Di tengah menyempitnya ruang-ruang demokrasi dan meningkatnya serangan terhadap kelompok rentan, festival sastra justru menunjukkan wajah lain kebudayaan: sebagai ruang yang mempertemukan gagasan, seni, dan keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih setara.
Dari Makassar hingga Singaraja, panggung-panggung sastra tidak hanya dipenuhi peluncuran buku atau diskusi penulis, tetapi juga suara perempuan adat, penyandang disabilitas, pekerja rumah tangga, hingga karya-karya seni yang menantang cara lama memandang relasi manusia, alam, dan keadilan.
Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 dan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 menghadirkan pendekatan yang berbeda. Tetapi bertemu pada satu gagasan yang sama, yakni sastra dan kebudayaan sebagai ruang untuk mempertanyakan siapa yang selama ini didengar, siapa yang disingkirkan, dan pengetahuan siapa yang dianggap layak diwariskan.
Di tengah diskusi, pameran, pemutaran film, hingga pertunjukan tari, kedua festival ini mengangkat pengalaman perempuan bukan sebagai pelengkap. Melainkan sebagai subjek yang membangun sejarah, merawat kehidupan, dan menawarkan cara lain membaca krisis.
Di Makassar, gagasan itu hadir melalui Makassar International Writers Festival (MIWF). Festival ini mengusung tema re-co-ordinate, sebuah ajakan untuk memetakan ulang relasi kuasa, sejarah, dan masa depan melalui nilai solidaritas, keberagaman, dan keadilan.
Sementara di Singaraja, lima penari perempuan membuka festival dengan “Perempuan di Sawah”. Ini pertunjukan yang mengarsipkan kerja, pengetahuan, dan relasi spiritual perempuan dalam tradisi agraria Bali. Sesuatu yang selama ini kerap luput dari narasi besar tentang ketahanan pangan.
Dua festival, dua kota, memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang perlawanan yang sama pentingnya dengan ruang politik.
Makassar International Writers Festival (MIWF)
Sabtu sore ketika kami datang, ribuan orang sudah memadati Benteng Rotterdam di Makassar, tempat perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF).
Hawa panas yang menusuk pada 14-17 Mei 2026 itu, tidak membuat orang tak jadi datang di Benteng. Sebagai orang Jakarta yang datang ke Makassar, hari itu Makassar memang lebih panas dibanding Jakarta. Benteng Rotterdam sebagai tempat acara juga letaknya di pinggir pantai Losari, ada hawa panas, namun sedikit lega karena ada angin yang bertiup.
“Semakin malam semakin ramai, apalagi malam minggu, orang-orang muda di Makassar selalu memadati MIWF,” kata salah satu pengunjung pada kami.
Mereka menonton film, mengikuti diskusi, melihat pameran, menonton panggung musik. Ada jajanan khas Makassar dan kue-kue modern yang dijual di tengah lapangan. Sedangkan panggung besar, ada di tengah lapangan. Diskusi dan pemutaran film ada di kelas-kelas di tempat-tempat yang mengelilingi benteng. Anak-anak muda menghabiskan malam minggu, tumpah ruah disini.
Konde.co mengisi 2 kelas di perhelatan ini, yaitu kelas menonton Film “More Than Work” dan kelas perjuangan Pekerja Rumah Tangga (PRT). Di Tengah, tak jauh dari panggung, ada pameran dan instalasi seni.
Malam minggu kali ini bisa jadi malam minggu yang berbeda bagi orang muda di Makassar, yang dari siang hingga malam hari makin banyak yang datang. Seorang pengunjung mengatakan, MIWF telah menyatukan orang muda di Makassar.
Tentu tak hanya dari Makassar, para pengunjung dari luar kota dan luar negeri juga datang menyaksikan festival ini.
MIWF adalah sebuah festival penulis internasional pertama di Indonesia Timur, yang dikerjakan secara independen, menjunjung Hak Asasi Manusia/ HAM, bersifat anti-korupsi, inklusif, dijalankan sebagai kegiatan nir-sampah (Zero Waste) sejak 2019 dan mendeklarasikan diri sebagai festival yang menentang all-male panel sejak Maret 2020. Panitia, kurator, pengisi acaranya sangat beragam dan memperjuangkan isu HAM dan keberagaman.
Di tahun 2026 ini, MIWF mengambil tema re-co-ordinate, ada seruan untuk secara kolektif menentukan saling dan silang koordinat. Tema ini mengajak publik untuk mempertanyakan koordinat sejarah, budaya, dan politik yang kita warisi, serta membaca ulang dan menggugat struktur-struktur dominan yang membentuk dan atau merusaknya.
