. Banyak orang mengucapkan frasa itu sebagai bentuk apresiasi.
Namun, pilihan bahasa tersebut tanpa sadar terus menjadikan tubuh tanpa disabilitas sebagai titik pembanding. Akibatnya, masyarakat lebih sering memandang penyandang disabilitas sebagai pengecualian yang berhasil melampaui keterbatasannya daripada sebagai manusia yang memiliki cara hidup dan kemampuan yang sama-sama bernilai.
Memuliakan Manusia, Bukan Menyeragamkan Tubuh
Cara pandang tersebut sejalan dengan perspektif Mubadalah yang menolak relasi berdasarkan superioritas satu kelompok atas kelompok lain. Mubadalah memandang setiap manusia sebagai subjek yang setara, yang sama-sama memiliki hak untuk hidup bermartabat, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan memperoleh kesempatan yang adil.
Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (QS. Al-Isra’: 70). Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak bergantung pada kesehatan, produktivitas, ataupun kondisi fisik tertentu. Kemuliaan melekat pada setiap manusia karena kemanusiaannya, bukan karena kesempurnaan fisiknya.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari kisah Manami Ito. Ketika ia memainkan biolanya di hadapan dunia, yang sedang ia tunjukkan bukanlah keberhasilan menjadi “normal” kembali. Ia menunjukankan bahwa manusia selalu dapat menemukan menemukan cara baru untuk hidup, berkarya, dan memaknai kehidupan tanpa kehilangan identitas dirinya.
Barangkali, kita justru perlu mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas, bukan memulihkan tubuh mereka. Yang lebih mendesak ialah cara pandang kita terhadap manusia. Selama kita masih menjadikan “normal” sebagai ukuran untuk menghargai seseorang, kita belum sepenuhnya memahami makna kemanusiaan.
Sebab, masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang berhasil menyeragamkan tubuh manusia, melainkan masyarakat yang mampu menghormati setiap orang dalam seluruh keberagamannya. Mungkin, Manami Ito tidak sedang mengubah cara orang menciptakan musik melalui biolanya. Ia sedang mengingatkan kita bahwa tidak pernah ada satu cara yang mutlak untuk menjadi manusia. []





Comments are closed.