Belakangan ini, keluhan munculnya bayangan hitam, titik-titik kecil, benang, atau jaring laba-laba yang melayang di penglihatan atau dikenal sebagai floaters banyak diperbincangkan masyarakat.
Kondisi ini kerap dikaitkan dengan penggunaan gadget atau gawai dalam waktu lama. Namun, dokter spesialis mata sekaligus dosen IPB University, Drasthya Zarisha, menegaskan anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Menurutnya, floaters merupakan gejala yang umumnya disebabkan oleh kumpulan serabut kolagen mikroskopis pada gel vitreous, yaitu gel yang mengisi sebagian besar rongga bola mata. Kumpulan serabut tersebut membentuk bayangan pada retina sehingga seseorang melihat titik hitam, benang, atau jaring laba-laba yang tampak mengikuti arah pandangan.
“Pada sebagian besar kasus, floaters terjadi sebagai proses alami akibat bertambahnya usia. Gel vitreous mengalami pencairan dan penyusutan sehingga terbentuk bayangan yang terlihat saat mata bergerak,” katanya, Kamis, 30 Juli 2026.
Selain proses penuaan, riwayat trauma pada bola mata juga dapat memicu munculnya floaters. Dalam beberapa kondisi, gejala ini dapat disebabkan oleh perdarahan di dalam gel vitreous atau gangguan pada retina yang memerlukan penanganan medis.
Drasthya juga meluruskan anggapan penggunaan gadget menjadi penyebab utama floaters. Ia menjelaskan penggunaan perangkat digital dalam waktu lama tidak secara langsung menyebabkan kondisi itu.
“Penggunaan gadget yang terlalu lama tanpa jeda memang dapat membuat mata cepat lelah. Akibatnya, seseorang menjadi lebih menyadari atau merasa terganggu dengan keberadaan floaters yang sudah ada,” ujarnya.
Meski umumnya merupakan kondisi yang wajar, masyarakat tetap perlu waspada apabila floaters muncul secara tiba-tiba, jumlahnya bertambah dengan cepat, atau disertai kilatan cahaya (photopsia). Terutama di bagian tepi penglihatan. Gejala tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada retina yang memerlukan pemeriksaan segera.
Ia menyarankan agar siapa pun yang baru pertama kali mengalami floaters atau merasa keluhannya semakin mengganggu segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata. Pemeriksaan retina, saraf optik, dan gel vitreous penting dilakukan untuk memastikan tidak ada kelainan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Lebih lanjut, Drasthya mengungkapkan bahwa risiko mengalami floaters lebih tinggi pada orang berusia lanjut, penderita rabun jauh terutama minus tinggi, individu dengan riwayat operasi atau kondisi tertentu pada lensa mata. Risiko juga bertambah pada mereka yang memiliki riwayat keluarga atau pernah mengalami ablasio retina.
“Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah gangguan retina yang lebih serius. Karena itu, jangan ragu memeriksakan mata apabila muncul gejala yang tidak biasa,” tuturnya.






Comments are closed.