Tema MIWF 2026 ini hendak mengajak kita untuk melihat multi krisis yang sedang kita hadapi saat ini, bukan semata sebagai kegagalan kebijakan, melainkan juga sebagai kegagalan koordinasi. Bukan semata sebagai kegagalan rasional, namun juga sebagai kegagalan relasional. Tidak ada koordinat yang berdiri sendiri; setiap titik bertumpu pada relasinya dengan yang lain, sebagaimana komunitas, ekosistem, dan bangsa.
Di tengah krisis iklim dan ekosida, genosida dan batas politik yang berubah, serta homogenisasi budaya yang mengancam keragaman, re–co–ordinate mengundang publik memetakan ulang posisi, titik tumpu, dan arah hadap.
Dalam pernyataan sikapnya, Direktur MIWF, M. Aan Mansyur menyatakan bahwa semesta alternatif harus dibangun dengan etika kepedulian, solidaritas, praktik-praktik reparatif kolektif, ketangguhan emansipatif, dan keadilan sebagai titik koordinat utama. Keadilan yang melampaui relasi antroposentrisme. Keadilan biosentris, yaitu keadilan yang meletakkan kehidupan sebagai titik pusatnya.
Festival ini juga menampilkan pameran Voice of Mama, yaitu program kolaborasi antara Perkumpulan Penulis Alinea dan Photovoices Internasional yang menjadi medium bagi kaum perempuan adat di Distrik Namblong, Kabupaten Jayapura, bersuara akan hutan adat mereka yang perlahan sirna di depan mata. Voice of Mama-mama menampilkan hasil program residensi kawan penulis Alinea yang dikemas dalam bentuk buku, berisikan narasi, prosa, puisi, dan foto. Juga Memuat berbagai cerita dari tanah Papua dan masyarakat adat yang berbagi kisah tentang kehidupan mereka. Berisikan kisah dari Sorong, Wamena, Merauke, hingga Raja Ampat.
Lalu ada Telusur Waris yang menampilkan instalasi dan performan, yang membuka lapisan-lapisan di balik instalasi medium utama kain yang disajikan secara partisipatoris dan meruang.
Lalu juga ada Setara BerSUARA, pameran terbuka bagi publik yang berfokus pada penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya sebagai aktor utama dalam mengarusutamakan isu aksesibilitas dan inklusivitas dalam pembangunan kota. Pameran ini menampilkan infografis data Disability-Inclusive City Profile Makassar, foto kegiatan kolaboratif bersama penyandang disabilitas, dan narasi atau aspirasi dari penyandang disabilitas untuk kota Makassar
AksesHUB menginisiasi kelas interaktif “Mendeskripsikan yang Terlihat” untuk memperkenalkan peran penting describer atau pendeskripsi visual bagi teman Netra.
Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk memetakan ulang aksesibilitas di ruang publik yang selama ini sering mengabaikan informasi visual, sekaligus melatih keterampilan teknis dalam menyampaikan konteks situasi secara etis dan netral.
MIWF 2026 menegaskan bahwa menciptakan ruang inklusif bukan sekadar masalah kebijakan, melainkan bentuk koordinasi kolektif untuk memastikan pengalaman festival yang setara bagi semua individu.
Singaraja Literary Festival
Di Bali, selain Ubud Writers and Readers Festival, ada Singaraja Literary Festival, yang di tahun 2026 ini menghadirkan tari kontemporer “Perempuan di Sawah” yang mengajak penonton melihat kembali bagaimana posisi perempuan dalam kerja-kerja agraria yang sering tak kasat mata.
Perhelatan Singaraja Literary Festival (SLF) tahun 2026 memberikan kesan baru dalam pembukaannya. Di hajatan 2024, SLF menampilkan Tari “Padi” sebagai pembukaan acara. Seakan menyambung ke isu yang lebih mendalam, di tahun ini pembukaan SFL menghadirkan tari kontemporer berjudul “Perempuan di Sawah”.
Tarian ini dipentaskan oleh Komunitas Lemah Tulis sebelum acara pembukaan resmi dimulai.
Berisikan lima penari perempuan, tarian ini mengangkat tema perempuan dan agraria, terutama tradisi persawahan di Bali. Tema yang diangkat secara khusus menyoroti bagaimana perempuan juga memiliki kemampuan dan ketangguhan dalam menjaga ketahanan pangan, siklus bercocok tanam, hingga dialog antara kehidupan pedesaan dan modernitas.
