Putri Mahkota Victoria dari Swedia yang merangkap Duta Besar Badan Pembangunan PBB (UNDP) berkunjung ke Indonesia pada tanggal 4-8 September 2026. Di sela-sela agenda padat dengan perwakilan pemerintah, ia menyusuri Terowongan Silaturrahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Ada banyak kejutan yang ia temui di dua tempat ibadah ikonik ini.
Rombongan Putri Mahkota Kerajaan Swedia, termasuk Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Daniel Blockert, tiba di Masjid Istiqlal usai shalat Jumat atau sekitar pukul 15:00 WIB. Sebelumnya mereka mengunjungi Monumen Nasional (Monas) yang letaknya tak jauh dari Masjid Istiqlal. Sang Putri yang mengenakan baju biru polkadot putih didampingi oleh Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, beserta para pengurus masjid.
Ia sejenak berhenti di tempat beduk dan menyimak penjelasan seputar pendirian masjid bersejarah yang arsiteknya seorang Kristiani, Ir. Friedriech Silaban. Menag menjelaskan bagaimana masjid terbesar di Asia Tenggara ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga digunakan untuk beragam kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Kami tunjukkan tadi kepada Putri Victoria penanda waktu sholat dan penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan yang tidak hanya beribadah tapi ada pendidikan, olahraga, business centre, rumah sakit, dan ada penginapan juga di sini. Sesudah sholat Jumat juga seperti biasa kami menyediakan makan gratis kepada seluruh jamaah yang jumlah bisa mencapai 5.000-10.000 orang,” jelas Menag kepada media, Jumat (4/9).
Usai berkeliling kompleks Istiqlal, rombongan bergerak menuju Gereja Katedral di seberang masjid. Menag didampingi oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo beserta pengurus Gereja Katedral. Mereka memasuki ‘Terowongan Silaturrahmi’, penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.
“Di bawah tadi dari arah Istiqlal sekonyong-konyong ia mendengar suara beduk dan dari arah gereja ada suara lonceng gereja. Di tengah-tengahnya itu bersahut-sahutan bunyi tabuhan beduk dan lonceng gereja, ini tak ada di tempat lain. Sejak terowongan dibangun banyak sekali tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istiqlal. Jadi terowongan ini betul-betul menjadi ikon di Indonesia,” ujar Nasaruddin Umar.
Ini mencerminkan kuatnya keberagaman Indonesia, di mana berbagai agama dan tradisi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa memisahkan masyarakat.
Di halaman gereja, Putri Victoria sempat berfoto dengan sejumlah siswi. Sedangkan di dalam gereja ia menyapa beberapa jemaat dan berbincang sejenak dengan ramah.
Kebaktian siang itu sempat terhenti meski tidak menimbulkan gangguan yang berarti bagi jemaat. Namun tak terlihat protokoler yang super ketat di dalam gereja, hanya penjagaan standar untuk tamu negara. Beberapa bahkan ikut mengambil foto sang Putri bersama Menag dan Uskup Agung Jakarta saat mereka berdiri di tengah mimbar.
“Saya baru kali ini melihat ada tamu negara yang mengajak anak-anak berfoto dan ini menarik sekali. Ini berarti ia tak menjaga jarak terhadap siapapun, sangat manusiawi, dan sangat gembira bersama anak-anak,” ungkap Mgr Suharyo.
Putri Victoria Kagum Ornamen Lokal Gereja Katedral
Bangunan gereja Katedral Jakarta memang sederhana jika dibandingkan dengan gereja-gereja Katolik lainnya di Eropa. Tapi yang paling menarik adalah saat sang Putri melihat patung Bunda Maria. Ada apa?
“Di gereja-gereja pada umumnya patung Bunda Maria itu merujuk pada model (patung) buatan Eropa. Tapi patung di sini (Gereja Katedral) modelnya khas Indonesia dan lebih spesifik lagi khas Jakarta. Kalau diperhatikan pada mahkota Bunda Maria itu ada peta Indonesia, ini tidak ada di tempat lain Sedangkan di bros yang tersemat di dadanya itu ada gambar Garuda Pancasila. Pakaiannya juga bukan mantel biasa tapi batik dan pakaian-pakaian tradisional dari berbagai tempat di Indonesia,” jelas Mgr Suharyo.
Pada malam harinya, Putri Victoria mengadakan jamuan makan malam informal bersama sejumlah tokoh perempuan, diantaranya mantan Menlu Retno Marsudi, Direktur Wahid Institute Yenny Wahid, dan Ketua APINDO, Shinta Widjaja Kamdani.
“Sebagai Goodwill Ambassador untuk UNDP, Putri Mahkota Victoria banyak berkontribusi dan mendorong pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, termasuk SDG 6 mengenai akses air dan sanitasi untuk semua orang”, ungkap Retno Marsudi yang kini menjabat Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Air.
Dari Jakarta Putri Mahkota Victoria bertolak ke Lombok. Pada Minggu pagi (6/9), ia menyaksikan langsung upaya-upaya konservasi terumbu karang dan ekosistem laut yang sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir, antara lain pariwisata yang berkelanjutan, perikanan, serta aktivitas ekonomi lain yang bergantung pada ekosistem laut yang sehat. Putri Victoria juga akan mengunjungi masyarakat korban gempa 2018 yang proses rekonstruksinya didukung UNDP.
“Ia justru ingin mengetahui realitas yang sesungguhnya dan program yang dikunjunginya itu di Lombok. Putri Mahkota berkenan mengunjungi tempat-tempat yang jauh yang barangkali belum dikunjungi oleh pemimpin kita sendiri. Ini sangat menarik karena kemanusiaanlah yang mempersatukan kita, bukan yang lain-lain,” ujar Mgr Suharyo.





Comments are closed.