Mubadalah.id – Selain persoalan keterlambatan mencari pengobatan, perempuan pengidap kanker juga dapat menghadapi persoalan sosial berupa stigma. Di sejumlah lingkungan, masih terdapat kepercayaan yang keliru atau takhayul yang mengaitkan penyakit kanker dengan kutukan.
Perempuan yang menderita kanker bahkan dapat dianggap sebagai “perempuan yang dikutuk”. Pandangan semacam ini tidak hanya keliru secara medis, tetapi juga dapat memperburuk kondisi perempuan yang sedang menghadapi penyakit serius.
Stigma tersebut dapat membuat perempuan merasa malu, takut, atau terisolasi. Alih-alih memperoleh dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, perempuan pengidap kanker justru dapat mengalami pengucilan.
Ketika seseorang yang sedang sakit tidak memperoleh dukungan sosial yang memadai, keputusan untuk mencari pertolongan medis juga dapat semakin tertunda.
Pengucilan terhadap perempuan pengidap kanker pada akhirnya bukan hanya persoalan yang harus ditanggung oleh pasien. Dampaknya dapat meluas kepada keluarga dan masyarakat.
Ketika penyakit masih memahami sebagai mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar, masyarakat akan kesulitan mengenali kanker sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Kurangnya pengetahuan mengenai kanker juga dapat menyebabkan seseorang tidak mengenali perubahan pada tubuhnya sebagai tanda yang perlu ia periksa.
Gejala yang seharusnya menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebagai keluhan biasa. Dalam kondisi tertentu, pasien bahkan dapat menunggu hingga rasa sakit semakin berat sebelum memutuskan mencari pertolongan.
Padahal, pemeriksaan kesehatan ia perlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan memastikan kondisi yang seseorang alami. Tidak setiap keluhan atau perubahan pada tubuh berarti kanker.
Namun, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan apakah terdapat penyakit tertentu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dengan demikian, masyarakat tidak seharusnya menunggu sampai kondisi tubuh memburuk untuk mencari bantuan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Burns dkk, hlm 498.





Comments are closed.