Tidak seperti tari sambut-sambutan yang menitikberatkan pada penghormatan maupun ungkapan selamat datang, tari ini lebih banyak menyampaikan gagasan, emosi, sekaligus kritik sosial.
Pilihan tema yang ada berupaya untuk tidak menempatkan perempuan sebagai objek yang dipertontonkan, melainkan sebagai subjek yang merawat dan mempertahankan sistem pangan, yang biasanya luput dari sorotan.
SLF 2026 sendiri berlangsung selama tiga hari, sejak 3 hingga 5 Juli 2026, berpusat di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng, Bali. Mengusung tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta”, pokok pikirannya terinspirasi dari salah satu koleksi manuskrip lontar di Gedong Kirtya Singaraja tentang etika dan kedudukan perempuan.
Festival ini menghadirkan 42 program yang meliputi diskusi panel, kuliah umum, lokakarya, peluncuran dan bedah buku, pembacaan puisi, pemutaran film, hingga pertunjukan seni, dengan tujuan menghidupkan kembali pengetahuan dalam naskah lontar sekaligus memperkuat ekosistem sastra dan literasi di kawasan Bali dan sekitarnya.
Putu Bratria Dama Dayanu, penggarap tari tersebut menjelaskan bahwa lahirnya “Perempuan di Sawah” berasal dari pemangkasan garapan Teater Trikaltari tahun 2024 berjudul “Prakertaning Dharma Pemaculan”. Ia mengangkat kembali sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul baru agar selaras dengan tema besar SLF tahun ini, yaitu perempuan.
Tari “Perempuan di Sawah” sebenarnya merupakan hasil pemangkasan dari garapan Teater Trikaltari tahun 2024 yang berjudul Prakertaning Dharma Pemaculan. Agar sesuai dengan tema SLF tahun ini, yakni perempuan, saya mengangkat sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul yang berbeda,” ujar Putu Bratria usai pementasan dalam rilis yang diterima oleh Konde.co sebagai kolaborator Singaraja Literary Festival 2026.
Koreografi dari tari ini memadukan gerak keseharian petani dengan eksplorasi gerak yang lebih dinamis dan bebas. Melalui perpaduan tersebut, tarian ini menjadi medium dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya memuliakan sawah di Bali sebagai ruang kehidupan bersama, sekaligus ruang di mana kerja-kerja perempuan selama ini banyak bersandar.
Kutipannya menarik soal pemilihan “sawah” dalam konteks Bali—yang mulai tergerus di sana. Karena Sawah sendiri sebenarnya bukan pertanian yang bisa cocok di mana saja, (e.g. di Papua, Kalimantan, sebagian wilayah Sulawesi). Jadi di sini bisa dielaborasi bagaimana pergeseran lahan sawah di Bali dengan peruntukan industri, pembangunan, atau bahkan pendudukan—kalau melihat kutipan, narasumber memilih kata “pembangunan”.
“Di tengah pesatnya pembangunan, berbagai aktivitas pertanian mulai tergerus, sementara keberadaan sawah di Bali terus menghadapi beragam persoalan yang mengancam kelestariannya,” ujarnya.
Empat Babak, Empat Wajah Kerja Perempuan
Pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit di SLF ini dibagi ke dalam empat babak, yang masing-masing menggambarkan lapisan pengetahuan dan kerja perempuan dalam tradisi bertani masyarakat Bali.
Babak pertama menampilkan kelima penari membawa kendi sebagai simbol tradisi “mapag toya”, yaitu sebuah ritual menyambut air sebelum mengolah sawah. Gerakan mengambil air ini tampaknya sederhana, tetapi makna yang terkandung dari gerakan tersebut tentang posisi air sebagai sumber kehidupan sekaligus unsur utama dalam sistem irigasi pertanian.
“Mapag toya merupakan simbol bahwa air adalah bagian paling penting dalam pengairan sawah,” kata Putu Bratria.
Bagian kedua beralih ke eksplorasi gerak tangan, terutama gerak membuka dan mengepalkan telapak tangan sebagai simbol ilmu Jyotisa atau ilmu perbintangan. Menurut Putu Bratria, para petani tradisional Bali tidak sekadar menanam berdasarkan perkiraan. Saat belum mengenal kalender modern tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menanam dengan ilmu yang dimiliki melalui cara tersendiri seperti memperhatikan wariga, ilmu perbintangan, hari baik, serta kondisi iklim yang diyakini memengaruhi pertumbuhan tanaman. Para petani memiliki cara dan sistem pengetahuan yang selama ini juga banyak diwariskan dan dijaga secara turun-temurun oleh perempuan dalam ranah domestik dan komunitas.
