Wed,9 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

kisah-perjodohan-yang-salah-kaprah,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-selatan
Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
service

9 September 2026 13.00 WIB • 2 menit

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Magnific AI


Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang mengisahkan kisah perjodohan salah kaprah di daerah Rura. Daerah Rura ini dikenal sebagai salah satu tempat yang subur dulunya.

Hal ini membuat masyarakat yang ada di sana hidup dengan makmur dan tentram. Namun sayang, kenyamanan ini membuat mereka mulai meninggalkan norma yang sudah berlaku sejak lama.

Akibatnya masyarakat yang ada di sana mendapatkan teguran dari perbuatan tersebut. Lantas bagaimana kisah dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Dikutip GNFI dari buku Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu daerah Rura dikenal sangat subur tanahnya. Banyak sekali hasil bumi yang dihasilkan dari daerah tersebut.

Hal ini membuat masyarakat yang ada di Rura hidup serba kecukupan. Tidak hanya dikaruniai hasil alam yang melimpah, mereka pun bisa mendapatkan kekayaan dari sana.

Tidak heran banyak orang-orang di Rura memiliki harta berlimpah sejak dulu. Akibatnya ada segelintir masyarakat yang mulai melupakan norma-norma yang berlaku sejak lama.

Karena memiliki kekayaan berlimpah, sering kali orang-orang Rura melakukan pesta secara besar-besaran. Bahkan pesta tersebut bisa mereka lakukan selama berhari-hari lamanya.

Pada waktu itu, hiduplah sebuah keluarga di Rura. Keluarga ini dipimpin oleh Londong dan istrinya, Kombong.

Londong dan Kombong memiliki dua orang anak. Anak sulungnya adalah laki-laki.

Di sisi lain, anak bungsunya adalah perempuan. Setelah sekian lama, kedua anaknya ini mulai tumbuh dewasa.

Ketika mereka dewasa, muncul sebuah keinginan dari Londong dan Kombong. Mereka ingin menjodohkan kedua anaknya itu untuk saling menikah antara satu sama lain.

Masyarakat yang ada di sana memaklumkan hal itu begitu saja. Sebab sudah lama norma-norma tidak diterapkan di sana.

Akibatnya pernikahan antara dua orang saudara dianggap wajar begitu saja. Bahkan pesta pernikahan pun dipersiapkan secara besar-besaran.

Semua masyarakat diundang oleh Londong dan Kombong untuk menghadiri pernikahan anak mereka. Tepat pada hari yang sudah direncanakan, pesta pernikahan pun diselenggarakan dengan sangat meriah.

Pesta ini berlangsung selama berhari-hari lamanya. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa dan pesta tersebut berjalan dengan normal.

Namun keanehan muncul saat hari terakhir pesat digelar. Pesta ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara.

Saat pesta tengah berlangsung, tanah tempat pesta tersebut diadakan tiba-tiba tenggelam. Akibatnya ada beberapa orang yang menghadiri pesta tersebut tidak bisa selamat dan menemui akhir hidupnya di sana.

Londong dan Kombong selamat dari peristiwa itu. Kabar ini tersiar cepat ke seluruh masyarakat yang ada di Rura.

Mereka pun menduga jika kejadian ini terjadi akibat perilaku keluarga tersebut. Londong dan Kombong yang menjodohkan kedua anaknya diduga memancing amarah dari Tuhan.

Akhirnya masyarakat bermusyawarah untuk mencari solusi dari kejadian itu. Mereka kemudian mengundang pemuka masyarakat yang berada di daerah utara.

Beberapa hari kemudian, datangkan dua orang pemuka masyarakat ke Rura. Mereka kemudian menjelaskan apa yang dilakukan di sana sudah melanggar norma dan aturan adat yang berlaku sejak lama.

Kedua pemuka masyarakat ini kemudian meminta mereka untuk mengadakan pesta pengorbanan. Pesta ini menjadi wujud permohonan ampun kepada tuhan.

Akhirnya masyarakat yang ada di Rura mengikuti perkataan dari kedua pemuka masyarakat tersebut. Mereka pun sudah mulai takut kepada Tuhan dan menerapkan kembali norma-norma yang ada di sana.

Sejak saat itu, kesuburan tanah Rura makin bertambah. Masyarakat yang ada di sana pun makin hidup makmur dan aman bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.