Pagi di Pondok Pesantren Selamat selalu dimulai dengan harmoni yang unik. Suara santri mengaji bersahut dengan gemericik air Kali Bening yang mengalir dengan tenang di lingkungan pondok.
Di sela-sela waktu belajar itu, beberapa santri sibuk menanam sayur dan memelihara ikan di kolam. Sekarang, puluhan tangkai cabai yang ditanam di tepian saung, tampak mulai tua dan siap dipanen.
Di sinilah, di bawah bimbingan Kiai Abdurrosyid Ahmad para santri belajar satu hal penting: Bahwa ilmu agama dan kemandirian hidup tak bisa dipisahkan.
“Pondok Pesantren Selamat itu sendiri kepanjangan dari Sekolah Alam dan Kemanusiaan Terbuka,” kata KH. Abdurrosyid. “Ini sekolah kehidupan. Hidup di dunia sekarang dan hidup nanti di akhirat. Dua-duanya harus kita tempuh dan kita hidupi.”
Pondok Pesantren Selamat berdiri dengan gagasan sederhana, yaitu menjadikan alam dan masyarakat sebagai ruang belajar utama. Metode belajarnya tak hanya mengandalkan buku dan ceramah di dalam pondok, tetapi juga praktik dan interaksi langsung di lapangan dengan masyarakat.
Santri belajar memahami ilmu agama Islam, sekaligus mempraktikkan keterampilan wirausaha dengan menanam aneka sayuran. Beternak, membuat sabun dan sampo, membatik, hingga memproduksi kerajinan kayu, hingga memasarkannya.

Di Pondok Pesantren Selamat 1 di Kelurahan Kramat Utara Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, santri dibekali keterampilan usaha. Dari lahan sederhana di pinggir kolam ikan dan saluran Kali Bening, tumbuh sayur-sayuran yang mereka tanam sendiri. Hasil panen sayuran digunakan untuk menopang kebutuhan utama dapur pondok pesantren.
“Paling tidak cukup untuk kebutuhan sendiri sehari-hari,” ujar Kiai Abdurrosyid. “Skalanya memang kecil, tapi nilainya besar. Belajar memenuhi hajat hidup sendiri secara mandiri.”
Islam yang Mandiri
Pondok Pesantren Selamat 1 berdiri pada 2009. Pada tahun awal itu pondok menjadi mata rantai pertama bagi Kiai Abdurrosyid menyebarkan ajaran Islam yang mandiri. Dia mengajarkan santri untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan sendiri dan berbagi dengan lingkungan sekitar.
Ide dan langkah nyata terus berkembang, hingga tahun 2024 ketika Kiai Abdurrosyid melanjutkan pembangunan Pondok Selamat 2 di Dusun Ngepoh, Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.
Berbeda dengan Pondok Pesantren Selamat 1, para santri di Pondok Pesantren Selamat 2 menjadi subyek laboratorium kewirausahaan yang memprioritaskan keterampilan mengolah kayu.
Di bengkel kriya yang mereka kelola, santri belajar membelah kayu, membuat flooring dan decking kayu, dekorasi kayu pelapis tembok, interior, hingga membuat palet kayu untuk kebutuhan industri.
“Anak-anak sudah terbiasa melakukan kerja sekecil apa pun,” ucapnya bangga. “Interior rumah dan pondok ini pun hasil karya santri sendiri.”
Kini, Pondok Selamat 2 mulai merintis pusat pembelajaran pertanian dan peternakan kecil. Sayuran, ayam, bebek, dan mentok dibudidayakan secara mandiri. Semua diarahkan agar santri terbiasa berpikir solutif dan bertindak produktif.
Belajar dari Alam untuk Sesama
Bagi Kiai Abdurrosyid, pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan, tapi soal karakter dan tanggung jawab sosial. Pondok Pesantren Selamat menanamkan nilai kebersamaan lewat hal-hal sederhana. Contohnya makan bersama, gotong-royong (roan) dan membantu hajat warga sekitar.

