Khutbah I
اَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الذي لاَ اله اِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَـيُّومُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ (٩x)
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,
Menjadi keniscayaan bagi kita untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dengan takwa ini kita akan diberikan jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia. Allah SWT berfriman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 2-3).
Selain menguatkan ketakwaan, kita juga harus senantiasa terus bersyukur kepada Allah dalam setiap kondisi apapun. Dalam kondisi senang kita harus bersyukur termasuk dalam kondisi mendapat kesusahan dan bencana, kita juga harus bersyukur. Karena kita harus menyadari bahwa nikmat dari Allah dalam hidup ini lebih banyak dari pada kesusahan yang kita hadapi. Sampai-sampai dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa nikmat yang dianugerahkan kepada kita dipastikan tidak bisa dihitung banyaknya.
Allah berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٨
Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nahl: 18).
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,
Di antara fenomena kesusahan dan bencana yang saat ini kita hadapi saat ini adalah kemarau panjang. Beberapa waktu terakhir ini kita merasakan musim kemarau yang cukup panjang dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Sumber-sumber air mulai berkurang, tanah menjadi kering, tanaman membutuhkan air, dan sebagian masyarakat mulai merasakan kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, kita semakin menyadari bahwa air bukan sekadar kebutuhan, tetapi merupakan rahmat Allah yang sangat besar.
Manusia memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, sumur, pompa, embung, bendungan, dan berbagai sarana untuk mendapatkan air. Tetapi pada akhirnya, kita tetap tidak mampu menciptakan setetes air hujan dari ketiadaan. Kita hanya mampu berikhtiar, sementara Allah-lah yang menurunkan hujan dari langit.
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Artinya: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)
Karena itu, ketika hujan belum kunjung turun dan kekeringan semakin terasa, jangan hanya mengeluh kepada manusia. Mari kita mengadu kepada Allah. Mari kita mengetuk pintu langit dengan doa. Mari kita menundukkan kepala dengan penuh kerendahan hati. Mari kita kembali kepada Allah dengan tobat. Dan mari kita basahi lisan kita dengan memperbanyak istighfar.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Di tengah kondisi kemarau dan kekeringan saat ini, kita juga menyaksikan dan mengalami fenomena alam lainnya. Aktivitas Anak Gunung Krakatau meningkat dan menyemburkan debu vulkanik yang terasa di sejumlah wilayah. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita betapa kecil dan lemahnya kita di hadapan kekuasaan Allah SWT. Tanah yang kita pijak, gunung yang kita lihat, udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan hujan yang kita tunggu semuanya berada dalam kekuasaan Allah.
Karena itu, menghadapi berbagai fenomena alam ini, marilah kita tidak hanya melihatnya sebagai peristiwa alam semata. Jadikanlah ia sebagai momentum untuk bermuhasabah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita bertobat agar Allah menurunkan Rahmat-Nya.
Kita perlu memahami bahwa bukan berarti setiap fenomena alam atau bencana pasti merupakan hukuman atas dosa kita. Kita tidak boleh gegabah menyimpulkan demikian. Namun kita harus mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Ketika alam memperlihatkan kebesarannya, hati kita hendaknya semakin tunduk kepada kebesaran Allah.
Allah SWT mengingatkan:
فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ
Artinya: “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat.” (QS. Al-A’la: 9)
Maka, kemarau mengingatkan kita untuk bersyukur atas nikmat air. Kekeringan mengajarkan kita tentang kebutuhan kepada rahmat Allah. Aktivitas gunung mengingatkan kita tentang kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dan semua itu seharusnya membawa kita kepada satu sikap yakni kembali kepada Allah. Allah berfirman:
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ١٠٩
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,
Allah SWT memberikan salah satu jalan yang sangat indah ketika kita mengharapkan turunnya hujan. Dalam Surah Nuh ayat 10–11, Allah berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Artinya: “Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.”
Maka mari kita hidupkan istighfar. Bukan sekadar di bibir, tetapi dengan hati yang menyesal dan tekad untuk memperbaiki diri. Mari kita tinggalkan kemaksiatan. Mari perbaiki sholat kita. Mari kita perbaiki hubungan dengan sesama. Mari kita kembalikan hak orang lain yang pernah kita ambil. Mari kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Mari kita memperbanyak sedekah dan amal kebajikan. Dan mari kita memohon ampun kepada Allah atas segala kekurangan dan kesalahan kita.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Dalam satu riwayat hadits disebutkan bahwa orang yang memperbanyak istighfar akan diberikan kelapangan rezeki oleh Allah dari jalan yang tak terduga:
عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الْإِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنَ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ.
