Thu,3 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Stigma dan Mitos Membuat Perempuan Pengidap Kanker Terlambat Berobat

Stigma dan Mitos Membuat Perempuan Pengidap Kanker Terlambat Berobat

stigma-dan-mitos-membuat-perempuan-pengidap-kanker-terlambat-berobat
Stigma dan Mitos Membuat Perempuan Pengidap Kanker Terlambat Berobat
service

Mubadalah.id – Selain persoalan keterlambatan mencari pengobatan, perempuan pengidap kanker juga dapat menghadapi persoalan sosial berupa stigma. Di sejumlah lingkungan, masih terdapat kepercayaan yang keliru atau takhayul yang mengaitkan penyakit kanker dengan kutukan.

Perempuan yang menderita kanker bahkan dapat dianggap sebagai “perempuan yang dikutuk”. Pandangan semacam ini tidak hanya keliru secara medis, tetapi juga dapat memperburuk kondisi perempuan yang sedang menghadapi penyakit serius.

Stigma tersebut dapat membuat perempuan merasa malu, takut, atau terisolasi. Alih-alih memperoleh dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, perempuan pengidap kanker justru dapat mengalami pengucilan.

Ketika seseorang yang sedang sakit tidak memperoleh dukungan sosial yang memadai, keputusan untuk mencari pertolongan medis juga dapat semakin tertunda.

Pengucilan terhadap perempuan pengidap kanker pada akhirnya bukan hanya persoalan yang harus ditanggung oleh pasien. Dampaknya dapat meluas kepada keluarga dan masyarakat.

Ketika penyakit masih memahami sebagai mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar, masyarakat akan kesulitan mengenali kanker sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Kurangnya pengetahuan mengenai kanker juga dapat menyebabkan seseorang tidak mengenali perubahan pada tubuhnya sebagai tanda yang perlu ia periksa.

Gejala yang seharusnya menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebagai keluhan biasa. Dalam kondisi tertentu, pasien bahkan dapat menunggu hingga rasa sakit semakin berat sebelum memutuskan mencari pertolongan.

Padahal, pemeriksaan kesehatan ia perlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan memastikan kondisi yang seseorang alami. Tidak setiap keluhan atau perubahan pada tubuh berarti kanker.

Namun, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan apakah terdapat penyakit tertentu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Dengan demikian, masyarakat tidak seharusnya menunggu sampai kondisi tubuh memburuk untuk mencari bantuan. []

*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Burns dkk, hlm 498.

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.