Lalu pada bagian ketiga, menggambarkan aktivitas di sawah sehari-hari, mulai dari menanam padi, mencangkul, hingga mengusir burung yang mengganggu tanaman. Rangkaian gerak dinamis ini merepresentasikan kerja fisik perempuan yang konsisten tetapi kerap dianggap remeh dalam narasi besar tentang pertanian.
Sementara itu, bagian keempat menjadi puncak pertunjukan yang mengangkat tema pemuliaan sawah. “Pada bagian ini kami kembali merepresentasikan Tari Sang Hyang Dedari sebagai simbol bahwa alam juga memiliki pesan yang disampaikan melalui manusia. Garapan ini sebenarnya merupakan pengembangan dari karya tahun 2024, hanya saja dipadatkan, baik dari sisi pemain maupun alur cerita, agar sesuai dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini,” ungkap Putu Bratria.
Kostum yang dikenakan para penari didominasi tiga warna, merah, hitam, dan putih yang melambangkan Tridatu sekaligus merepresentasikan nilai-nilai Tri Hita Karana, yaitu filosofi Bali tentang keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta. Diiringi musik elektronik yang dipadukan dengan nuansa tradisi, kostum yang sederhana ini justru berhasil membangun suasana pertunjukan tanpa mengurangi kekuatan pesan yang ingin disampaikan.
“Walaupun mengangkat tema persawahan, konsep Tri Hita Karana tetap hadir di dalamnya. Ada aspek Palemahan saat manusia mengolah sawah, Pawongan melalui semangat gotong royong, dan Parahyangan yang diwujudkan dengan mengawali setiap proses bercocok tanam melalui upacara,” pungkas Putu Bratria Dama Dayanu.
Kehadiran “Perempuan di Sawah” sebagai pembuka SLF 2026 menegaskan bahwa perempuan dalam tradisi agraris Bali merupakan figur penting dalam siklus kehidupan, mulai dari menyambut air, membaca tanda alam, mengolah tanah, hingga merawat hubungan spiritual dengan lingkungan sekitarnya. Setiap bagian dalam tarian ini menyampaikan arsip gerak dari pengetahuan yang selama ini dijaga dan diwariskan perempuan dari generasi ke generasi yang jarang diakui sebagai pengetahuan yang setara dengan ilmu-ilmu yang dijelaskan melalui penelitian.
Apa yang ditampilkan di atas panggung SLF selaras dengan data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, dari total 38,99 juta tenaga kerja di sektor pertanian Indonesia, 38% di antaranya (14,81 juta jiwa) adalah perempuan (BPS, 2025). Keterlibatan perempuan mencakup hampir seluruh rantai kerja pertanian mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pemasaran hasil bumi.
Data tersebut menjadi penguat bahwa apa yang ditampilkan oleh lima penari perempuan Komunitas Lemah Tulis di atas panggung bukan sekadar metafora artistik, melainkan cerminan dari kenyataan bahwa perempuan adalah bagian dari sektor agraria di Indonesia, bukan hanya laki-laki yang selama ini selalu muncul jika berbicara tentang pertanian dan ketahanan pangan kerap ditempatkan sebagai pelengkap laki-laki, bukan sebagai aktor utama yang menentukan keberlangsungan produksi pangan itu sendiri.
Kehadiran “Perempuan di Sawah” sebagai pembuka SLF 2026 menjadi pengingat bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan ketahanan pangan Dari data yang ada, hingga karya tari ini menunjukkan bagaimana kontribusi perempuan sesungguhnya berakar pada pengetahuan, ritual, dan kerja yang telah dijalani turun-temurun.
Ketika ruang-ruang pertanian di Bali kian tergerus oleh pembangunan, karya tari ini mengingatkan bahwa keberlanjutan pangan tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan peran dan pengetahuan perempuan yang selama ini menopangnya, meski jarang mendapat panggung sebesar yang seharusnya.
Dengan gelaran ini, SLF ingin menegaskan bahwa perempuan bukan hanya sekadar figuran dalam narasi ketahanan pangan, melainkan aktor utama yang selayaknya mendapat pengakuan dan ruang kebijakan yang setara.





Comments are closed.