Mubadalah.id – Salingers gimana rasanya punya kakak (saudara perempuan) yang berbeda keyakinan dengan kita? Aku sendiri nggak pernah benar-benar tahu jawabannya. Sebab sejak kecil, keluargaku memang tumbuh dengan banyak perbedaan. Aku seorang Muslim, tetapi cara beragamaku berbeda dengan dua kakak laki-lakiku. Dua kakak perempuanku juga beragama Kristen.
Aku masih ingat ketika salah satu kakakku memutuskan untuk pindah agama. Waktu itu, aku belum bisa melihat keputusan tersebut sebagai pilihan pribadi seseorang. Yang aku tahu, keputusan itu membawa konsekuensi bagi keluarga kami.
Kebetulan kami tinggal di daerah yang mayoritas beragama Kristen. Karena khawatir anak-anaknya ikut berpindah keyakinan, orang tuaku kemudian menyekolahkan kami jauh dari rumah, yaitu di Jawa.
Sebagai adik yang masih kecil, aku sempat kesal. Dalam pikiranku waktu itu, keputusan kakakku membuat kami harus ikut menanggung sesuatu yang sebenarnya bukan pilihan kami.
Perannya Saudara Perempuan dalam Keluarga
Tapi semakin aku dewasa, kekesalan itu perlahan hilang. Mungkin karena aku mulai melihat kakakku bukan hanya sebagai seseorang yang pernah mengambil keputusan berbeda dari keluargaku, tetapi sebagai orang yang sejak kecil punya tempat sangat penting dalam hidupku.
Setelah Mama meninggal, kakak perempuanku menjadi salah satu orang yang paling banyak mengurus kami. Ia tidak menggantikan peran Mama, tetapi di usianya yang masih sangat muda, ia sudah harus memikirkan adik-adiknya.
Kami makan apa hari ini, siapa yang membersihkan rumah, sampai mengambil rapor ketika Bapak sedang sibuk bekerja. Banyak hal dalam masa kecilku yang ternyata tidak akan pernah bisa terpisah dari keberadaan kakakku.
Karena itu, ketika aku mulai memikirkan kembali soal beda agama, aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah perbedaan keyakinan itu benar-benar mengubah siapa dia dalam hidupku? Jawabannya ternyata tidak.
Kenapa Kita Menganut Agama Kita Hari Ini?
Kesadaran itu datang perlahan, salah satunya ketika aku masih kuliah dulu. Dalam sebuah mata kuliah tentang filsafat agama, dosenku bertanya, “Kenapa kamu menjadi seorang Muslim?”
Aku dan beberapa teman memberikan jawaban yang hampir sama yaitu karena kami lahir dari keluarga Muslim.
Sederhana, tapi pertanyaan itu terus tinggal di kepalaku. Aku mulai berpikir, ternyata banyak dari kita mengenal agama pertama kali bukan karena memilihnya sendiri, tetapi karena lahir dari keluarga dan lingkungan tertentu. Kita tidak memilih dilahirkan dari orang tua yang beragama apa. Kita juga tidak memilih di lingkungan seperti apa kita tumbuh.
Lalu, kenapa aku begitu kesal ketika seseorang yang dekat denganku memilih keyakinan yang berbeda?
Pikiran itu semakin kuat setelah aku mendengar cerita seorang aktivis perempuan yang memberi ruang kepada anaknya untuk memilih agama apa pun ketika sudah dewasa. Aku kagum.
Bagiku, memberikan kebebasan seperti itu membutuhkan kepercayaan yang besar. Orang tua tersebut tetap memiliki keyakinannya sendiri, ia juga tidak menjadikan keyakinannya sebagai sesuatu yang harus diwariskan.
Dari situ aku mulai melihat, agama itu adalah sesuatu yang sangat personal. Mungkin kakakku sudah melewati perjalanan panjang yang tidak aku tahu. Mungkin ada banyak pengalaman, pertanyaan, dan pergulatan yang membawanya sampai pada keyakinannya hari ini.