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kegundahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan Dia (Allah) akan memberikan rezeki untuknya dari jalan yang tidak terduga,” (HR Imam Tirmidzi)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan kemarau ini sebagai momentum memperbanyak istighfar. Mari kita jadikan kekeringan sebagai momentum memperbanyak doa. Mari kita jadikan aktivitas Anak Gunung Krakatau sebagai pengingat untuk semakin tunduk kepada Allah dan sekaligus meningkatkan kewaspadaan serta ikhtiar menjaga keselamatan.
Kita memohon kepada Allah bukan hanya agar hujan turun, tetapi agar hujan yang turun menjadi hujan rahmat, hujan keberkahan, hujan yang bermanfaat, dan hujan yang tidak menimbulkan mudarat.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda.“
Ya Allah, dalam keadaan kami yang lemah, kami datang kepada-Mu. Kami mengakui dosa-dosa kami. Kami mengakui kekurangan kami. Kami mengakui bahwa kami sangat membutuhkan rahmat-Mu.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْحَمْنَا، وَاسْقِنَا غَيْثًا نَافِعًا مُبَارَكًا
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, rahmatilah kami, dan turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat dan penuh keberkahan.”
Ya Allah, turunkanlah hujan-Mu kepada tanah kami yang kering. Suburkanlah kembali sawah dan ladang kami. Penuhilah kembali sumber-sumber air kami. Mudahkanlah masyarakat mendapatkan air untuk kebutuhan kehidupan. Berikanlah keselamatan kepada masyarakat dari dampak kekeringan, debu vulkanik, erupsi, dan berbagai bencana.
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا خَيْرَ مَا عِنْدَكَ بِشَرِّ مَا عِنْدَنَا
“Ya Allah, jangan Engkau haramkan kepada kami kebaikan yang ada di sisi-Mu karena keburukan yang ada pada diri kami.”
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima tobat kita, mengangkat kesulitan kita, mengakhiri kekeringan yang melanda, menurunkan hujan yang penuh rahmat dan keberkahan, serta memberikan keselamatan kepada seluruh masyarakat.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا وَأَغِثْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا وَحَيًا رَبِيعًا وَحَنًا طَبَقًا غَدَقًا مُغْدِقًا عَامًّا هَنِيًّا مَرِيًّا مَرِيعًا مَرْتَعًا وَابِلًا شَامِلًا مُسْبِلًا مُجَلِّلًا دَائِمًا دَرَرًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ رَايِثٍ، غَيْثًا اللَّهُمَّ تُحْيِي بِهِ الْبِلَادَ، وَتُغِيثُ بِهِ الْعِبَادَ، وَتَجْعَلُهُ بَلَاغًا لِلْحَاضِرِ مِنَّا وَالْبَادِ، اللَّهُمَّ أَنْزِلْ فِي أَرْضِنَا زِينَتَهَا، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا فِي أَرْضِنَا سَكَنَهَا، اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا تُحْيِي بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَاسْقِهِ مِمَّا خَلَقْتَ أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ عَلَى رُءُوسِ الظِّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَظُهُورِ الْآكَامِ. آمين يا رب العالمين
Khutbah II
اَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الذي لاَ اله اِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَـيُّومُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ (٧x)
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
—waktu membalik selendang surban dengan menghadap kiblat—
اللهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلاَ تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلاَ مَحْقٍ، وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ هَدْمٍ، وَلاَ غَرقٍ؛ اللهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وبُطُونِ الأَوْدِيَةِ؛ اللهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللهُمَّ اسْقِنا غَيْثًا مُغيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، سَحَّا عَامًّا، غَدَقًا طَبَقًا، مُجَلِّلاً دَائِمًا إلَى يَوْمِ الدِّينِ؛ اللهُمَّ اسْقِنَا الغَيْثَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ؛ اللهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالبِلاَدِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوعِ وَالضَّنْكِ مَا لاَ نَشْكُو إِلاَّ إِلَيكَ؛ اللهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ؛ اللهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا. آمين يا رب العالمين
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung




Comments are closed.