Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Rumah, Peradaban, dan Sebuah Kemajuan yang Kadang-Kadang Bikin Bingung

Rumah, Peradaban, dan Sebuah Kemajuan yang Kadang-Kadang Bikin Bingung

rumah,-peradaban,-dan-sebuah-kemajuan-yang-kadang-kadang-bikin-bingung
Rumah, Peradaban, dan Sebuah Kemajuan yang Kadang-Kadang Bikin Bingung
service

Pagi-pagi, sebelum orang-orang mulai bicara tentang peradaban, kemajuan, rasionalitas, globalisasi, dan segala macam istilah yang biasanya membuat dahi berkerut, di rumah saya sudah terjadi sebuah peradaban kecil. Ibu menyapu halaman. Bapak mencari kacamata yang sebenarnya sejak tadi bertengger di atas kepalanya. Anak kecil menangis karena sendoknya tertukar. Nenek dari dapur berteriak, “Siapa yang menghabiskan sambal?” Tidak ada yang menjawab. Ini penting.

Sebab dalam urusan peradaban, ternyata manusia sering kali lebih mudah membangun teori tentang masyarakat dunia daripada menemukan siapa yang menghabiskan sambal di meja makan. Padahal, kalau dipikir-pikir, persoalannya sama saja. Ada aturan. Ada kebiasaan. Ada yang merasa berhak menentukan. Ada yang mengikuti. Ada yang diam-diam tidak setuju. Dan ada pula yang pura-pura tidak tahu, karena kalau mengaku tahu nanti malah disuruh membereskan. Barangkali beginilah peradaban bekerja.

Ia tidak selalu datang dengan suara genderang dan pembangunan gedung pencakar langit. Kadang-kadang ia datang melalui sesuatu yang sangat sederhana: cara kita duduk di meja makan, cara kita menyapa orang tua, cara anak-anak diajari berbicara, cara tetangga menentukan mana yang pantas dan mana yang dianggap memalukan.

Mula-mula semua itu hanya kebiasaan. Lama-lama menjadi aturan. Kemudian aturan itu ditulis. Setelah ditulis, dibuat lembaga. Setelah ada lembaga, dibuat orang yang bertugas menjelaskan aturan. Setelah ada orang yang menjelaskan, muncullah orang lain yang bertugas menilai apakah kita sudah benar atau belum. Di situlah perkara mulai menarik. Sebab manusia yang tadinya hanya hidup, tiba-tiba harus belajar bagaimana cara hidup yang benar.

Kalau kita melihat perjalanan manusia, ada satu perubahan besar yang sering disebut sebagai lahirnya civilisation. Masyarakat yang semula hidup dalam tradisi lokal perlahan masuk ke dalam sistem yang lebih luas. Kebiasaan yang sebelumnya diwariskan melalui kehidupan sehari-hari mulai dirumuskan menjadi hukum, pendidikan, agama, administrasi, dan berbagai lembaga formal.

Tradisi yang dahulu cukup dilakukan karena “ya memang dari dulu begitu” mulai membutuhkan penjelasan. Mengapa harus begitu? Karena apa? Siapa yang menentukan? Apa manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah tanda bahwa manusia mulai menjadi makhluk yang sangat rajin bertanya.

Dan setelah rajin bertanya, manusia biasanya mulai membuat formulir. Bisa jadi Ini mbukan hukum sejarah, tetapi cukup sering terjadi. Dari kebiasaan menjadi aturan. Dari aturan menjadi lembaga. Dari lembaga menjadi sistem. Dari sistem menjadi standar. Dan setelah ada standar, selalu ada kemungkinan seseorang berkata, “Anda tidak sesuai standar.”

Kalimat itu sederhana, tetapi akibat sosialnya bisa panjang. Sebab sejak saat itu, manusia tidak hanya sekadar dibedakan berdasarkan apa yang ia lakukan, melainkan berdasarkan seberapa dekat dirinya dengan ukuran yang telah ditentukan oleh sistem.

