Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Menjadi keniscayaan bagi kita untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Di antara perintah yang dialamatkan untuk kita adalah senantiasa menjaga silaturahmi yang baik dengan orang lain.
Aktivitas silaturahmi di era modern saat ini cenderung mudah dilakukan karena dalam hitungan detik kita dapat mengirim pesan, melakukan panggilan video, berbagi gagasan, hingga menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berada di lokasi lain. Media sosial telah memperpendek jarak dan mempercepat arus informasi. Dunia seakan berada dalam genggaman.
Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul budaya baru yang menggerus makna silaturahmi. Semakin maju teknologi komunikasi, justru menjadikan kita menghadapi krisis komunikasi yang sesungguhnya. Kita hidup di tengah fenomena “yang jauh didekatkan, tetapi yang dekat justru dijauhkan.” Orang yang berada ribuan kilometer jauhnya dapat diajak bercakap-cakap setiap hari, sementara orang-orang di sekitar kita malah justru kita abaikan.
Cobalah kita amati fenomena di mana orang berkumpul di satu ruangan, tetapi masing-masing tenggelam dalam layar telepon genggam. Muka saling berhadapan, tetapi hati tidak saling menyapa. Fenomena ini melahirkan manusia modern yang tanpa disadari semakin “diasuh” oleh media sosial.
Sejak bangun tidur hingga kembali memejamkan mata, perhatian lebih banyak tercurah kepada layar telepon genggam daripada wajah manusia di sekitarnya. Notifikasi lebih cepat direspons daripada sapaan orang lain. Unggahan media sosial lebih menarik daripada percakapan dengan keluarga. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih mengenal kehidupan orang lain di dunia maya daripada kondisi tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Dengan kondisi ini maka pelan-pelan, kepekaan sosial pun perlahan memudar. Empati sering kali berhenti pada tombol “like“, komentar, atau emoji doa. Kita mudah merasa telah peduli hanya karena membagikan informasi atau menuliskan ucapan belasungkawa. Padahal kita enggan melangkahkan kaki untuk menjenguk orang sakit, membantu tetangga yang kesulitan, atau menemani sahabat yang sedang berduka.
Interaksi digital perlahan menggantikan interaksi nyata, sehingga hubungan antarmanusia menjadi dangkal dan kehilangan sentuhan kemanusiaan. Padahal Rasulullah telah mengajarkan kita untuk menjalin silaturahmi berkualitas yang di antaranya akan mampu mendatangkan rezeki dalam hadits dari Abu Hurairah:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah juga telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Jika kita pahami lebih mendalam, perintah lita’arafu (saling mengenal) di sini bukan sekadar mengetahui nama atau melihat profil media sosial seseorang. Ta’arafu di sini mengandung makna membangun hubungan, memahami keadaan, menghadirkan kasih sayang, dan mempererat persaudaraan dalam kehidupan nyata.
Karena itu, sudah saatnya kita menguatkan kembali silaturahmi interaksi nyata sebagai penyeimbang dari interaksi maya yang bersifat fana dengan menguatkan silatul jasad yakni melalui kehadiran fisik. Islam mengajarkan kita menjenguk orang sakit, menghadiri undangan, melayat ketika ada yang meninggal, bergotong royong, membantu tetangga, serta hadir di tengah lingkungan kita. Kehadiran fisik merupakan bukti kepedulian yang jauh lebih bermakna daripada sekadar ucapan di dunia maya.
Dengan silatul jasad ini maka akan menumbuhkan silaturruh dan silatulqalbi, yaitu menyambungnya jiwa dan hati. Inilah hubungan yang paling dalam. Banyak orang saling mengikuti di media sosial, tetapi hati mereka saling berjauhan. Silatul qalbi akan melahirkan empati yang mendorong kita hadir ketika saudara kita membutuhkan pertolongan.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Adanya media sosial saat ini bukanlah musuh. Medsos adalah nikmat Allah yang dapat menjadi sarana dakwah, penyebaran ilmu, memperluas persaudaraan, dan mempercepat koordinasi kebaikan. Akan tetapi, media sosial harus tetap menjadi alat, bukan penguasa kehidupan. Jangan sampai layar telepon genggam lebih sering kita tatap daripada wajah kedua orang tua, suami atau istri, anak-anak, guru, dan sahabat kita.
Kita perlu mengembalikan keseimbangan. Dunia digital hendaknya menjadi jembatan menuju perjumpaan, bukan pengganti perjumpaan. Media sosial seharusnya mengantarkan kita untuk bersilaturahmi, menghadiri majelis ilmu, mempererat ukhuwah, dan memperbanyak amal saleh di dunia nyata.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang hanya ramai di ruang digital, melainkan masyarakat yang saling mengunjungi, saling membantu, saling belajar, saling mendoakan, dan saling menguatkan. Di situlah lahir ukhuwah Islamiyah yang kokoh, masyarakat yang penuh kasih sayang, dan peradaban yang diberkahi Allah swt.
Rasulullah bersabda:
المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ.
Artinya: “Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. “ (HR Muslim)
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah
Sudah saatnya kita mengurangi ketergantungan pada interaksi yang fana dan menghidupkan kembali interaksi yang nyata. Mari kita perkuat silaturahmi dengan silatul jasad yang mendatangkan silatul qalbi dan silaturruh. Kita tidak diciptakan untuk hidup di balik layar, melainkan untuk menghadirkan rahmat, cinta, dan kepedulian kepada sesama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung





Comments are closed.