Kasus kekerasan seksual terhadap anak yang melibatkan orang terdekat dalam lingkungan keluarga kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak. Alih-alih menjadi tempat yang aman, keluarga dapat menjadi ruang yang meninggalkan luka ketika kepercayaan disalahgunakan oleh pihak yang seharusnya melindungi.
Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Primatia Yogi Wulandari, memandang pelecehan seksual tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis anak. Namun juga mempengaruhi cara anak memandang dirinya, orang lain, hingga hubungan sosial di masa depan.
Primatia menjelaskan kedekatan hubungan keluarga tidak serta-merta menjamin keamanan bagi anak. Dalam banyak kasus, pelaku justru memanfaatkan relasi kuasa yang dimiliki terhadap korban.
“Dalam perspektif psikologi perkembangan, pelecehan seksual dalam keluarga menjadi hal yang sangat serius karena pelakunya adalah orang terdekat yang seharusnya menjadi sosok pelindung. Ketika kepercayaan itu dikhianati, yang terganggu bukan hanya emosi anak, tetapi juga proses perkembangannya,” ujarnya.
Ia menambahkan perbedaan usia dan otoritas antara orang dewasa dengan anak menciptakan ketimpangan kuasa yang dapat dimanfaatkan pelaku. Oleh karena itu, pendidikan mengenai tubuh, batasan privasi, dan persetujuan perlu dikenalkan sejak dini.
“Perlindungan anak bukan hanya mengajarkan mereka berhati-hati terhadap orang asing, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap anak berhak menjaga batasan tubuhnya, sekalipun dengan orang yang dikenal,” jelasnya.
Menurutnya, respons setiap anak terhadap kekerasan seksual tidak dapat disamaratakan. Sebagian anak mungkin menunjukkan perubahan perilaku, sementara yang lain tampak baik-baik saja meskipun mengalami luka psikologis yang mendalam.
“Korban dapat mengalami rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan tidur dan berkonsentrasi. Namun, tidak semua anak memperlihatkan tanda yang sama. Karena itu, kita tidak bisa menilai berat atau ringannya dampak hanya dari perilaku yang tampak,” tuturnya.
Ia menjelaskan pengalaman kekerasan seksual dalam keluarga dapat mempengaruhi kemampuan anak membangun hubungan sosial. Korban berpotensi mengalami trust issues, menarik diri dari lingkungan, hingga kesulitan menjalin relasi ketika memasuki usia remaja. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut dapat dipulihkan apabila anak memperoleh perlindungan dan pendampingan yang tepat.
Ia menekankan bahwa pencegahan kekerasan seksual tidak boleh dibebankan kepada anak semata. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.
Menurut dia, yang perlu kita ciptakan bukan hanya anak yang aman secara fisik, tetapi juga anak yang merasa aman untuk bercerita. “Ketika anak berani mengungkapkan pengalamannya, respons pertama orang dewasa haruslah mendengarkan, mempercayai, dan melindungi, bukan menyalahkan atau mempertanyakan ceritanya,” katanya.





Comments are closed.