Di sinilah persoalan kelas sosial mulai ikut masuk ke ruang makan. Dulu, seseorang dianggap baik karena ia suka menolong tetangga, rajin bekerja, tahu sopan santun, dan kalau punya makanan lebih mau berbagi.

Sekarang ukuran keberhasilan bisa bergeser. Sekolah di mana? Kerja di mana? Punya rumah di mana? Mobil apa? Anaknya kuliah di mana? Bahasa Inggrisnya bagaimana? Punya sertifikat apa? Bahkan cara minum kopi pun kadang sudah mempunyai kelas sosial sendiri. Kopi tubruk di rumah dianggap biasa. Kopi dengan nama yang panjang di sebuah kedai dianggap pengalaman.

Padahal sama-sama membuat mata melek. Begitulah peradaban bekerja secara halus. Ia bukan hanya membuat hukum dan gedung. Ia juga membuat ukuran. Dan ukuran itu kemudian masuk ke kepala kita. Yang lebih menarik, kita sering kali tidak merasa sedang diperintah. Kita merasa sedang memilih. Anak memilih sekolah. Orang tua memilih rumah. Orang memilih pekerjaan. Orang memilih pakaian. Orang memilih bahasa.

Tetapi pilihan-pilihan itu sesungguhnya berlangsung di dalam ruang sosial yang sudah memiliki ukuran tentang apa yang dianggap baik, modern, maju, berhasil, dan terhormat. Maka kadang-kadang kita bukan sedang memilih. Kita sedang memilih dari pilihan-pilihan yang sudah disediakan.

Di rumah, perubahan semacam itu terasa lebih jelas. Dulu anak pergi bermain ke halaman. Sekarang anak pergi ke tempat yang disebut playground. Dulu anak belajar dari kakeknya bagaimana menanam cabai. Sekarang ia bisa belajar melalui video tentang “urban farming”.

Dulu orang tua berkata, “Jangan main hujan-hujanan.” Sekarang nasihat itu bisa berubah menjadi artikel tentang risiko hipotermia. Dulu nenek mengajarkan resep sambal dengan kira-kira. “Cabainya segini.” “Garamnya secukupnya.” “Kalau kurang pedas tambah lagi.”

Sekarang resep harus memakai gram. Lima belas gram cabai. Tiga gram garam. Dua puluh mililiter minyak. Kita menjadi semakin rasional. Tetapi lucunya, sambalnya belum tentu semakin enak. Ini bukan berarti rasionalitas itu buruk. Sama sekali bukan. Rasionalitas telah memberi manusia banyak hal: ilmu pengetahuan, hukum, teknologi, sistem administrasi, pendidikan, dan berbagai kemampuan untuk mengorganisasi kehidupan dalam skala besar.

Masalahnya muncul ketika sesuatu yang semula membantu manusia mulai merasa dirinya lebih penting daripada manusia yang dibantunya. Ketika ukuran menjadi lebih penting daripada pengalaman. Ketika prosedur menjadi lebih penting daripada kebijaksanaan. Ketika standar menjadi lebih penting daripada konteks. Dan ketika manusia akhirnya harus menyesuaikan diri kepada sistem yang sebenarnya ia sendiri yang menciptakannya.

Bahan yang kita bicarakan tentang culture dan civilisation sebenarnya menyentuh persoalan itu. Culture dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang hidup. Ia tumbuh dari pengalaman. Dari kebiasaan. Dari ingatan. Dari cerita nenek. Dari cara orang kampung menyelesaikan masalah. Dari cara orang saling menolong tanpa perlu membuat surat keputusan. Sedangkan civilisation cenderung bergerak menuju bentuk yang lebih teratur.

Ada sistem. Ada hukum. Ada standar. Ada institusi. Ada rasionalisasi. Ada mekanisme yang memungkinkan orang-orang berbeda hidup dalam sebuah tatanan yang sama. Keduanya sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

Bayangkan rumah. Atap itu penting. Tiang penting. Pintu penting. Lantai juga penting. Tetapi rumah yang seluruh isinya hanya tiang, pintu, dan lantai tentu agak membingungkan. Rumah menjadi rumah karena ada kehidupan di dalamnya. Ada suara anak. Ada bau masakan. Ada pakaian yang belum dilipat. Ada sandal berserakan. Ada percakapan. Ada pertengkaran kecil. Ada orang pulang. Ada orang menunggu.

