Seorang mahasiswa Afrika terbang dari Ghana ke Jawa lewat beasiswa KNB, arah yang berlawanan dari arus mahasiswa Indonesia yang justru mengejar kampus di Eropa dan Amerika. Kenapa lompatan itu, baginya, akhirnya terasa lebih dekat dengan pulang ketimbang terasing di negeri orang?
Di Accra, sebuah email singkat mengubah rencana hidup Kwame. Ia lolos Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang atau KNB, tiket kuliah magister gratis ke Indonesia, negara yang sebelumnya cuma ia kenal dari siaran bola dan nama Bali di internet.
Ironisnya, dari pesisir Ghana, dua abad lalu, Belanda merekrut ribuan pria jadi serdadu KNIL, jauh sebelum Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung membalik hubungan itu jadi solidaritas sesama bangsa bekas jajahan. Beasiswa KNB, lahir dari KTT Gerakan Non-Blok 1992 di Jakarta, adalah buah konkret dari solidaritas itu, jalan yang kini ditempuh Kwame dan ratusan mahasiswa Afrika lain setiap tahun.
Rutenya berlawanan dari arus utama: mahasiswa Indonesia justru berlomba ke kampus Eropa dan Amerika lewat LPDP atau Chevening. Dua arus berlawanan arah ini menyimpan dua logika pragmatis yang sama sekali berbeda.
Fenomenologi Husserl punya kerangka pas untuk membaca lompatan Kwame. Premisnya: Heimwelt, dunia-rumah yang serba taken for granted, berhadapan dengan Fremdwelt, dunia-asing yang harus dimaknai ulang dari nol, dan semakin jauh jarak antara keduanya, semakin besar potensi keduanya saling membongkar asumsi.
Tapi apakah jarak seperti itu otomatis berarti keterbukaan bagi orang seperti Kwame, atau justru ia cuma berpindah dari satu kesulitan struktural ke kesulitan struktural lain dengan wajah berbeda? Dan kalau logika pragmatis KNB ini benar seampuh itu, kenapa ceritanya baru ramai dibahas sekarang, bertahun-tahun setelah beasiswa ini berjalan?
Logika Terbalik di Balik Rute KNB
Mahasiswa Indonesia yang mengejar LPDP atau Chevening umumnya menjalankan logika akumulasi status: kampus dipilih karena rangking, bukan kebutuhan dasar.
Kwame dan mahasiswa Afrika penerima KNB lain menjalankan logika kebalikannya, migrasi sebagai jalan keluar dari batasan struktural di Heimwelt mereka, tempat dana penuh dan syarat administratif yang longgar jadi penentu utama.
Bedanya bukan soal siapa yang lebih ambisius, tapi soal apa yang dianggap kemewahan. Bagi mahasiswa Indonesia, gelar dari Barat adalah kemewahan simbolik, sementara bagi Kwame, listrik yang menyala nonstop dan transportasi publik yang berjalan tepat waktu sudah jadi kemewahan material.
Pilihan ini juga pragmatis secara administratif. KNB menanggung penuh biaya kuliah, tunjangan hidup, dan tiket kedatangan, sehingga Kwame tak perlu tabungan awal seperti yang disyaratkan visa pelajar ke Eropa atau Amerika Utara, syarat yang bagi banyak keluarga Afrika justru jadi penghalang lebih besar daripada nilai akademik.
Skalanya kian membesar. Pada 2025 saja, Ditjen Dikti mencatat 250 penerima KNB terpilih dari 2.724 pendaftar asal 46 negara, sebagian besar dari Afrika dan Asia, rasio yang menunjukkan Indonesia tujuan yang benar-benar diperhitungkan.
Begitu Kwame menyeberang ke Fremdwelt Indonesia dan menjejak Semarang, ia bertemu ekosistem tak terduga dari sesama negara berkembang: KRL dan MRT terintegrasi, minimarket nonstop, dan sistem pembayaran digital macam QRIS. Yang tampil sebagai standar kemajuan baginya bukan Barat, melainkan negara Selatan lain yang justru mendahului ekspektasinya soal apa itu “maju”.