Yang Berbeda Hanya Agamanya, Bukan Kakakku
Pelan-pelan, aku juga mulai memahami bahwa pilihan kakakku tidak berarti ia memilih meninggalkan keluarganya. Ia hanya memilih keyakinan yang berbeda. Dan keyakinan itu tidak menghapus semua hal yang pernah kami lalui bersama.
Kesadaran itu membuat kami perlahan membuka komunikasi kembali. Kami mungkin tidak selalu membicarakan soal agama. Kadang justru hal-hal sederhana yang membuat hubungan kami tetap dekat.
Saat Lebaran atau Natal, kakakku masih sering mengirim pesan. Ia bahkan terkadang menggunakan istilah-istilah keislaman seperti “Alhamdulillah”. Aku biasanya membalas dengan bahasa yang lebih netral. Kalau ia menyebut Allah, aku menyebut Tuhan.
Bukan karena kami sudah menemukan jawaban atas semua perbedaan. Kami hanya sedang belajar mencari bahasa yang bisa membuat kami tetap dekat tanpa harus meminta satu sama lain menjadi sama.
Anak Perempuan dan Beban Moral Keluarga
Sayangnya, proses menerima keputusan kakakku tidak selalu berjalan sama di antara anggota keluarga. Sampai hari ini, beberapa kakak laki-laki masih sulit menerima pilihan kakak perempuan kami. Ketika aku bertanya, salah satu jawaban yang sering kudengar adalah bahwa dosa atas pilihan tersebut akan ditanggung oleh Bapak dan Mama kelak di akhirat.
Hal tersebut membuat aku berpikir, mengapa keputusan seseorang untuk memilih keyakinannya harus menjadi beban moral orang lain?
Pertanyaan itu akhirnya membuatku melihat persoalan ini lebih jauh. Ternyata perbedaan agama di keluargaku juga memperlihatkan bagaimana pilihan seorang perempuan sering kali masih dianggap sebagai sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang lain.
Ketika seorang perempuan mengambil keputusan tentang hidupnya, keluarga bisa merasa memiliki hak untuk menentukan apakah keputusan itu benar atau salah.
Bahkan ketika keputusan itu menyangkut sesuatu yang sangat personal seperti keyakinan, perempuan masih bisa ditempatkan sebagai seseorang yang harus dikontrol demi menjaga nama baik, kehormatan, atau bahkan keselamatan moral keluarganya.
Kalau kita percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat, bukankah perempuan juga memiliki ruang untuk berpikir, mencari, bertanya, dan menentukan keyakinannya sendiri?
Konflik yang sampai hari ini belum benar-benar selesai itu, membuatku melihat bahwa keluarga harusnya jadi tempat pertama untuk mulai mempraktikkan keadilan gender. Dari kesediaan untuk percaya bahwa perempuan juga punya hak untuk menjalani hidup berdasarkan keputusan yang ia yakini.
Islam yang Rahmah
Begitu juga dengan perdamaian antarumat beragama. Dulu aku mungkin membayangkan perdamaian sebagai sesuatu yang terjadi dalam forum dialog lintas agama atau kegiatan besar yang mempertemukan banyak orang. Sekarang aku justru melihatnya dari rumah.
Perdamaian ternyata bisa sesederhana tetap mengirim ucapan Lebaran kepada saudara yang berbeda agama. Bisa berupa memilih kata yang tidak membuat orang lain merasa ia salah. Bisa juga berarti menerima kenyataan bahwa orang yang kita cintai tidak harus memiliki keyakinan yang sama dengan kita.
Bagiku, di situlah nilai Islam terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Beragama bukan hanya soal bagaimana kita menjalankan hubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia lain dengan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabatnya, termasuk ketika mereka memiliki keyakinan yang berbeda dari kita.
Aku tetap seorang Muslim. Kakakku tetap seorang Kristen. Kami tidak perlu menghapus perbedaan itu untuk bisa saling menyayangi. Aku tidak ingin perbedaan agama membuat kakakku menjadi orang asing. Karena kami mungkin tidak satu iman, tetapi kami tetap satu keluarga. []





Comments are closed.