Begitu pula sebuah peradaban. Ia membutuhkan struktur. Tetapi struktur tanpa kehidupan akan menjadi sesuatu yang dingin. Peradaban tanpa kebudayaan mungkin akan sangat tertib, tetapi orang-orang di dalamnya bisa merasa seperti tinggal di ruang tunggu.

Oswald Spengler pernah melihat civilisation sebagai semacam fase ketika kebudayaan yang tadinya hidup mulai mengeras menjadi struktur yang mekanis. Gagasan ini menarik kalau kita bawa pulang ke rumah. Ada masa ketika seorang anak belajar karena ingin tahu. Kemudian sekolah datang. Ada kurikulum. Ada jadwal. Ada target. Ada nilai. Ada rapor. Anak yang semula bertanya karena penasaran perlahan belajar bertanya: “Ini keluar ujian tidak?”

Di situ kita mungkin telah membuat kemajuan. Anak menjadi semakin pintar menebak apa yang diinginkan sistem. Tetapi apakah ia menjadi semakin ingin tahu? Itu pertanyaan lain. Dan pertanyaan semacam ini penting karena gagasan tentang kemajuan sering kali terlalu gampang membuat kita percaya bahwa sesuatu yang lebih baru pasti lebih baik. Padahal tidak selalu begitu.

Mesin cuci memang lebih praktis daripada mencuci dengan tangan. Tetapi belum tentu semua bentuk kehidupan yang lebih cepat membuat manusia lebih bahagia. Internet membuat kita bisa berbicara dengan orang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya. Tetapi belum tentu kita menjadi lebih pandai berbicara dengan orang yang duduk di sebelah kita. Kita memiliki teknologi untuk menghubungi seluruh dunia. Tetapi kadang-kadang lupa bertanya kepada ibu sendiri: “Bu, hari ini capek?”

Inilah barangkali paradoks modernitas. Manusia menjadi semakin mampu mengendalikan dunia, tetapi belum tentu semakin mampu mengendalikan dirinya sendiri. Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa. Tetapi urusan marah kepada tetangga masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk selesai.

Kita bisa menghitung pertumbuhan ekonomi sampai dua angka di belakang koma. Tetapi menghitung apakah seorang anak merasa dicintai rupanya jauh lebih sulit. Kita bisa membuat sistem pengawasan yang sangat canggih. Tetapi sering gagal mengawasi keserakahan sendiri. Maka kritik terhadap gagasan kemajuan menjadi penting.

Nietzsche, Freud, Marx, dan kemudian para pemikir strukturalis maupun pascamodern menggugat keyakinan sederhana bahwa manusia bergerak secara lurus dari kebodohan menuju pengetahuan, dari kebiadaban menuju peradaban, dari irasionalitas menuju rasionalitas.

Sejarah rupanya tidak serapi itu. Manusia bisa sangat rasional dalam membuat senjata dan sangat irasional ketika menggunakannya. Bisa sangat maju dalam teknologi tetapi sangat primitif dalam memperlakukan sesama.

Bisa mempunyai hukum yang tebal tetapi keadilan yang tipis. Jadi, persoalannya bukan apakah kita sudah beradab. Pertanyaannya justru: Dalam hal apa kita beradab, dan dalam hal apa kita masih membawa kebiadaban lama dengan pakaian baru?

