Mon,31 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Rais Aam PBNU Terpilih Ungkap Tiga Ayat Al-Qur’an sebagai Pijakan NU Arungi Abad Kedua

Rais Aam PBNU Terpilih Ungkap Tiga Ayat Al-Qur’an sebagai Pijakan NU Arungi Abad Kedua

rais-aam-pbnu-terpilih-ungkap-tiga-ayat-al-qur’an-sebagai-pijakan-nu-arungi-abad-kedua
Rais Aam PBNU Terpilih Ungkap Tiga Ayat Al-Qur’an sebagai Pijakan NU Arungi Abad Kedua
service

Jombang, NU Online

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengungkapkan tiga ayat Al-Qur’an yang menjadi pijakan utama Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyusun gerakan dan program pada abad kedua. Ketiga ayat tersebut menjadi landasan bagi NU untuk memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus mendorong pemulihan ekologi.

Hal tersebut disampaikan Kiai Miftach dalam Penutupan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).

“Dalam mengawali atau persiapan kita untuk melangkah di abad kedua Nahdlatul Ulama ini, ada tiga ayat yang merupakan dasar pijakan kita untuk mengembangkan, terutama di bidang-bidang ekonomi yang saat ini memang mayoritas masyarakat Indonesia tergolong minal fuqara’ wal masakin (kaum fakir dan miskin),” ujar Kiai Miftach.

Menurut Kiai Miftach, tiga ayat tersebut menjadi landasan besar NU di abad kedua, terutama untuk memfokuskan gerakan pada kemandirian ekonomi dan pemulihan ekologi.

Landasan pertama merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 30 tentang manusia sebagai khalifah fil ardh atau pengelola bumi.

“Khalifah itu artinya yang mengurus bumi, yang membuat peraturan dan tata tertib agar kehidupan menjadi teratur. Tidak boleh ada orang kaya yang menganiaya atau mendzalimi si miskin, begitu pula sebaliknya. Dengan tanzhim (pengaturan) yang teratur, terjadilah masyarakat yang tertib,” jelasnya.

Landasan kedua merujuk pada Surat Hud ayat 61, khususnya frasa wasta’marakum fiiha, yang menurut Kiai Miftach mengandung perintah untuk memakmurkan bumi. Pemakmuran tersebut, kata dia, menuntut pengerahan potensi akal, pengetahuan, dan tindakan nyata, termasuk untuk memulihkan ekologi.

“Termasuk menghijaukan kembali sawah ladang dan gunung-gunung yang gundul, bahkan menyiapkan persediaan pangan adalah bagian dari tugas pemakmuran bumi. Ini sunnatullah. Rakyat hanya bisa merasakan kesejahteraan jika ada upaya sekuat tenaga mengerahkan pikiran untuk menyejahterakan umat,” tegasnya.

Adapun landasan ketiga merujuk pada Surat Adz-Dzariyat ayat 56, wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun. Kiai Miftach menjelaskan bahwa huruf lam dalam ayat tersebut bermakna lam ‘aqibah atau menunjukkan akibat.

Menurutnya, seluruh aktivitas manusia dalam menjalankan tugas kekhalifahan dan membangun ekonomi harus bermuara pada nilai ibadah.

“Jangan sampai kita melangkah dan membangun dengan megah tanpa ada nilai ibadah. Kekhilafahan mengurus bumi yang luas dan menyejahterakan rakyat tanpa pandang bulu, semuanya harus bernilai ibadah,” tambah Kiai Miftach.

Lebih lanjut, Rais Aam PBNU menjelaskan alasan penekanan pada sektor ekonomi pada awal abad kedua NU. Ia menyoroti kondisi masyarakat yang masih berada dalam kemiskinan.

“Tiga ayat ini menjadi dasar program di awal abad kedua ini agar Nahdlatul Ulama betul-betul sejahtera ekonominya. Sebab untuk bidang pendidikan dan kesehatan, alhamdulillah sudah ada pakarnya seperti Prof Mohammad Nuh,” tuturnya.

Kiai Miftach berharap penguatan fondasi ekonomi yang berlandaskan ketiga ayat Al-Qur’an tersebut dapat membawa jam’iyyah NU dan seluruh warga Nahdliyin menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa pada era baru.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.