Perjumpaan ini secara fenomenologis mengoyak definisi maju yang dipatok dari kacamata Barat. Kalau Indonesia bisa mencapai infrastruktur ini tanpa sepenuhnya jadi negara maju, cakrawala tentang apa yang mungkin dicapai di Ghana ikut bergeser bagi Kwame.
Riset naratif soal mahasiswa Afrika di Indonesia yang dimuat jurnal African Identities awal 2026 menemukan solidaritas sesama pendatang dan jaringan dukungan informal sebagai penopang adaptasi utama, pola yang juga dijalani Kwame lewat komunitas kecil sesama penerima KNB.
Dibaca lewat lensa intentionality Husserl, ini kesadaran yang sengaja diarahkan ke kampus dan komunitas sesama pendatang, ruang hidup yang dipadatkan demi satu tujuan: lulus dan pulang membawa ilmu.
Lensa ini punya batas. Bulan-bulan pertama Kwame diwarnai kendala bahasa dan gegar budaya, sampai beberapa kali ia menutup diri di kamar kos karena merasa terisolasi, pengalaman yang juga tercatat pada riset serupa soal mahasiswa asing di Surabaya, bukti bahwa membaca migrasi ini semata sebagai kebangkitan epistemik berisiko menutupi sisi sulitnya.
Rasa aman berjalan di ruang publik malam hari, sesuatu yang tak biasa ia rasakan di Heimwelt-nya di Accra, pelan-pelan membebaskan bandwidth kognitif Kwame yang sebelumnya terpakai untuk kewaspadaan fisik. Dalam bahasa fenomenologi soal Leib, tubuh yang hidup dan merasakan, bandwidth itu ia alihkan penuh ke ruang akademik.
Tapi apakah rasa aman itu memang seuniversal yang diasumsikan, mengingat pengalaman tiap mahasiswa dengan gesekan sosial sehari-hari bisa berbeda jauh dari kota ke kota? Dan kalau infrastruktur serta rasa aman ini yang jadi penentu utama, insight macam apa yang sebenarnya baru, di luar sekadar mengonfirmasi bahwa KNB berhasil menjalankan fungsinya?
Diplomasi yang Bekerja Diam-Diam
Kwame hari ini jauh dari mahasiswa gugup yang dulu turun di Soekarno-Hatta dengan koper penuh keraguan. Menjelang sidang tesisnya ia menyaksikan langsung bahwa negara berkembang bisa membangun dirinya sendiri tanpa menunggu restu Barat.
Kisah Kwame, ditarik ke titik paling jauh, bukan sekadar cerita personal soal mahasiswa yang menemukan ruang aman untuk berkembang. Ini bentuk konkret diplomasi yang bekerja diam-diam, jarang dihitung dalam neraca soft power Indonesia dibanding ekspor budaya pop.
Cakrawala waktu Kwame, yang dalam istilah fenomenologi disebut temporalitas, bergeser dari sekadar bertahan hidup menjadi merencanakan transfer pengetahuan jangka panjang ke Ghana, pola yang juga dijalani ribuan alumnus KNB lain yang pulang ke Sierra Leone atau Burundi.
Ironisnya, warisan Konferensi Asia Afrika 1955 yang dulu terasa seperti retorika solidaritas kini terwujud lewat mekanisme sekecil beasiswa magister macam yang ditempuh Kwame.
Dari Belanda Hitam di pesisir Ghana lewat kontrak paksa, ke Bandung yang bicara kesetaraan, sampai KNB yang membiayai penuh pendidikan tinggi, hubungan Indonesia-Afrika sudah tiga kali berganti wajah.
Indonesia mungkin belum menyadari penuh bahwa ia sedang menjalankan peran sebagai laboratorium pembangunan bagi bangsa-bangsa Selatan lain, bukan cuma penyedia beasiswa yang kebetulan kebagian pendaftar seperti Kwame.
Fenomena mahasiswa Afrika di kampus-kampus Jawa adalah bukti bahwa “Indonesian Dream” itu nyata, hanya belum ditulis sebagai bagian dari strategi diplomasi resmi negara ini. (R100)





Comments are closed.