Kolonialisme memberikan contoh yang cukup jelas. Bangsa yang datang membawa gagasan tentang pendidikan, hukum, administrasi, dan kemajuan sering sekaligus membawa kekerasan dan dominasi. Yang satu disebut peradaban. Yang lain sering tidak dibicarakan. Maka konsep “beradab” tidak pernah benar-benar netral. Siapa yang menentukan bahwa sesuatu disebut beradab? Siapa yang membuat ukurannya? Siapa yang mempunyai kewenangan untuk mengatakan bahwa masyarakat lain tertinggal?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena istilah “kemajuan” bisa menjadi alat kekuasaan. Sebuah masyarakat dapat diberi tahu bahwa cara hidupnya kuno. Makanannya dianggap tidak modern. Rumahnya dianggap tidak sehat. Bahasanya dianggap tidak ilmiah. Cara belajarnya dianggap tidak efektif.

Pengetahuannya dianggap sekadar tradisi. Lalu datanglah sebuah sistem yang menawarkan jalan keluar. Tidak selalu dengan paksaan. Kadang cukup dengan membuat orang merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ini barangkali bentuk kekuasaan yang paling halus. Orang tidak perlu dipaksa meninggalkan tradisinya. Cukup dibuat percaya bahwa tradisinya tidak berharga.

Di ruang keluarga, proses itu berlangsung diam-diam. Anak melihat televisi. Melihat iklan. Melihat influencer. Melihat rumah orang lain. Melihat sekolah orang lain. Melihat cara hidup orang lain. Kemudian ia pulang dan melihat rumahnya sendiri.

Tiba-tiba rumahnya terasa kurang bagus. Makanan ibunya terasa kurang modern. Pekerjaan ayahnya terasa kurang bergengsi. Bahasa kampung terasa kurang keren. Inilah globalisasi dalam bentuk yang paling sederhana. Bukan lagi soal kapal dagang atau pasar dunia. Tetapi soal bagaimana seseorang mulai menilai dirinya sendiri menggunakan cermin milik orang lain.

Globalisasi memang memungkinkan manusia saling bertemu. Ia membuka pengetahuan. Membuka teknologi. Membuka kesempatan. Tetapi ia juga dapat membuat dunia menjadi semakin seragam. Tradisi lokal yang beragam bisa berubah menjadi bentuk yang lebih standar mengikuti logika dominan ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya. Dan yang seragam biasanya lebih mudah dikelola. Lebih mudah dijual. Lebih mudah diukur. Lebih mudah dibandingkan.

Padahal manusia bukan barang di rak supermarket. Kita punya sejarah. Kita punya ingatan. Kita punya kampung. Kita punya nenek yang cerewet. Kita punya makanan yang rasanya tidak bisa dijelaskan dengan tabel gizi. Kita punya kebiasaan yang mungkin tidak efisien tetapi membuat hidup terasa manusiawi.

Maka persoalan culture dan civilisation sesungguhnya bukan soal memilih salah satu. Kita membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan hukum, tetapi juga rasa keadilan. Membutuhkan sekolah, tetapi juga kebijaksanaan. Membutuhkan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk mengatakan “cukup”. Membutuhkan sistem, tetapi juga ruang bagi improvisasi. Membutuhkan standar, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan memahami konteks. Sebab kalau semuanya harus standar, kehidupan akan menjadi seperti nasi kotak. Rapi. Praktis. Mudah dibagikan. Tetapi lauknya sama semua.

Mungkin karena itu kita perlu berhati-hati dengan kata “maju”. Kata itu terdengar menyenangkan. Siapa yang tidak ingin maju? Tetapi maju ke mana? Untuk siapa? Dengan biaya apa? Dan apa yang harus ditinggalkan? Pertanyaan terakhir sering tidak diajukan. Sebab setiap kemajuan biasanya membawa korban kecil yang tidak masuk dalam brosur.

Hutan yang hilang. Bahasa yang ditinggalkan. Pengetahuan lokal yang dianggap kuno. Pekerjaan yang berubah. Keluarga yang semakin jarang duduk bersama. Anak yang semakin pandai mengoperasikan perangkat tetapi semakin tidak tahu bagaimana memperbaiki hubungan dengan temannya. Kita menyebutnya perubahan. Dan memang perubahan. Tetapi perubahan tidak selalu identik dengan perbaikan.

