Bincangperempuan.com- Di tengah gempuran produk kesehatan modern, Jamu Kito menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat. Dari tangan seorang perempuan Bengkulu, rempah-rempah Nusantara terus diracik menjadi harapan, kesehatan, dan inspirasi bagi pelaku UMKM untuk berani bermimpi lebih besar.
Aroma kunyit, jahe, temulawak, dan aneka rempah memenuhi setiap sudut ruang produksi Jamu Kito di Jalan Manggis No 12 RT 28/RW06, Panorama, Kota Bengkulu. Di balik harum rempah itu, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan yang memilih meninggalkan zona nyaman demi membangun usaha herbal berbasis kearifan lokal.
Ialah Aulia Wulandari pendiri sekaligus pemilik Jamu Kito Bengkulu. Berbekal latar belakang sebagai tenaga kesehatan, Aulia justru menemukan panggilan hidupnya bukan hanya di dunia medis, melainkan pada pengobatan herbal yang memanfaatkan kekayaan alam Indonesia.
Baca juga: Di Balik Kemasan Randang Rangkito: Kisah Riri Menjaga Warisan Budaya Kampung Surau
“Usaha Jamu Kito ini sudah berjalan dari tahun 2017. Awalnya dari usaha terapis lalu kita kembangkan juga minuman herbalnya karena banyak klien kita yang request,” kata perempuan kelahiran 1985 kepada Bincang Perempuan, Sabtu (25/7/2026).
Ketertarikannya terhadap tanaman obat bermula dari pengalamannya sebagai perawat yang akrab dengan penggunaan obat-obatan modern. Rasa ingin tahu itu membawanya mengikuti berbagai pelatihan dan kursus pengobatan herbal. Dari sana, Aulia belajar meracik berbagai tanaman obat menjadi produk yang praktis dikonsumsi masyarakat.
“Saya lulusan D3 Keperawatan Poltekes Kemenkes, sekarang sedang melanjutkan studi S1 Kesehatan Tradisional di Universitas Medika Suherman, Cikarang, Bekasi,” jelas Aulia.
Berawal dari industri rumahan dengan peralatan sederhana, Aulia mengolah sendiri bahan-bahan herbal seperti kunyit, temulawak, pegagan, daun dewa, sambiloto, akar alang-alang, hingga berbagai rempah lainnya. Semua bahan dipilih secara cermat, dikeringkan, kemudian diolah menjadi serbuk, kapsul, maupun minuman herbal. “Jamunya ada yang bisa langsung diminum, seduh dan kapsul,” beber Aulia.
Baginya, jamu bukan sekadar produk yang dijual, tetapi juga warisan budaya yang perlu terus dijaga. Ia ingin membuktikan bahwa obat tradisional dapat diproduksi secara higienis, modern, dan memiliki kualitas yang mampu bersaing.
Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu mudah. Di awal merintis, Aulia harus menghadapi tantangan mulai dari membangun kepercayaan konsumen, memperoleh izin usaha, hingga memperkenalkan produk herbal kepada masyarakat yang mulai terbiasa dengan obat-obatan instan.
Namun, kegigihan itu perlahan membuahkan hasil. Produk Jamu Kito semakin dikenal, tidak hanya di Bengkulu tetapi juga mulai menjangkau berbagai daerah. Ragam produknya terus berkembang, mulai dari herbal untuk menjaga daya tahan tubuh, pengobatan alternative untuk penderita kanker dan tumor hingga berbagai minuman rempah yang disukai masyarakat.
Seiring berkembangnya usaha, skala produksi pun meningkat. Dari yang semula dikerjakan sendiri di rumah, kini Jamu Kito telah mempekerjakan sejumlah karyawan dengan standar operasional produksi yang lebih baik. Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa usaha mikro dapat tumbuh menjadi industri lokal yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Sekarang sudah ada 10 terapis perempuan, 4 laki-laki, 2 produksi dan 3 admin,” ungkap Aulia.
Komitmen terhadap mutu juga terlihat dari upaya Jamu Kito memenuhi berbagai persyaratan regulasi. Pada 2024, Balai POM di Bengkulu memberikan pendampingan kepada PT Jamu Kito dalam proses pengembangan produk obat tradisional agar memenuhi standar produksi yang berlaku.
Baca juga: Ester Pandiangan, Menepis Realitas Stigma dengan Menulis Seksualitas
Di tengah perjalanan bisnisnya, cobaan juga sempat datang ketika rumah terapi sekaligus tempat usaha mengalami musibah kebakaran pada 2024. Meski mengalami kerugian, aktivitas pelayanan tetap diupayakan berjalan melalui penyesuaian operasional. Peristiwa itu justru memperlihatkan semangat pantang menyerah yang menjadi ciri perjalanan usaha tersebut. “Iya kita pernah mengalami musibah kebakaran tapi itu tidak membuat kita terpuruk, usaha kita tetap jalan,” jelas Aulia.
Bagi Aulia, kesuksesan bukan hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi juga dari semakin banyak masyarakat yang kembali melirik pengobatan berbahan alami. Ia berharap generasi muda tidak melupakan jamu sebagai bagian dari identitas bangsa sekaligus potensi ekonomi daerah. “Kalau sekarang omzet Jamu Kito sudah berkisar Rp 30 juta-Rp 40 juta perbulan. Kita juga sudah melayani pengiriman ke luar negeri,” ujar Aulia.





Comments are closed.