“Pendidikan harus menumbuhkan etika dan kepedulian sosial. Bukan hanya menghasilkan orang pandai, tapi manusia yang tahu makna dan menerapkan nilai hidup bersama,” katanya.
Konsep ini menjadikan Pondok Pesantren Selamat bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tapi ekosistem sosial tempat nilai-nilai kemanusiaan tumbuh alami.
Santri Pondok Pesantren Selamat 1 terlibat aktif pada pergelaran budaya tahunan, Festival Kali Kota sejak tahun 2017. Berkolaborasi dengan Padepokan Gunung Tidar, memproduksi batik pewarna dan teknik alami bersama desainer Suhartini.
Secara rutin pengurus pondok dan santri membuka program sedekah minyak jelantah yang kemudian diolah menjadi bahan dasar sabun dan sampo.
Lahir di Kota Semarang, Kiai Abdurrosyid tumbuh dalam pendidikan dan tradisi pesantren. Kali pertama beliau nyantri di Pondok Pesantren Al Itqon dan Madrasah Diniyah Al Wathoniyah, Bugen, Kota Semarang.
Setelah menamatkan pendidikan formal di SMA Pembangunan Mranggen, Demak, Abdurrosyid melanjutkan studi ke IAIN Walisongo Semarang dan STAINU Purworejo dengan fokus pada Akidah-Filsafat dan Pendidikan Agama Islam.
Cerdas Akademik dan Sosial
Perjalanan studi akademik-nya berlanjut ke Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tempat ia meraih gelar magister religi dan budaya. Jenjang S2 diraihnya setelah berhasil lulus sidang tesis “Metodologi dan Ideologi Al-Mawardi dalam Kitab Al Ahkam Al Sulthaniyah”.
Sebagai insan yang haus ilmu, KH Abdurrosyid kini sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Wahid Hasyim Semarang dengan desertasi, “Pengembangan Bahan Ajar dan Pembelajaran Moderasi Beragama Berbasis Paradigma Konstruktifisme dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XI SMA/SMK di Kota Magelang”.
Kedalaman akademik itu berpadu dengan pengalaman sosial di lapangan. Sebagai Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam pada Kantor Kementerian Agama Kota Magelang, KH Abdurrosyid memandang profesinya sebagai Pegawai Negeri Sipil bukan sekadar tugas formal kedinasan, melainkan juga amanah pengabdian.
“Negara sudah menjamin kesejahteraan PNS,” tuturnya. “Maka tanda syukur kita adalah bekerja dan mengabdi sepenuh hati. PNS semestinya tidak hanya hadir di tempat tugas untuk menunaikan kewajiban, tapi harus dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.”
Di mata Abdurrosyid, membangun bangsa harus dimulai dari membangun spiritualitas dan kemandirian. Karena itulah Pondok Selamat berdiri dan berkembang bukan dengan kemewahan, tapi dengan semangat keimanan, kemandirian, serta gotong royong untuk mencapai kemaslahatan bersama.
Filosofinya terumuskan dalam visi: “Berbasis Kearifan Membangun Kualitas Kehidupan.” Proses pendidikannya dapat digambarkan sebagai konsep belajar Ki Hadjar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.
Baginya, pendidikan harus melahirkan karakter kepemimpinan sejati. Hadir di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan.
Khalifah di Bumi
Tujuan akhir pendidikan di Pondok Pesantren Selamat bukan hanya mencetak santri cerdas dan paham ilmu agama, tetapi mewujudkan manusia paripurna yang bertugas menjadi khalifah yang sadar akan tanggung jawabnya terhadap Tuhan Sang Pencipta, menjaga bumi dan merawat semesta.
Dari ladang sederhana di Magelang, nilai-nilai itu tumbuh setiap hari menjadi semangat iman, ilmu, kerja, dan kasih pada kehidupan. Kiai Abdurrosyid menutup perbincangan dengan kalimat yang sarat makna dan mendalam:
“Kalau kau ingin membangun kualitas bangsa, mulailah dari dirimu sendiri. Dari menanam dan menabur iman, lalu menjadi pribadi pembelajar, produktif bekerja, dan selalu berbagi kepada sesama.” (Budi)
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama





Comments are closed.