Maka barangkali peradaban bukanlah sebuah puncak yang sudah menunggu manusia di ujung perjalanan. Ia lebih mirip rumah yang terus-menerus dibangun. Kadang temboknya diperbaiki. Kadang atapnya bocor. Kadang ruang tamunya terlalu penuh. Kadang dapurnya berantakan. Kadang anak-anak membuat kegaduhan. Kadang bapak merasa paling benar. Kadang ibu memilih diam karena tahu bahwa menjelaskan kepada bapak akan membutuhkan waktu lebih lama daripada membereskan sendiri.

Begitulah kehidupan. Dan mungkin begitulah peradaban. Ia tidak pernah selesai. Yang disebut “beradab” ternyata tidak otomatis berarti manusia telah meninggalkan kebiadaban. Sejarah justru menunjukkan bahwa kekerasan dapat kembali muncul melalui institusi, teknologi, perang, dan mekanisme yang sangat rasional.

Barangkali kebiadaban itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti pakaian. Dulu membawa tombak. Sekarang membawa dokumen. Dulu berteriak. Sekarang berbicara melalui prosedur. Dulu menaklukkan dengan kekuatan fisik. Sekarang kadang cukup dengan membuat orang percaya bahwa dirinya memang lebih rendah.

Ini yang membuat persoalan peradaban menjadi menarik sekaligus agak menggelikan. Kita sibuk membuat manusia semakin rasional, tetapi ternyata manusia tetap manusia. Masih punya iri. Masih punya takut. Masih punya hasrat berkuasa. Masih ingin dianggap lebih baik daripada tetangga. Masih senang kalau mobilnya lebih besar. Masih diam-diam membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Dan kalau tetangga membeli kulkas baru, kita mendadak merasa kulkas sendiri terlalu kecil.

Jadi pekerjaan rumah peradaban bukan membuat manusia menjadi semakin sempurna. Itu pekerjaan yang terlalu berat. Cukup membuat manusia sedikit lebih sadar terhadap apa yang sedang ia lakukan. Sadar bahwa standar bukan kebenaran mutlak. Sadar bahwa modern tidak selalu berarti lebih baik. Sadar bahwa tradisi tidak selalu berarti benar. Sadar bahwa rasionalitas penting, tetapi manusia tidak hanya terdiri dari rasio.

Sadar bahwa di balik sistem selalu ada manusia. Dan di balik manusia selalu ada cerita. Itu sebabnya kita perlu sesekali pulang. Bukan hanya pulang secara geografis. Tetapi pulang kepada pengalaman yang sederhana. Duduk di teras. Minum teh. Mendengarkan ibu mengeluh harga cabai. Mendengar bapak bercerita tentang masa mudanya untuk kesekian kalinya. Mendengar anak bertanya sesuatu yang kelihatannya sepele.

Lalu tiba-tiba kita sadar: Oh, ternyata hidup yang disebut sederhana itu tidak sederhana-sederhana amat. Di situ ada sejarah. Ada kelas sosial. Ada perubahan nilai. Ada kekuasaan. Ada ingatan. Ada kebudayaan. Ada peradaban. Dan ada manusia yang sejak dahulu sampai sekarang masih sibuk mencari cara agar hidupnya terasa masuk akal. Barangkali itulah peradaban yang paling penting. Bukan gedung yang semakin tinggi. Bukan teknologi yang semakin canggih. Bukan sistem yang semakin rumit.

Melainkan kemampuan manusia untuk tetap menjadi manusia ketika segala sesuatu di sekelilingnya semakin sistematis. Sebab kalau suatu hari nanti kita sudah memiliki kota yang sangat pintar, mesin yang sangat cerdas, hukum yang sangat lengkap, sekolah yang sangat modern, dan ekonomi yang sangat efisien, tetapi kita tidak lagi bisa duduk bersama di meja makan tanpa merasa asing satu sama lain, mungkin kita perlu bertanya pelan-pelan: Sebenarnya kita ini sedang maju ke mana? Dan jangan-jangan, setelah perjalanan yang begitu jauh, kita malah sedang mencari jalan pulang. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.